KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
Pahala


__ADS_3

Sudah larut malam. Tapi, Mahesa suaminya Freya tak nampak batang hidungnya. Hal itu membuat Freya jadi kepikiran. Baru juga sehari menikah, rasanya sudah menyebalkan seperti saat ini. Walau bagi Mahesa Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Tapi, tidak bagi Freya. Buatnya pernikahan bukanlah untuk dimain mainkan. Ia akan tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri, walau Mahesa tak menganggapnya.


Kreek...


Suara pintu dibuka dengan bebohnya membuat Freya yang sudah berbaring di atas ranjang, dengan cepat bangkit. Ia terkejut melihat Mahesa yang dipapah Alex masuk ke kamar itu.


"Dia mabuk. Kamu harus sabar ya?" ujar Alex lirih. Dari tatapan matanya Alex terlihat ia kasihan pada Freya.


"I, iya Bang." Ini pertama kalinya Freya memanggil Alex dengan sebutan Abang. Sebenarnya Alex itu sudah berusia 25 tahun. Dia saja yang telat kuliah.


Bruuggkk


Alex membaringkan tubuhnya Mahesa di atas ranjang. "Dasar anak banyak dosa." Umpatnya menatap kesal Mahesa yang setengah sadar itu.


Freya juga ikutan sedih menatap Mahesa. Pasti gara gara dia, suaminya itu jadi mabuk mabukan. Suaminya itu kan tak suka padanya.


"Kamu tidur sekarang. Tak usah kamu tatap tatap dia. Kamu perlu banyak istirahat. Ingat, kamu sedang hamil." Pesan Alex lembut pada Freya.


"Iya bang!" Sahut Freya lemah.


Alex bergegas keluar dari kamar Itu. Sedangkan Freya terlihat melepas sepatu Mahesa. Freya menatap lamat lamat wajahnya Mahesa. Kalau dalam keadaan tidur seperti ini, suaminya Itu terlihat lucu dan gemesin. Apalagi Mahesa tidur dengan mulut menganga.


"Besok besok, kalau kamu jahat samaku. Pas Kamu tidur, ku masukkan garam dapur ke mulutmu. Biar kamu tahu rasanya asinnya kehidupan." Freya bicara sendiri sambil menahan tawa, karena ekspresi suaminya itu sangat lucu saat tertawa.

__ADS_1


Freya naik ke atas ranjang dengan penuh ke hati hatian. Ia lirik kembali Mahesa yang tidur telentang di sebelah kanannya. Mukanya masih terlihat lucu. Akhirnya Freya memutuskan untuk mengabadikan moment itu.


Cekrek


Cekrek


Dua foto sudah cukup. Mungkin disaat suaminya bersikap sangat menyebalkan. Freya akan menatap foto polos ini. Agar ia tak sakit hati, karena dapat suami yang tak menginginkannya.


***


Suasana pagi yang cerah. Sinar matahari menembus gorden dan kaca bening sebuah kamar. Membuat sang pemilik kamar terusik. Selang beberapa menit, akhirnya kedua mata pria itu terbuka lebar. Ia menggerutu akibat terbangun akibat silaunya matahari yang membuatnya terbangun secara paksa


"Dasar matahari bodoh, bisa bisanya dia mengganggu tidurku.!" Gerutu Mahesa yang kini keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Tapi, sebelum ia sampai di ruang makan, ia bertemu dengan sang istri di lorong menuju dapur.


Mahesa menatap malas Freya. Ia berdecak kesal melihat tingkah Freya yang sok akrab.


Dasar P S K. Gumamnya melirik masam Freya dan melalui wanita itu.


Freya sedih, ia tahu Pasti suaminya itu sedang mengumpat padanya. Karena mimik wajahnya menunjukkan itu.


Mahesa menyeret kakinya ke dapur. Dan Freya masih mengekori pria itu. Sebenarnya Freya sudah bawakan sarapan untuk Mahesa.


"Oooww.. Sudah bangun kamu nak. Bagus... Seorang suami memang bagusnya bangun telat." Sindir ibu Jasmin menatap masam sang anak.

__ADS_1


"Jangan mulai deh bu." Jawab Mahesa malas. Ia dudukkan bokongnya di kursi tempat ia biasa duduk. Dan secepat kilat, Freya menyajikan makanan di hadapan Mahesa


"Gak usah sok sok berperan jadi istri soleha. Kalau hanya mengambil makanan aku masih bisa." Ujar Mahesa masam.


"Nak, biarkan istrimu melakukan tugasnya. Memang benar, kamu bisa mengambil makananmu sendiri. Tapi, seorang istri ingin dapat pahala dari pekerjaannya meladeni sang suami" Jelas Bu Jasmin. Mahesa pun terdiam. Ia akhirnya membiarkan Freya menyiapkan sarapan untuknya.


Orang orang di ruangan itu tetap serius memakan sarapannya. Hanya Hana yang nampak ketakutan dan menunjukkan wajah masam pada Mahesa.


" Apa kamu tahu nak, pahala yang di dapat


seorang istri di saat melayani suaminya sangatlah besar. Contohnya menyiapkan makanannya. Pahalanya lebih besar daripada kita melakukan ibadah haji dan umroh. Asal kamu tahu nak di ajaran agama kita memasak, mencuci, beres-beres rumah itu adalah tugas suami. Tapi, apa tega semuanya itu dikerjakan suami? Tidak.. istri mencari ridho dan pahalanya dengan membantu suami. Dan suami yang mencari nafkah dan istri lah yang mengurus rumah tangga mengurus suami dan anak-anaknya." Jelas Bu Jasmin serius menatap Mahesa yang sudah mulai makan.


"I, iya bu Ustazah." Sahut Mahesa malas. Ia pun kini melirik Freya yang duduk di sebelahnya. Freya terlihat sedang memindahkan makanan ke piringnya. "Dia memang harus banyak banyak melayaniku. Agar dia dapat pahala. Kan dosanya sudah banyak." Ujar Mahesa enteng.


"Mahesa...!" Kini Pak Adnant yang angkat bicara.


"Seorang pela cur, dosanya pasti banyaklah!" Ketus Mahesa.


Praak...


Pak Adnan menggebrak meja makan itu. Pria itu bangkit dari duduknya.


Sedangkan Freya sudah merasa sesak di dadanya. Suami sendiri merenndahkannya.

__ADS_1


"Mahesa... Itu ayah ke ruang kerja. Sekarang..!" Tegas Pak Adnant


__ADS_2