KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#223


__ADS_3

Malam beranjak larut. Takbir Layla terdengar lirih mengisi hening dalam kamarnya. Berkunjung ke pondok pesantren Al-aziziyah sore tadi sembari menyaksikan di setiap ia melangkah, setiap santri asik dengan hafalan masing-masing. Para remaja cantik, dimana ketika para remaja seusia mereka asik menghabiskan masa muda mereka di luar sana, mereka seperti tak peduli bagaimana dunia luar mereka. Mereka seperti sangat menikmati setiap ayat-ayat Al-qur'an yang mereka hafalkan. Terlepas apakah awalnya mereka terpaksa mondok karna takut orang tua mereka atau tidak, yang jelas, dari terpaksa akhirnya jadi terbiasa, hingga berujung menikmati.


Sepertinya ia menginginkan dunia seperti itu. Raut muka bahagia dari kedua orang tuanya, membuat ia ingin mempercepat waktu. Waktu saat ia berhasil dan membuat bangga keduanya. Tak perlu menunggu waktu lama. Ia telah mantap, besok pagi ia ingin segera berangkat mondok. Dia punya cita-cita baru yang ingin ia mulai secepatnya. Tak perlu menunda kebaikan jika masih bisa dikerjakan secepatnya.


* * * * *


Burung tekukur di depan teras rumah, terdengar merdu mengawali pagi. Cuaca pagi ini tiba-tiba mendung. Hawa tak seperti biasanya. Terasa dingin. Tuan Guru Izzul Islam yang biasanya bersantai di depan teras menikmati susu kambing hangat kesukaannya, hanya mampir sebentar memeriksa makanan burung tekukur, kemudian langsung masuk ke dalam rumah.


Mengetahui kedatangan Tuan Guru Izzul Islam lewat deheman khasnya, Rianti dan Jamila yang sedang menyiapkan makanan bersama Nur Jamila dan Suhaini, langsung menyeduh susu kambing di atas meja dan membawanya. Rianti yang hendak keluar menuju teras rumah urung membuka pintu karna melihat Tuan Guru Izzul Islam berbaring di sofa dengan kedua kaki di tutupi sajadah.


Rianti tersenyum. Setelah meletakkan minuman di atas meja kaca, ia duduk di dekat kaki Tuan Guru Izzul Islam.


"Kak Tuan sakit?" kata Rianti.


"Gak, cuma dingin saja,"


Rianti bangkit. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah menuju kamarnya. Setelah mengambil selimut di atas tempat tidur, ia kembali lagi menemui Tuan Guru Izzul Islam. Selimut yang dibawanya kemudian digelarnya menutupi tubuh Tuan Guru Izzul Islam.


Hangatnya selimut yang menutupi tubuhnya, membuat Tuan Guru Izzul Islam beberapa kali terlihat menguap. Matanya merah. Ia terlihat sangat mengantuk.


"Kak Tuan tidur di kamar saja. Nur Jamila dan Suhaini ada di dapur, nanti mereka malu lewat sini," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menyingkirkan selimut di tubuhnya dan perlahan mengangkat tubuhnya. Karna hari ini masih waktu gilir Jamila, Rianti mengantarnya ke kamar Jamila.


Matahari belum terlihat muncul di ufuk timur. Awan hitam masih enggan bergerak meninggalkannya. Masih bulan Juni. Ini musim pertengahan kemarau. Masih terlalu dini jika hujan turun. Tapi akhir-akhir ini cuaca sulit diprediksi. Tidak ada yang tidak mungkin. Pemanasan global telah mengacaukan beberapa jadwal alam yang dulunya tertata rapi.


Inak Nurmah menepuk pundak tukang ojek yang membawanya ke pondok pesantren ketika sampai sekitar lima meter dari pintu gerbang rumah kediaman Tuan Guru Izzul Islam. Setelah memberikannya ongkos ojek, ia berhenti sejenak menatap ke halaman rumah. Masih terlihat seperti ketika dua kali ia datang. Pintu rumah tampak tertutup. Demikian juga pintu gerbang. Dia mendengar suara ramai, tapi mungkin suara-suara santri di dalam pesantren.


Inak Nurmah mengarahkan pandangannya ke arah kamar kecil yang berada di samping depan rumah besar itu. Kalau tidak salah, di kamar itulah ia melihat anak muda yang memberikannya makan dan uang itu keluar. Ada baiknya ia kesana dan mengucap salam. Setidak-tidaknya, jika Tuan Guru Izzul Islam tidak ada di rumah, dia akan membukakannya gerbang dan mengijinkannya duduk di teras itu sambil menunggu Tuan Guru Izzul Islam pulang.


Inak Nurmah mendekat. Ia mulai mengucap salam ketika sampai di depan gerbang. Tapi lagi-lagi suaranya yang lemah sudah bisa dipastikan tidak akan di dengar siapapun di dalam rumah.


Inak Nurmah membungkuk berat dan mengambil sebuah batu. Setelah itu, ia mulai memukul-mukulkan batu itu di pintu gerbang.


"Kayaknya ada yang mukul-mukul sesuatu di luar rumah. Suhaini, coba kamu lihat keluar," kata Rianti.


"Biar saya saja. Biar Suhaini lanjutkan pekerjaannya," tawar Jamila. Karna Azka langsung menangis ketika melihatnya melangkah, ia kemudian menggendongnya dan segera bergegas menuju ruang tamu.

__ADS_1


Jamila menyibak sedikit kelambu yang menutupi jendela ruang tamu. Diperhatikannya inak Nurmah yang berdiri di depan gerbang. Sesekali dipukulkannya batu di tangan ke pintu gerbang. Jamila mengerutkan keningnya. Abdul khalik sedang tidur atau mungkin sedang tidak ada di kamarnya sehingga tak mendengar suara pukulan itu.


Jamila menoleh ke arah Azka. Jamila tersenyum. Perlahan ia menurunkan tubuh Azka dari gendongannya.


"Kamu tunggu ibu di sini dulu ya,Nak. Ada tamu di luar. Sebentar saja ya," kata Jamila. Azka mengangguk. Jamila mengacak-acak rambutnya.


"Anak pintar," kata Jamila. Ia kemudian membua pintu dan melangkah pelan mendekati inak Nurmah. Inak Nurmah terlihat senang ketika melihat Jamila mendekat ke arahnya. Batu di tangannya dilepaskannya.


"Assalamualaikum. Cari siapa, Bu," sapa Jamila lembut. Ia ingin membukakan inak Nurmah gerbang, tapi kuncinya dipegang Abdul khalik.


"Aduh, maaf, Bu. kunci gerbangnya dibawa santri. Aduh, gimana ini, Bu," kata Jamila.


"Gak apa-apa, Nak. Ibu cuma ingin tahu, apa Mukaromnya ada di rumah?" tanya inak Nurmah. Jamila mengerutkan keningnya.


"Siapa, Bu?" tanya Jamila mempertegas.


"Saya cari Mukarom, Nak," jawab inak Nurmah.


"Mukarom?"


"Anaknya mondok di sini, Bu," tanya Jamila.


"Bukan. Dia pemilik rumah ini," jawab inak Nurmah tegas. Jamila memperhatikan wajah inak Nurmah. Dari sekian wali santri yang pernah dilihatnya, dia tidak pernah melihat perempuan itu.


"Tunggu sebentar ya, Bu. Saya mau panggil santri dulu. Ingat, ibu jangan kemana-mana," kata Jamila. Inak Nurmah menganggukkan kepalanya. Jamila segera bergegas kembali masuk ke dalam rumah.


"Siapa, Jamila," tanya Rianti ketika melihat Jamila kembali menggendong Azka menuju dapur.


"Gak tahu juga. Ada orang tua. Katanya mau cari Mukarom. Kalian berdua ada yang tahu gak siapa yang namanya Mukarom," kata Jamila kepada Suhaini dan Nur Jamila. Keduanya saling pandang, mencoba mengingat-ingat kemungkinan mereka mengenal nama itu.


"Gak tahu juga, Bu Nyai. Mungkin kak Abdul khalik kenal," kata Suhaini.


"Itu masalahnya, Abdul khalik kayaknya gak ada di kamarnya. Kasihan, ibunya gak bisa masuk," kata Jamila.


"Kunci gerbangnya biasa di taruh Abdul khalik di atas pintu kamarnya, apa kamu sudah mengeceknya?" kata Rianti. Jamila menggeleng.

__ADS_1


"Ayo, kalian berdua ikut aku. Mungkin kalian kenal ibu itu," kata Jamila kepada keduanya. Ia lalu memberikan Azka kepada Rianti. Ia kemudian mengajak Nur Jamila dan Suhaini keluar menemui perempuan itu.


Suhaini dan Jamila saling pandang ketika sampai di depan pintu dan melihat ke arah inak Nurmah.


"Inak?" kata keduanya serempak. Keduanya segera berlari menuju gerbang. Melihat itu, Jamila mengerutkan dahinya. Ia hanya berdiri di depan pintu. Mengetahui Nur Jamila dan Suhaini mengenal perempuan itu, ia memanggil Suhaini.


"Suhaini, coba kamu cari kunci gerbang di atas pintu kamar Abdul khalik. Ajak ibu masuk," kata Jamila. Suhaini segera bergegas mencari kunci. Setelah menemukannya, ia segera membukakan inak Nurmah pintu gerbang. Inak Nurmah kemudian diajaknya masuk.


"Ayo, ambilkan ibu minuman dingin dan makanan di kulkas," kata Jamila kepada Suhaini ketika inak Nurmah telah duduk di sofa. Ia kemudian duduk di samping inak Nurmah.


"Kamu kenal ibu ini, Nur?" tanya Jamila kepada Nur Jamila yang masih berdiri di dekat pintu. Nur Jamila mengangguk.


"Geh, Bu Nyai. Beliau adalah ibunya Zulhiyani. Dia dulu pernah mondok di sini. Kami bertiga dulu sering menemani almarhum Nyai Mustiani di kamarnya," jawab Nur Jamila. Jamila menganggukkan kepalanya. Jamila menoleh ke arah inak Nurmah. Tangan inak Nurmah disentuhnya lembut.


"Tapi, tadi ibu mau cari siapa?" kata Jamila.


"Mau cari Mukarom, Nak," jawab Inak Nurmah. Jamila kembali menoleh ke arah Nur Jamila. Ia mengangkat kedua alisnya, seperti mencari penjelasan dari Nur Jamila. Nur Jamila tersenyum.


"Maksud ibu mungkin Al-mukarom, Bu Nyai. Inak biasa memanggil Tuan Guru dengan sebutan itu," kata Nur Jamila. Jamila manggut-manggut sambil tersenyum.


"Ow, jadi inak mau ketemu Al-Mukarrom?" tanya Jamila kepada inak Nurmah. Inak Nurmah tersenyum.


"Sekarang Mukaromnya masih istirahat. Ibu tunggu saja di sini ya. Anggap rumah sendiri. Kita makan dulu," kata Jamila.


Inak Nurmah mendesah panjang. Ia terdiam sejenak. Setelah itu ia menoleh ke arah Jamila.


"Saya gak boleh lama-lama meninggalkan rumah, Nak. Anak saya sendirian di rumah. Dia sedang sakit," kata inak Nurmah.


"Maksud ibu, Zulhiyani sakit?" tanya Nur Jamila ketika inak Nurmah menyebut anaknya. Dari tadi ia menunggu saat yang tepat untuk menanyakan keadaan Zulhiyani.


Kembali inak Nurmah mendesah panjang.


"Sudah setahun, Nak. Itu sebabnya ibu mau ketemu Mukarom. Mau minta doa untuk kesembuhan anak saya." kata inak Nurmah. Sedikit air mata yang terlihat di sudut matanya, diusapnya dengan ujung selendang yang melilit kepalanya. Jamila mengusap-usap punggung inak Nurmah.


"Sebentar ya, Bu. Saya mau bangunkan mukarom dulu. Ayo, Nur, kamu duduk di sini temani ibu," kata Jamila. Ia kemudian bangkit dan pergi ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2