KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#80


__ADS_3

Pak Bayan dan pak Ahmad semakin dekat ke arah mobil. Perasaan pak Bayan mulai tidak enak ketika hidungnya mencium bau amis setibanya di dekat mobil.


Pak Bayan menghentikan langkahnya. Ia meminta pak Ahmad menyalakan senternya dan mengarahkannya ke bagian depan mobil. Ada percikan darah terlihat di atas kerikil-kerikil yang berserakan dekat roda depan mobil. Pak Bayan mengambil salah satu kerikil dan mengendusnya. Pak Bayan mendesah. Jantungnya berdebar.


Pak Bayan mengambil senter dari tangan pak Ahmad. Ia lalu mengarahkannya ke dalam mobil.


Dan betapa terkejutnya pak Bayan ketika sinar senter mengenai mata seorang perempuan yang terbuka dan terbelalak seperti menatapnya. Pak Bayan memegang dadanya dan langsung duduk. Senter yang ada di tangannya tiba-tiba terlepas dan jatuh di tanah. Pak Bayan terlihat shock. Melihat itu, pak Ahmad segera bergegas menghampiri pak Bayan.


"Ada apa, Pak," kata pak Ahmad setengah berbisik cemas. Pak Bayan hanya terdiam menggelengkan kepalanya. Beberapa kali terdengar istighfar dari mulutnya.


Pak Ahmad mengambil senter yang tergeletak di samping pak Bayan. Melihat pak Bayan hanya terdiam tanpa menjawab, pak Ahmad bangkit dan memeriksa bagian depan mobil.


"Astaghfirullah!" Teriak pak Ahmad kaget ketika melihat perempuan berambut sebahu tergeletak bersimbah darah di dalam mobil. Ia hampir terjungkal ke belakang begitu sinar senternya mengenai Mata mami Zelayin terbelalak. Darah segar masih keluar di sela-sela rambutnya. Pak Ahmad mundur beberapa langkah hingga tak sadar hampir menginjak tubuh pak Bayan. Ubun-ubunnya seperti ditarik. Bulu kuduknya berdiri. Dipegangnya bahu pak Bayan dengan kuat.


"Ayo, pak Bayan. Kita harus cepat melaporkan ini sama ibu. Jangan sampai orang-orang melihat kita dan menuduh kitalah pelakunya," kata pak Ahmad dengan suaranya yang bergetar. Pak Bayan segera tersadar dari diam panjangnya. Ia menganggukkan kepalanya dan langsung berdiri. Ia dan pak Ahmad kemudian segera bergegas menuju gerbang rumah.


Sulastri dan Rahima baru saja akan memejamkan matanya setelah obrolan panjang mereka ketika bunyi ponsel Sulastri terdengar berbunyi. Setelah sejenak saling pandang dengan Rahima, Ia bergegas mengambil ponselnya. Ia mulai merasa cemas. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Takut ada berita buruk setelah beberapa kali terjadi dan menimpanya.


Terdengar suara nafas menderu bercampur suara pepohonan yang terhempas angin dari arah seberang. Jantung Sulastri berdebar. Rahima yang berbaring menatapnya ikut bangkit melihat perubahan wajah Sulastri.


"Halo, Pak Bayan?" kata Sulastri. Tangannya bergetar dan suaranya lirih.


"Maaf mengganggu, Bu. Tolong Ibu keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus saya laporkan," kata pak Bayan terdengar terputus-putus diantara suara nafas terengah-engah. Sulastri segera menyingkirkan selimutnya. Tak sempat mematikan ponselnya, ia segera bangkit dan melangkah menuju pintu kamar. Rahima segera mengikutinya.


"Ada apa, Pak," kata Sulastri ketika melihat pak Bayan dan pak Ahmad berdiri di depan teras rumah.


"Ibu ikut saya sebentar. Ada sesuatu yang harus ibu lihat," kata pak Bayan. Perasaan Sulastri bertambah cemas. Apalagi melihat pak Bayan yang seperti tak sabar hendak mengajaknya ke suatu tempat. Sulastri menyuruh Rahima menutup pintu dan segera mengikuti pak Bayan dan pak Ahmad yang sudah mendahului melangkah menuju pintu gerbang. Suara langkah kaki mereka terdengar berkejaran di tengah hening malam. Malam dingin yang sepi, ditambah diam panjang mereka sambil terus berjalan menuju ujung jalan, menambah suasana terasa mencekam.


"Mami Zelayin? Bukankah itu mobilnya mami Zelayin?" tanya Sulastri menengok ke arah Rahima yang berjalan di belakangnya. Rahima terdiam. Langkahnya semakin dipercepat. Ia ingin secepatnya sampai di mobil di depannya.


"Benar, Bu. Ini memang mobilnya Mami." kata Rahima.


"Tapi kenapa mami masih di sini? Bukankah ia sudah pulang beberapa jam yang lalu?" tanya Rahima heran.


" Maaf, Bu. Mungkin ibu sampai di sini saja." kata pak Bayan membalikkan tubuhnya. Ia menghentikan langkah Sulastri ketika hendak menuju bagian depan mobil. Sulastri mengerutkan keningnya. Ia penasaran.

__ADS_1


"Bu, ada orang yang telah membunuh perempuan itu," kata pak Bayan. Suaranya bergetar. Sontak Sulastri dan Rahima kaget. Tubuh keduanya bergetar. Rahima yang tak sabar melihatnya segera melangkah. Dia membuka pintu mobil. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan tubuh mami Zelayin tergeletak di dalam mobil. Rahima histeris dan berteriak. Sulastri tak beranjak dari tempatnya. Ia hanya menatap Rahima yang mulai menangis. Dia belum memberanikan diri untuk mendekat dan melihat lebih dekat. Ia hanya memberi isyarat kepada pak Bayan untuk menyingkirkan Rahima dari mobil.


Sulastri memeriksa ponselnya mulai menghubungi pak Sahril.


Sulastri mendesah. Pak Sahril tidak juga mengangkat panggilannya. Sulastri terlihat panik. Ia mencoba menghubungi pak Pratama, tapi tetap tak ada jawaban.


"Ayo, Pak Bayan. Mungkin ada seseorang yang bisa Pak Bayan hubungi," kata Sulastri mendekati pak Bayan.


Pak Bayan segera meraih ponsel di saku celananya. Ia baru ingat punya kenalan seorang polisi saat latihan menjadi scurity dulu.


Setelah menunggu beberapa saat. Terdengar suara dari seberang.


"Maaf, komandan. Saya mau melapor ada pembunuhan di dekat tempat saya bekerja,"


"Ini siapa?"


"Saya, Pak. Bayan Ismail. Yang dulu pernah Bapak latih saat pelatihan scurity di Pandan Wangi."


"Katakan lokasimu dimana,"


"Ok,ditunggu. Segera meluncur."


Pak Bayan mendesah pendek. Rahima masih menangis sesenggukan memanggil-manggil nama mami Zelayin. Pak Ahmad yang berdiri di belakang Sulastri, melangkah menutup pintu mobil. Sulastri sendiri mencoba menenangkan Rahima.


Suara ponsel berdering mengagetkan Sulastri. Ia memperhatikan nama pemanggil yang muncul di layar ponselnya.


"Halo, Pak Sahril. Tolong Bapak ke rumah sebentar. Telah terjadi pembunuhan di luar rumah," kata Sulastri ketika mendengar suara pak Sahril dari seberang.


"Baik, Pak. Saya tunggu," kata Sulastri. Ia menutup panggilannya dan mendesah lega.


*** * *


Suara sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan. Sulastri meraih tubuh Rahima dan menariknya agar lebih menjauh dari mobil. Dua buah mobil polisi telah tiba di lokasi. Sinar lampu sirinenya yang berputar membuyarkan sedikit gelap tempat Sulastri dan teman-temannya berdiri. Dari arah belakang, mengikuti sebuah mobil ambulan dan berhenti di belakang mobil polisi. Dua orang laki-laki terlihat keluar dan mengeluarkan tandu dari bagian belakang mobil.


Dari arah berlawanan, terlihat juga mobil toyota Camry yang ditumpangi pak Sahril dan pak Pratama berhenti di sisi lain jalan masuk menuju rumah Sulastri. Ia terlihat bergegas turun dan mendekat ke arah Sulastri. Petugas kepolisian tampak mulai mengeluarkan Tubuh mami Zelayin dari dalam mobil.

__ADS_1


"Siapa yang terbunuh, Bu," bisik pak Sahril.


"Mami Zelayin. Orang yang mengantar Rahima ke sini." jawab Sulastri. Nada suaranya masih terdengar bergetar. Pak Sahril mengernyitkan dahinya.


"Rahima yang kita buatkan selebaran, Pak," sambung Sulastri mendahului pak Sahril. Pak Sahril menganggukkan kepalanya.


"Bagaiamana ceritanya, Bu. Kok bisa terbunuh di sini," tanya pak Sahril.


"Saya juga gak tahu, Pak. Setelah mengantar Rahima, ia langsung pulang. Saya juga kaget ketika pak Bayan memberitahu saya," kata Sulastri.


"Uangnya sudah dikasih, Bu," bisik pak Sahril. Sulastri menganggukkan kepalanya. Pak Sahril menoleh ke arah petugas yang masih memeriksa bagian dalam mobil. Dua orang petugas rumah sakit terlihat membawa tubuh Mami Zelayin menuju mobil ambulan.


Pak Sahril mendekat.


"Pak, apa bapak menemukan uang di dalam mobil?" tanya pak Sahril kepada salah satu petugas yang memeriksa.


"Uang?" tanya polisi itu. Pak Sahril mengangguk.


"Uangnya dibungkus kresek warna hitam, Pak," sahut Sulastri. Petugas itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada apa-apa, Pak."


Sulastri mendesah. Ia menoleh ke arah Rahima.


"Mungkin ada yang membuntuti mami Zelayin. Orang yang tahu tujuannya malam ini," bisik Sulastri.


"Mungkinkah si Jamblang?" kata Rahima. "Dia memang sedang ada masalah dengan mami Zelayin. Tapi terkait selebaran pencarian saya, Jamblang mungkin belum tahu," Sambung Rahima.


Sulastri mendesah. Ia terlihat berpikir keras.


Sejak pengumuman pencarianmu, hanya dua orang yang sering menelpon. Yang pertama adalah mami Zelayin, dan yang kedua seorang laki-laki. Saya tidak terlalu jelas mengenal suaranya lewat hp, tapi mungkinkah itu Jamblang?" kata Sulastri mulai menerka-nerka.


"Ibu dan bapak berdua. Kami butuh informasi dari bapak-bapak dan ibu-ibu terkait masalah ini. Mungkin besok kami akan melakukan pemanggilan untuk dimintai keterangan," kata salah satu petugas menghampiri mereka. Sulastri mengangguk.


Setelah satu jam lamanya melakukan pemeriksaan, para petugas dari kepolisian akhirnya pamit dan meninggalkan lokasi kejadian. Suara sirine mobil ambulan mulai terdengar riuh bersama suara laju mobil yang kencang.

__ADS_1


__ADS_2