KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#99/Bertemu dengan perempuan berkerudung biru motif batik.


__ADS_3

Tuan Guru Izzul Islam yang berdiri di anak tangga masjid memperhatikan santri yang sedang bermain bola di tengah guyuran hujan, menoleh ketika terdengar salam dari arah belakang. Seorang perempuan berkerudung biru motif batik dengan membawa Al-quran yang ia dekap di dadanya, terlihat menundukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya dan melangkah menemuinya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mempersilahkan perempuan itu duduk setelah ia sendiri duduk di depan meja kecil tempat ia meletakkan Al-qur'annya.


Tuan Guru Izzul Islam membuka lembar mushaf di depannya. Tatapan matanya terhenti di surat Ar-rum ayat 21. Setelah menghela nafas panjang, Ia mulai membacanya. Suaranya yang merdu dan jelas, mengalahkan suara hujan yang turun. Perempuan berkerudung biru motif batik memejamkan matanya penuh penjiwaan mendengarkan lantunan indahnya. Dari mulutnya terdengar takbir yang diucapkan dengan suara lirih.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Perempuan berkerudung biru motif batik masih menundukkan wajahnya.


"Bacakan aku artinya, Tuan Guru," kata perempuan itu. Tuan Guru Izzul Islam mengambil nafas panjang. Sebelum memberitahukan artinya, terlebih dahulu Ia mengulangi bacaannya.


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”


"Subhanallah!" ucap perempuan berkerudung biru motif batik sembari berdecak kagum. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan menatap perempuan berkerudung biru motif batik.


"Sekarang, bacalah olehmu ayat mana saja yang ingin kamu baca. Aku akan mendengarkannya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Perempuan berkerudung biru motif batik mengangguk pelan. Tangannya mulai membuka lembar demi lembar Al-qur'an di depannya. Ia menunjuk ke baris pertama lembar yang dibukanya.


"Surat apa itu?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Surat An-nisa ayat 1, Tuan Guru," jawab perempuan berkerudung biru motif batik.


"Bacalah. Kamu telah memilih ayat yang indah," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan senyum yang mengembang.


Perempuan berkerudung biru motif batik mulai membaca basmalah. Tanpa nada tapi suara merdunya menggetarkan jiwa Tuan Guru Izzul Islam. Ia menggelengkan kepalanya mendengarkan bacaan Al-qur'an perempuan berkerudung biru motif batik.


"Shodaqollahul Adzim," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika perempuan itu meletakkan Al-qur'an di wajahnya. Setelah menciumnya ia menutupnya.


"Bacakan aku artinya, Tuan Guru," kata perempuan berkerudung biru motif batik.

__ADS_1


Hai, manusia. Bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah SWT yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah SWT adalah pengawas atas kamu.”


"Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya," ucap perempuan berkerudung biru motif batik sembari meletakkan telapak tangan kanannya di dada kirinya.


Tiba-tiba angin berhembus kencang. Beberapa kitab santri yang di tinggalkan di dalam masjid berserakan kemana-mana akibat hempasan kuat angin. Perempuan berkerudung biru motif batik terlihat memegang erat ujung kerudungnya, namun hempasannya yang kuat membuat kerudungnya terangkat dan menutupi wajahnya. Tak hanya kerudungnya. Rambutnya pun tersingkap dan memperlihatkan tahi lalat di bawah telinganya. Tuan Guru Izzul Islam yang berdiri menghadang hempasan angin di depan perempuan itu, segera menutup wajahnya dengan sorbannya.


"Allahu Akbar!"


Tuan Guru Izzul Islam melonjak kaget dan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Nafasnya turun naik lebih cepat. Degup jantung terdengar lebih cepat.


Terdengar suara tarhim dari pengeras suara masjid Pesantren. Tuan Guru Izzul Islam mendesah mengucap istighfar.


Lagi-lagi perempuan berkerudung biru motif batik muncul dalam mimpinya. Ia mencoba mengingat runut kejadian dalam mimpinya tadi. Sempurna. Tak ada yang terlewatkan. Perempuan berkerudung biru motif batik, yang selalu menundukkan kepalanya dengan membawa mushaf seperti tiga malam sebelumnya, kini bersamanya bergantian membaca ayat-ayat suci Al-qur'an. Mimpi yang indah.


Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah. Lagi-lagi Tuhan memberinya teka-teki panjang yang sulit terpecahkan. Bagaimana mungkin ia bisa melihat tanda tahi lalat itu, sedangkan letaknya di tempat yang sangat tertutup. Bahkan, jika tahi lalat itu milik perempuan tak berjilbab sekalipun, tahi lalat itu masih sulit untuk dilihat.


Sesulit itukah jodohnya ketika ia memintanya melalui shalat istiharahnya? Batin Tuan Guru Izzul Islam. Bagaimana mungkin, ia yang merupakan orang yang ditokohkan di wilayah itu akan meminta seorang perempuan yang bukan mahromnya untuk memperlihatkan sesuatu di area yang merupakan auratnya?


Astaghfirullah!" desahnya lagi. Ia meringis memejamkan matanya sembari tak henti-henti mengucap istighfar. Dia merasa sudah terlalu banyak mengeluh. Dia tak sabar menunggu sampai Allah benar-benar membuka sebuah rahasia kepadanya. Wanita shalehah, mencarinya seperti mencari mutiara di dasar bumi. Apalagi di zaman yang serba modern seperti saat ini. Membina rumah tangga tak berbicara tentang berapa bulan atau tahun. Rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah itu, hingga saat menua bersama, penuh petunjuk Allah dan berpedoman kepadanya. Rizki tak serta merta turun dari langit, walaupun Tuhan telah menjaminnya untuk seluruh makhluk-Nya. Rizki harus dicari dengan berusaha. Begitupun dengan jodoh. Tuhan telah memberinya petunjuk, dan kini saatnya ia berusaha mencarinya.


Tuan Guru Izzul Islam mantap bangkit dari duduknya. Adzan subuh mulai terdengar berkumandang. Alunannya yang lembut menenangkan kembali Tuan Guru Izzul Islam. Ia bergegas menuju tempat wudhu'. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya menuju masjid pesantren.


Suasana subuh di pondok pesantren qudwatusshalihin semarak dengan suara zikir yang terdengar bersahut-sahutan dari asrama putra dan putri. Guntur sesekali terdengar bergemuruh. Tepat ketika iqomah dikumandangkan, gemeritik hujan terdengar turun.


* ** * *

__ADS_1


Di tempat lain, Rianti tampak khusyu' melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama Jamila. Dia tak lagi memegang buku panduan saat membaca bacaan shalat yang dituliskan Jamila untuknya. Dia enggan istirahat jika malam telah tiba. Damai yang ia rasakan semenjak bertaubatnya, membuatnya ingin terjaga sepanjang malam dan setiap malam, untuk menebus waktu yang terlewatkan dalam dosa dan maksiat. Dia bertekat mengqadha' shalat yang tak pernah ia laksanakan di masa lalunya.


* * * * *


Matahari pagi hanya muncul sebentar di langit timur sebelum tertutup mendung. Suara tonggeret bising berpadu dengan suara air yang mengalir ke persawahan warga. Munawarah dan Rahini nampak membawa tas besar berisi pakaian Fahmi yang akan pergi mondok hari ini. Pak Mustarah sudah menunggu keduanya dengan membuka pintu mobil bagian belakang. Di sudut dapur, bi Aisyah nampak sedang menangis menyembunyikan dirinya agar tak terlihat Fahmi. Tadi malam, Sulastri sudah mewanti-wanti bi Aisyah agar tidak menangis saat kepergian Fahmi nanti. Tapi bi Aisyah tak kuasa menahan tangisnya. Kebersamaannya bersama Fahmi membuatnya berat berpisah dengannya. Bagaimana tidak. Sejak ia bekerja di rumah itu, hampir setiap malam, anak-anak Sulastri tidur bersamanya. Dia sudah meminta Sulastri untuk menunda pemondokan Fahmi hingga ia lulus SD, tapi Sulastri beralasan, Fahmi sudah harus belajar mandiri sedini mungkin. Masa depan perusahaan ada di tangannya. Ia mengharapkan kelak Fahmi bisa jadi sosok yang memiliki mental kuat dan berpengetahuan agama yang luas. Karna dengan bekal itulah ia bisa menyelamatkan dirinya dan agamanya.


Sulastri melangkah menuju kamar bi Aisyah. Farida nampak menempel di tubuh Fahmi. Bi Aisyah yang masih bersembunyi di sudut dapur di hampirinya. Ia memegang pundak bi Aisyah.


"Sudah, Bi. Kalau nanti bibi kangen sama Fahmi, kita bisa menjenguknya. Tempatnya gak jauh kok. Kita memondokkan Fahmi bukan berarti kita tak sayang, justru akan ada banyak manfaat untuk masa depan Fahmi. Kita tidak selamanya akan bersama anak-anak. Mereka akan tumbuh dewasa dan kita akan menjadi tua dan pada akhirnya akan meninggalkan mereka," kata Sulastri. Bi Aisyah masih terisak dalam tangisnya. Sulastri tersenyum dan merangkul tubuh bi Aisyah.


"Coba Bibi bayangkan. Jika kita ditakdirkan meninggal lebih dahulu dan Fahmi sudah terbiasa bermanja-manja dengan kita. Itu sama saja dengan membunuhnya perlahan. Aku sudah belajar dari pengalaman hidup yang keras ini, Bi. Mereka akan menghadapi masa yang lebih keras daripada ini," sambung Sulastri. Bi Aisyah mengangguk dan mengusap air matanya. Sulastri lalu mengajaknya menemui Fahmi.


"Saya gak ikut ya, Bu," kata bi Aisyah. Sulastri mendesah.


"Bibi ini bagaimana. Fahmi dari tadi malam sudah memasukkan bibi dalam daftar yang ikut mengantarnya ke pondok. Fahmi pasti kecewa kalau bibi tidak ikut."


Bi Aisyah terdiam Dia sudah membayangkan bagaimana nanti ketika mereka pulang dan melihat Fahmi sedih menatap kepergian mereka.


"Sudah, pokoknya bibi harus tetap ikut. Bibi juga gak pernah jalan-jalan. Biar Rahima yang jaga Rayhan," kata Sulastri sambil terus berjalan menuju halaman depan rumah. Di teras rumah, sudah terlihat Bagas yang sedang menggendong Fahmi. Di sampingnya, Nurul seperti ikut memberi semangat pada Fahmi.


"Nurul, saya pinjam suaminya sebentar saja, ya," kata Sulastri begitu sampai di depan mereka. Nurul tersenyum mengangukkan kepala.


""Bawa saja, Kak. Jangankan sebentar, gak dibawa pulang juga gak apa-apa," kata Nurul tersenyum sambil melirik ke arah Bagas. Bagas tersenyum.


Setelah mereka sarapan. Mereka pun segera menaiki mobil. Lambaian tangan semua penghuni rumah yang berjejer di pos jaga mengiringi kepergian Fahmi.

__ADS_1


__ADS_2