KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#136


__ADS_3

Sulastri masih membaringkan tubuhnya dengan kepala menghadap ke arah jendela ruang tamu. Uap panas yang memantul di permukaan paving block halaman rumah terlihat jelas dari tempatnya terbaring. Pohon-pohon tabebuya di halaman rumah telah meranggas. Hanya menyisakan batang seperti tanggul yang mati. Cuaca di bulan september ini begitu terik. Praktis ia hanya bisa menghabiskan waktu kesendiriannya di dalam rumah. Sebagian besar tugas di kantor sudah ia serahkan kepada Rianti. Rianti sendiri belum juga pulang di hari pertamanya masuk kantor. Dia sudah terbiasa menghabiskan waktunya di rumah bersama Rianti. Dan dia sendiri masih terbayang ujian besar yang akan menghadang di awal langkah Rianti nantinya. Ketakutannya video mesum masa lalu Rianti akan tersebar, menjadi topik yang selalu memenuhi pikirannya saat ia sedang sendiri. Walaupun Rianti sendiri seperti acuh tak acuh dan sama sekali tak mempermasalahkan video itu, tapi ia tetap tak bisa membayangkan bagaimana nanti pendapat-pendapat buruk publik tentang Rianti, bergantian masuk di telinganya.


Suara ponsel berdering terdengar dari arah kamar. Sulastri mendesah. Ia masih malas mengangkat tubuhnya dari pembaringan. Ponsel di dalam kamar terdengar terus berdering. Ia mendesah kasar dan menggeliat beberapa kali sebelum akhirnya bangkit dan melangkah malas menuju kamarnya.


"Tuan Guru?" desah Sulastri ketika melihat nama Tuan Guru Izzul Islam berkedip-kedip di layar ponselnya. Dada Sulastri seketika berdebar. Sulastri segera mengangkat ponselnya.


"Assalamualaikum, Tuan Guru,"


"Waalaikum salam." Sulastri mengernyitkan keningnya ketika terdengar suara wanita dari arah seberang. Ternyata bukan Tuan Guru Izzul Islam, tapi Nyai Mustiani.


"Eh, Bu Nyai. Maaf, Aku kira Tuan Guru," kata Sulastri sambil tersipu malu sendiri.


"Gak apa-apa, Bu. Justru saya yang harus minta maaf karna telah mengganggu istirahat ibu," jawab Nyai Mustiani dari arah seberang.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu Nyai,"


"Begini, Bu Sulastri. Aduh, jadi gak enak ini Bu Sulastri. Ngomongnya kok lewat telpon," kata Nyai Mustiani. Sulastri tersenyum.


"Gak apa-apa, Bu Nyai. Silahkan dilanjutkan,"


"Ini terkait anak ibu, Nak Rianti." Jantung Sulastri berdebar. Mendengar nama Rianti disebut orang lain, selalu mengarahkan pikirannya ke video itu. Dia takut video itu sudah tersebar dan Nyai Mustiani telah mengetahuinya.


"Iya, Bu Nyai. Ada apa dengan anak saya?" kata Sulastri dengan nada pelan. Sejenak Nyai Mustiani terdiam. Sulastri menunggu dengan cemas.


"Tadi, anak saya sudah cerita kalau pernah datang ke rumah ibu. Kalau gak salah, kemarin ya, Bu,"


"Benar, Bu Nyai. Saya minta tolong Tuan Guru untuk memberikan sedikit nasehat kepada anak saya untuk bekal memimpinnya nanti,"


"Owh begitu." Nyai Mustiani terdiam sejenak.


"Tadi tiba-tiba Tuan Guru ngomong sama saya. Dia minta tolong sama saya untuk memberitahukan Bu Sulastri, besok kami mau datang ke rumah ibu untuk melamar anak ibu."

__ADS_1


Sulastri terdiam. Ia mulai bimbang membuat keputusan. Setelah kedatangan video itu, baik dia maupun Rianti sudah melupakan tentang hubungan Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam sudah pasti akan membatalkan perjodohan itu jika sampai tahu video itu. Tapi dia tidak mungkin menolak kedatangan Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri mendesah pelan.


"Halo, Bu Sulastri?" Terdengar panggilan dari Nyai Mustiani setelah beberapa saat Sulastri tak memberi respon.


"Ya, Bu Nyai," jawab Sulastri spontan bercampur kaget.


"Bu Sulastri lagi sibuk?"


"Gak, Bu Nyai. Ee..., Maaf, Bu Nyai. Terkait masalah itu, saya harus menunggu anak saya pulang dulu dari kantor. Maklum, hari ini adalah hari pertamanya masuk kantor. Saya juga belum tahu apa agendanya besok di kantor."


"Owh, gak apa-apa, Bu. Saya menunggu apa hasil pembicaraan ibu dengan nak Rianti," kata Nyai Mustiani.


"Terimakasih, Bu Nyai. Sekali lagi saya minta maaf,"


"oya, gak apa-apa, Bu. Kalau begitu, saya tunggu informasinya ya, Bu. Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam."


Sulastri terdiam mematung ditempat berdirinya. Ponsel di tangannya ia jatuhkan di atas tempat tidur. Ia benar-benar bingung. Entah kenapa tiba-tiba, keinginannya untuk mempersatukan Rianti dengan Tuan Guru Izzul Islam mulai hilang.


* * * * *


Pak Jamal masih berdiri di lobi kantor perusahaan milik pak Efendi. Duduk terus di kursi ruang tunggu membuatnya bosan. Dia sudah menunggu terlalu lama. Dia mulai mengumpat-umpat. Sikap pak Efendi sudah tak seperti sebelum-sebelumnya. Dia merasa pak Efendi sudah tidak menghargainya lagi. Dia merasa pak Efendi memperlakukannya seperti orang yang hendak melamar pekerjaan di perusahaan itu.


Seorang perempuan muda terlihat mendekat ke arah pak Jamal. Melihat itu, pak Jamal segera menghampirinya.


"Pak Jamal, ditunggu bapak di ruangan." Perempuan itu mempersilahkan pak Jamal masuk.


Pak Jamal segera bergegas.


"Ada apa, Pak Jamal. Kenapa tidak menunggu sampai saya pulang. Seberapa pentingkah urusan itu, Pak Jamal," kata pak Efendi ketika pak Jamal sudah duduk di depannya.

__ADS_1


Pak Jamal menggaruk kepalanya. Ia mendesah pendek sembari menatap pak Efendi.


"Maaf, Pak Efendi. Sepertinya kita harus merubah rencana kita," kata pak Jamal. Pak Efendi tersenyum ketus. Ia bangkit dan mengambil minuman di laci lemari. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Perubahan apa lagi itu, Pak Jamal. Kalau berubah terus, bagaimana kita bisa berhasil," kata pak Efendi setelah duduk dan menenggak minumannya. Pak Jamal terdiam. Ia menundukkan kepalanya, namun matanya melirik ke sana kemari. Ia kembali mendesah.


"Sepertinya kita tidak bisa menyebarkan video itu." Pak Jamal kembali menatap pak Efendi. Melihat ekspresi wajah pak Efendi yang tak bersahabat, dia agak ragu meneruskan kata-katanya. Pak Efendi menatapnya lekat.


"Ada apa lagi, Pak Jamal. Jika seperti ini terus, kita tidak usah bertemu lagi. Ini mengganggu waktu saya saja," kata pak Efendi. Ia menyandarkan punggungnya di kursi putarnya dan mulai memutarnya kesana kemari. Pak Jamal mengusap keringat yang mulai memenuhi leher dan keningnya. Ia kembali mendesah.


"Saya takut kita terjerat Undang-undang pornografi. Itu terlalu berisiko, Pak Efendi," kata pak Jamal.


Pak Efendi tersenyum ketus.


"Itu sebenarnya bukan urusan saya, Pak Jamal. Urusan saya adalah uang lima ratus juta yang saya tanam di Pak Jamal. Jika Pak Jamal tidak mampu memberi keuntungan bagi saya, tolong Pak Jamal kembalikan uang saya," kata pak Efendi. Pak Jamal terlihat mulai gelisah melihat ekspresi tidak ramah dari wajah pak Efendi. Ia lebih memajukan tubuhnya hingga dadanya menempel di sisi meja.


"Tolong beri saya waktu satu bulan lagi, Pak Efendi. Saat ini saya harus bertindak sendiri. Si keparat Jeri hilang entah kemana. Saya pastikan, tanggal satu nanti, semuanya sudah ada di tanganku."


Lagi-lagi pak Efendi tersenyum ketus. Dia tampak sudah tidak percaya lagi kepada pak Jamal. Sejenak ia terdiam tak merespon pak Jamal. Pak Jamal terlihat cemas. Jika saja pak Efendi tidak memberinya kesempatan sesuai waktu yang ia minta, maka sudah pasti keadaannya akan semakin sulit.


Pak Efendi bangkit. Ia mengambil tas di sampingnya.


"Maaf, Pak Jamal. Sepertinya saya harus pulang dulu. Ada urusan lebih penting yang harus saya urus," kata pak Efendi. Pak Jamal mendongak menatap pak Efendi. Nada bicara pak Efendi seperti sedang mengusirnya. Pak Jamal bangkit. Tanpa menoleh ke arah pak Efendi, Ia melangkah lemah menuju pintu.


"Tapi ingat, Pak Jamal. Tolong jangan hubungi saya lagi jika pak Jamal belum berhasil. Dan ingat, hanya satu bulan ini saja," kata pak Efendi ketika pak Jamal hendak membuka pintu. Pak Jamal tidak menjawab. Hanya anggukan kepala kecil dan melangkah lemah meninggalkan ruangan pak Efendi.


* * * * *


"Ayo, kamu shalat sana. Aku tunggu kamu di sini," kata Cristian ketika telah sampai di sebuah masjid kecil yang berada tak jauh dari perlabuhan. Qurratul Aini menatapnya dengan tatapan heran dan penuh telisik. Ternyata Cristian sedang tidak main-main. Ia benar-benar membawanya ke masjid dan serius menyuruhnya shalat. Melihat Qurratul Aini memandangnya penuh keheranan, Cristian memegang tangannya.


"Gak usah bertanya kenapa aku melakukan ini. Masuklah," kata Cristian sambil memberi isyarat dengan matanya ke dalam masjid. Melihat ekspresi wajah serius dari Cristian, Qurratul Aini mengangguk dan melangkah menuju bagian lain masjid yang khusus untuk perempuan. Cristian menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Cristian menghela nafas panjang dan menatap ke dalam masjid. Suasana sejuk dan tenang di dalam masjid seperti menarik kakinya untuk melangkah masuk.


Di depan pintu masjid, ia tertegun menyaksikan orang-orang yang nampak khusyu' dalam sujud mereka. Hening. Mereka seperti benar-benar sedang berada di hadapan Sang Penguasa. Rasa yang muncul ketika tadi mendengar adzan tiba-tiba datang lagi seperti menghantam dadanya. Dia tak sadar perlahan langkah kakinya semakin mendekat ke arah orang-orang yang sedang shalat. Tubuhnya bergetar ketika melihat beberapa kalighrafi yang terpampang indah di dalam masjid. Suara takbir yang terdengar dari mulut orang-orang yang sedang shalat membuat tubuhnya luruh dan bersimpuh di lantai.


__ADS_2