
Sekeluarnya dari mobil, Nyai Mustiani langsung mengajak Rianti masuk ke dalam rumah. Beberapa santriwati yang sedang membersihkan lantai rumah segera berjejer ketika melihat Nyai Mustiani dan Rianti melangkah ke arah mereka. Nyai Mustiani mengajak Rianti berhenti di depan para santri yang berdiri menundukkan kepala memberi hormat.
"Anak-anak," kata Nyai Mustiani. Para santriwati mengangkat kepala mereka perlahan. Tatapan mereka tetap tertunduk ke arah lantai. Nyai Mustiani tersenyum. Wajahnya terlihat berbinar ceria. "Perkenalkan. Ini calon istri Tuan Guru. Semoga dengan kedatangannya di rumah ini bisa menambah keberkahan di tempat kita ini," sambung Nyai Mustiani antusias. Para santriwati melirik ke arah Rianti. Rianti tersenyum sembari menundukkan wajahnya.
"Amin," ucap mereka serempak.
"Selamat datang di pondok pesantren Qudwatusshalihin, Nyai," kata salah seorang santriwati. Dipanggil Nyai, Rianti tersenyum.
"Sekarang, ibu minta tolong sama kalian. Siapkan makanan untuk Nyai Rianti, ya," kata Nyai Mustiani.
"Baik, Bu Nyai."
"Tunggu sebentar," kata Nyai Mustiani ketika sebagian santriwati pergi menuju dapur. Mereka segera berbalik dan menghadap Nyai Mustiani.
"Jangan lupa beli ikan dan ayam ya. Kita akan buat makanan spesial untuk Nyai Rianti," kata Nyai Mustiani sambil melirik ke arah Rianti. Rianti tersenyum. Nyai Mustiani memegang tangan Rianti kemudian mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
* ** * *
Tuan Guru Izzul Islam menghempaskan tubuhnya pelan di atas sofa di dalam kamarnya. Senyum tak henti-henti tersungging dari bibirnya. Wajahnya bersinar dan berseri-seri. Rasa bahagia yang menggebu-gebu dalam dadanya membuatnya seperti tak nyaman di tempat duduknya. Ia mendesah panjang sembari menyandarkan punggungnya. Sejenak ia terdiam. Tatapannya kini tertuju ke arah kalender yang tergantung di dinding kamar. Ia segera bangkit dan melangkah pelan.
Sejenak ia terdiam memandang ke arah angka demi angka di dalam kalender. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengangguk-angguk. Ia membalikkan badannya dan mengambil baju koko yang tergantung di balik pintu. Peci hitam di atas meja diambilnya dan di pasangnya. Ia lalu melangkah menuju cermin. Setelah merapikan pakaian dan mengusap wajahnya dengan tisu, Tuan Guru Izzul Islam bergegas keluar dari kamarnya.
Tuan Guru Izzul Islam berdiri di depan kamar Nyai Mustiani. Ia ragu mengetuk pintu. Rianti sudah pasti sedang bersama Nyai Mustiani di dalam kamar. Itu tiba-tiba membuatnya merasa malu.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Setelah terdiam sejenak, ia memberanikan diri mengetuk pintu.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu di depan pintu,
pintu perlahan terbuka. Begitu kagetnya Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Rianti berdiri di balik pintu. Salah satu kakinya yang hendak dilangkahkannya masuk, ditariknya kembali. Sikapnya mulai berubah. Ia jadi serba salah.
Rianti tersenyum menundukkan wajahnya. Pintu kamar dibukanya lebih lebar.
"Masuk, Nak," kata Nyai Mustiani ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam berdiri di depan pintu. Tuan Guru Izzul Islam melangkah mendekat. Ia langsung duduk di depan Nyai Mustiani.
"Sini, Nak," kata Nyai Mustiani mengajak Rianti mendekat. Rianti mendekat. Tuan Guru Izzul Islam menggeser duduknya. Tapi Rianti memilih duduk di kursi dekat cermin tak jauh dari tempat duduk Tuan Guru Izzul Islam dan Nyai Mustiani.
"Ada apa, Nak," kata Nyai Mustiani setelah untuk beberapa lama ia belum juga melihat Tuan Guru Izzul Islam bicara. Dia memperhatikan duduk Tuan Guru Izzul Islam tidak tetap sejak kedatangannya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan. Ia melirik ke arah Rianti yang duduk agak jauh di belakangnya.
"Bu, sepertinya nanti malam adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan akad nikah," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum.
"Wah, wah, wah, sepertinya ada yang tidak sabaran," canda Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengusap keringat di keningnya.
"Saya hanya ingin malam jumat yang penuh barokah memberikan keutamaannya kepada pernikahan kami," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum. Ia menoleh ke arah Rianti. Rianti yang sedang pura-pura memutar pemotong kuku di atas meja rias menoleh ketika Nyai Mustiani memanggilnya.
"Begini, Nak. Tuan Guru mau akad nikah kalian di laksanakan nanti malam. Bagaimana pendapat kamu,"
"Saya ikut saja, Bu. Saya yakin apa yang diputuskan oleh Tuan Guru adalah yang terbaik,"
Nyai Mustiani tersenyum. Suasana di dalam kamar menjadi hening ketika terdengar suara adzan dhuhur berkumandang dari arah masjid pesantren.
"Tapi apa ini tidak terlalu mendadak, Nak," kata Nyai Mustiani setelah ketiganya selesai berdoa usai adzan dhuhur berkumandang.
"Masih banyak waktu, Bu. Kita hanya akan mengundang kerabat terdekat saja. Yang sederhana saja acaranya, Bu,"
__ADS_1
Nyai Mustiani mengangguk-angguk kecil.
"Kalau begitu, utus orang untuk mengundang paman-pamanmu. Kita akan musyawarah kecil-kecilan bakda ashar nanti biar tidak terkesan mendadak. Nanti bu Lastri biar ibu yang hubungi," kata Nyai Mustiani.
"Baik, Bu, jawab Tuan Guru Izzul Islam. "Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu. Saya harus memanggil Zaebon untuk memberitahu bapak Nurasmin dan ibu." Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan meninggalkan ruangan.
"Ayo, Nak. Kamu mandi dulu sana. Habis itu kita akan makan siang bersama-sama," kata Nyai Mustiani kepada Rianti setelah beberapa saat Tuan Guru Izzul Islam keluar dari kamarnya. Ia bangkit dan mengajak Rianti menuju kamar mandi.
* * * * *
Suasana ramai terlihat di ruang tamu kediaman Tuan Guru Izzul Islam sehabis shalat ashar. Beberapa kerabat dekat yang telah dihubungi Tuan Guru Izzul Islam sudah terlihat berkumpul. Di teras dan halaman rumah, para santri nampak sibuk bersih-bersih. Sebagian lagi, bersama tetangga yang mengetahui acara itu, nampak sibuk memilih bahan-bahan di teras rumah untuk persiapan jamuan makan. Begitu juga di masjid tempat akan di adakannya acara akad nikah nanti malam. Para santri begitu antusias menyambut acara pernikahan Tuan Guru Izzul Islam.
Di sebuah sudut, tepatnya di belakang kamar Abdul khalik, Rianti dan Fahmi nampak sedang duduk berdua jauh dari keramaian.
"Alhamdulillah, Kak. Akhirnya Allah mempersatukan Kakak dengan Tuan Guru. Saya ikut merasakan kebahagiaan ini. Semoga pernikahan Kakak menjadi berkah bagi kita semua," kata Fahmi. Wajahnya nampak ceria menunjukkan kebahagiaannya. Rianti tersenyum.
"Terimakasih, Dik. Ini semua berkat doa Ibu dan adik-adik semua." Wajah Rianti tiba-tiba murung. Ia mendesah dan menatap ke arah Fahmi.
"Hari ini kakak sangat bahagia sekali. Tapi Kakak selalu memikirkan Ibu. Ibu sudah terbiasa bersama kakak. Tidur, makan dan kemanapun ibu pergi, kakak selalu menemaninya."
Fahmi tersenyum. Tangan Rianti di pegangnya.
"Fahmi tahu apa yang Kakak maksudkan. Saya sudah membicarakannya dengan Tuan Guru dan Bu Nyai. Malam ini juga, sehabis akad nikah kakak, saya akan ikut pulang bersama ibu. Tuan Guru juga menyuruh saya untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai pembangunan pondok pesantren," kata Fahmi. Raut muka Rianti kembali berbinar cerah.
"Alhamdulillah. Sudah kamu pikirkan nama untuk pondok pesantren nanti?" tanya Rianti. Fahmi tersenyum. Ia mengangguk mantap.
"Sudah. Namanya, pondok pesantren Tahta Liwa'il Hamdi. Itu adalah nama pemberian dari Tuan Guru," kata Fahmi.
__ADS_1
"Oh ya, satu lagi, Kak. Karna kakak akan menikah dengan Tuan Guru. Juga agar hubungan kekeluargaan kita semakin erat, kita akan ikut bernaung di yayasan pondok pesantren Qudwatusshalihin. Pondok yang ada di rumah akan jadi cabang yang khusus menampung para santri yang ingin menghafal Al-Qur'an," sambung Fahmi. Senyum Rianti tersungging lebar. Tangan keduanya saling memegang erat, memberi persetujuan dan semangat satu sama lain.
"Alhamdulillah. Almarhum papa pasti akan bahagia melihat ini," kata Rianti. Air matanya mengalir bersamaan dengan senyumnya yang mengembang. Fahmi menganggukkan kepalanya.Setelah untuk beberapa lama mereka berbicara, Abdul khalik datang menjemput mereka untuk ikut rapat keluarga di ruang tamu.