KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#70


__ADS_3

Mobil volvo xc 90 silver terihat memasuki gerbang rumah setelah terdengar bunyi bel beberapa kali. Terlihat seorang laki-laki bertubuh tambun pendek keluar dari dalam mobil.


Pak Efendi." desah Castella dengan senyum senang.


Castella yang berdiri di atas balkon rumah tersenyum dan memberi isyarat kepada satpam agar mengantar pak Efendi ke atas. Castella segera membalikkan tubuhnya dan bergegas menyambut pak Efendi di ruang tamu.


"Selamat datang, Pak," kata Castella. Ia menyodorkan tangannya. Pak Efendi menyambutnya dan mengecup punggung tangan Castella. Castella tersipu malu.


"Silahkan duduk, Pak," kata Castella mempersilahkan duduk.


"Hei, kamu ke dapur. Buat minuman untuk bapak," lirik Castella kepada Satpam yang masih berdiri di belakang pak Efendi.


"Gak usah dik Castella." Castella tersipu malu pak Efendi memanggilnya dik.


"Saya punya minuman di mobil. Tolong ambilkan ya, sekalian dengan gelasnya," kata pak Efendi sambil menoleh ke belakang. Satpam itu segera bergegas menuju mobil. Tak beberapa lama kemudian ia kembali dengan membawa sebotol minuman yang dibungkus kain hitam dan dua buah gelas.


"Ini sengaja saya bawa untuk bersulang kita, Dik Castella," kata pak Efendi sambil mengeluarkan botol wine berwarna merah dari bungkusnya. Castella memperhatikan minuman itu. Dia tak pernah melihat minuman itu, bahkan di rak koleksi minuman Yulian Wibowo.


"Fenpolds grange hermitage"


Castella membaca dalam hati tulisan yang tertera dalam botol. Ia mendesah sembari mengangkat kedua alisnya.


"Ini anggur merah dari Australia, Dik Castella. Ini anggur termahal di dunia. Minuman ini di lelang pada tahun 2004 dengan harga 38.420 dolar US perbotol. Kalau di rupiahkan sekitar...," Pak Efendi mengetuk-ngetuk keningnya dengan jarinya.


"Sekitar 534 juta rupiah perbotolnya. Anggur ini telah di simpan sejak tahun 1951 di Australia. Setara dengan rasanya yang luar biasa," sambung pak Efendi. Ia lalu menuangkan wine itu ke dalan dua gelas di depannya dengan sangat hati-hati. Dia seperti tak mau setetespun anggur itu menetes di luar gelas.


Castella menggeleng-gelengkan kepalanya.


Wow, amazing!" pujinya takjub.


Pak Efendi tersenyum. Setelah menutup botol minuman, ia lalu menyerahkan satu gelas di depannya kepada Castella. Castella menggerakkan kepalanya agar satpam yang masih berdiri di belakang pak Efendi agar keluar. Satpam itu membungkukkan kepalanya lalu keluar.


"Silahkan dicoba, Dik Castella. Meminum ini seperti memasukkan 534 juta rupiah ke dalam tenggorokan kita," kata pak Efendi.

__ADS_1


"Uang memang perkara dunia yang paling nikmat untuk dibahas, bahkan setelah ia lebur dalam minuman ini," sambung pak Efendi. Ia menyodorkan gelas ditangannya dan menyentuhkannya pelan ke gelas Castella. Ia lalu meneguk minumannya sampai habis. Lidahnya ia julurkan ke seluruh permukaan bibir hitamnya, seperti tak ingin ada yang tersisa. Castella tersenyum dan ikut meneguk minumannya.


"Aagh..., luar biasa, Pak Efendi. Nikmatnya minuman ini akan senikmat kerjasama kita hari ini hingga hari selanjutnya," kata Castella. Ia mengacungkan jempolnya.


"Ok, kita langsung saja ke pokok pembicaraan kita. Apa yang harus saya lakukan untuk Dik Castella, dan keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari kerjasama ini," kata pak Efendi setelah memperhatikan jam rolex di tangannya.


Castella mendesah. Ia menyandarkan tubuhnya mantap di kursi.


"Banyak, banyak sekali, Pak Efendi. Salah satunya, Pak Efendi akan saya kasih salah satu perusahaan saya sebagai ucapan terimakasih saya untuk kerjasama ini," kata Castella.


Pak Efendi mengernyitkan dahinya. Ia mengangguk-angguk kecil.


"Penawaran yang bagus. Saya tertarik, Dik Castella. Dan dari awal, memang saya melihat ada kejanggalan saat terjadi keributan di kantor beberapa hari lalu. Bagaimana mungkin, ibu sebagai istri sah pak Yulian Wibowo bisa tidak mendapatkan apa-apa dari perusahaan. Dari analisa itulah, saya berkesimpulan untuk menerima tawaran Dik Castella untuk bekerjasama," kata pak Efendi.


"Yah, inilah kenyataannya, Pak. Mereka telah bersekongkol untuk menguasai aset milik almarhum suami saya. Sejak awal kita bertemu, saya sudah yakin Pak Efendi adalah orang yang cerdas," kata Castella. Lagi-lagi ia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


"Tapi masalahnya, saya sudah tidak punya uang untuk menyewa pengacara handal jika ingin menggugat mereka," sambung Castella dengan nada lemah.


Pak Efendi mengeluarkan sebungkus rokok dari balik jasnya. Ia mengeluarkannya sebatang dan menyulutnya. Ia menjentikkan bungkus rokok di depannya dengan jari telunjuknya dan mengarah ke depan Castella. Castella tersenyum. Mengambilnya sebatang dan kemudian menyulutnya. Dalam sekejap, asap rokok mengepul memenuhi ruangan. Pak Efendi menyandarkan tubuhnya. Satu kakinya dinaikkan di atas kakinya yang lain. Ia mempermainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya.


"Tentu, Pak. Itu pasti," sahut Castella cepat. Ia mengangguk penuh harap.


"Besok, saya akan mengutus salah satu staf saya untuk menjemput Dik Castella ke kantor saya. Lebih cepat, lebih baik," kata pak Efendi mantap. Ia kembali menghisap rokoknya.


Suasana sejenak hening. Belum ada pembicaraan lagi antara mereka. Masing-masing saling menatap satu sama lain. Pak Efendi yang sudah menahan nafsunya sejak Castella membisikinya sesuatu yang indah di akhir perbincangan mereka di telpon beberapa jam lalu. Juga saat rapat beberapa hari lalu di kantor perusahaan milik Castella, membuat dadanya bergemuruh. Mata biru Castella, juga hidungnya yang mancung membuatnya tak sabar ingin menikmatinya. Hitung-hitung ia bisa membayangkan sedang bercengkrama dengan artis bule. Castella yang sudah mengerti gelagat pak Efendi, segera tanggap. Ia mulai menggerak-gerakkan badannya ke sana kemari dengan tatapan genit. Bajunya yang telah terbuka bagian atasnya, sengaja ia turunkan lagi hingga memperlihatkan sesuatu yang besar menyembul dari baliknya. Darah pak Efendi berdesir. Ia benar-benar sudah tak tahan.


Castella bangkit. Tanpa berkata apapun, ia berjalan pelan dengan lenggok kesana kemari menuju pintu. Pak Efendi yang sudah mengerti isyarat dari Castella, segera bangkit dan mengikuti Castella dari belakang menuju kamarnya. Kepalanya menggeleng-geleng ketika melihat pantat besar Castella berlenggok berirama.


* * *


Terdengar klakson mobil dari luar pintu gerbang. Satpam yang sedang duduk asik di pos jaganya segera bangkit dan membuka gerbang. Ia tampak sedang terlibat percakapan dengan dua orang laki-laki berambut gondrong yang duduk di bagian depan mobil. Satpam itu mulai memperhatikan keduanya penuh selidik.


"Maaf, mau cari siapa,Pak," kata satpam sambil memperhatikan dua orang laki-laki berwajah sangar itu.

__ADS_1


"Saya mau bertemu bu Castella, Pak. Apa ibu ada di rumah? tanya salah satu dengan ramah.


"Ada di dalam, Pak. Cuma ibu lagi ada tamu," kata satpam.


"Ini penting sekali, Pak. Kami minta tolong agar memberitahu ibu kedatangan kami. Ini terkait bu Rianti,"


Satpam itu menoleh ke arah rumah. Ia menganggukkan kepalanya.


"Saya coba dulu, Pak," katanya. Ia segera melangkah menuju rumah.


Satpam itu terdiam ketika tidak menemukan siapa-siapa di ruang tamu. Hanya ada dua gelas dan sebotol minuman. Sejenak ia menatap ke arah botol minuman. Sebotol minuman yang ia dengar tadi sangat mahal. Ia penasaran bagaimana rasanya. Ia lebih mendekat dan membuka tutup botol. Ia lalu menuangkan sedikit ke dalam gelas lalu meminumnya.


"Puih! Minuman apa ini. Seperti nasi basi," kata satpam itu meringis sambil berkali-kali meludah.


"Setan. Dasar orang gila. Beli minuman kok sombong. Menghambur-hamburkan uang saja," gerutunya sambil naik ke tingkat atas.


* * *


"Terus, terus, ayo dorong terus Pak Efendi. Jangan berhenti. Buktikan kalau Pak Efendi memang perkasa," kata Castella sambil terus menggeliat di atas ranjangnya. Pak Efendi yang sudah mempersiapkan diri untuk bertempur habis-habisan terus meliuk-liuk di atas tubuh Castella. Keringatnya bercucuran dan berkumpul di perut buncitnya.


Tok...tok...tok...


Terdengar ketukan pintu dari luar. Pak Efendi menghentikan gerakannya. Ia menatap Castella. Wajah Castella tampak kesal menatap ke arah pintu.


"Kurang ajar. Siapa itu!" teriak Castella.


"Saya, Bu," jawab seseorang dari luar. Castella mengenal suara itu. Itu membuatnya semakin kesal.


"Anjing kamu. Satpam goblok. Mau apa, Kamu," teriak Castella. Menyadari itu adalah satpam Castella, pak Efendi kembali melanjutkan aktifitasnya. Ia tak peduli lagi dengan kekesalan Castella.


"Ada tamu, Bu. Katanya penting. mereka membawa berita tentang non Rianti," jawab satpam dengan suara terdengar bergetar.


"Agh! Suruh mereka tunggu di ruang tamu. Kurang ajar! awas kamu. Saya akan hukum kamu. Sekarang, pergi sana!" teriak Castella.

__ADS_1


Castella memegang kepala pak Efendi. Ia kembali menggeliat seiring semakin cepatnya pak Efendi menggerakkan tubuhnya. Seluruh tenaganya seperti berada pada puncaknya. Hingga tak lama kemudian, teriakan keras Castella mengiringi terhempasnya tubuh pak Efendi di samping tubuh Castella. Ia mendesah lemah.


__ADS_2