
Tidaaaak!
Tuan Guru Izzul Islam melonjak kaget. Teriakan keras dari arah kamar Nyai Mustiani mengalahkan suara angin yang menghempas. Dengan hanya menggunakan kaos oblong, Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan segera berlari keluar kamar. Sesampainya di depan kamar Nyai Mustiani, ia langsung saja membuka pintu dan masuk.
Tuan Guru Izzul Islam memegang erat tubuh Nyai Mustiani sesampainya di dalam kamar. Wajah Nyai Mustiani tampak pucat pasi. Rambutnya semerawut kesana kemari. Keringat dinginnya terlihat memenuhi kening bahkan mengalir di sela-sela rambutnya. Nafasnya naik turun dengan cepatnya. Suara detak jantungnya bahkan terdengar menghentak. Tubuh Nyai Mustiani bergetar hebat. Tuan Guru Izzul Islam menjadi panik. Ia mengguncang tubuh Nyai Mustiani sebab Nyai Mustiani hanya terdiam dengan mata terbelalak ke arah depan. Dia seperti tak melihat kedatangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Bu, ada apa, Bu. Istighfar, Bu. Istighfar," kata Tuan Guru Izzul Islam setengah berteriak. Nyai Mustiani masih terdiam. Bibirnya bergetar hebat. Tuan Guru Izzul Islam semakin panik. Ia menoleh ke sana kemari. Angin di luar sana masih terdengar menderu menakutkan.
Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan berlari ke arah ruang makan. Setelah menuangkan segelas air, ia segera kembali ke kamar Nyai Mustiani.
Mulut Tuan Guru Izzul Islam komat-kamit membaca sesuatu ke dalam mulut gelas. Setelah itu, ia memercikkan yang ada di dalam gelas ke tubuh Nyai Mustiani. Seketika itu, Nyai Mustiani yang seperti baru saja sadar dari pingsannya, melonjak kaget. Begitu menyadari kehadiran Tuan Guru Izzul Islam, ia langsung mencengkram kuat tangan Tuan Guru Izzul Islam. Saking kuatnya, Tuan Guru Izzul Islam sampai terlihat meringis menahan sakit. Nyai Mustiani terlihat begitu ketakutan. Bahkan air matanya terlihat mulai mengalir deras di kedua pipinya. Tuan Guru Izzul Islam segera memeluk tubuh Nyai Mustiani.
"Izzul, tolong ibu, Nak. Tolong Ibu," teriak Nyai Mustiani ketakutan. Suaranya bergetar hebat. Tuan Guru Izzul Islam mendekap tubuh Nyai Mustiani.
"Tenang, Bu. Tenang. Istighfar, Bu, istighfar. Minta perlindungan kepada Allah swt dari tipu daya syaitan," bisik Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu menyodorkan setengah gelas air yang masih tersisa di tangannya ke mulut Nyai Mustiani. Perlahan Nyai Mustiani meminumnya. Tuan Guru Izzul Islam kembali memeluk erat tubuh Nyai Mustiani.
"Apa yang terjadi, Bu. Ibu mimpi buruk?"
__ADS_1
Nyai Mustiani menganggukkan kepalanya. Nafasnya masih belum stabil. Tapi tatapannya kini menerawang. Seperti sedang mengingat sesuatu.
"Aku bermimpi ketemu ayahmu, Nak." Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya. Air matanya deras mengalir. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan keningnya. Seharusnya ibunya senang karna bisa bertemu dengan almarhum suaminya. Tapi apa yang kini ia saksikan dari raut wajah Nyai Mustiani begitu berbeda. Nyai Mustiani seperti baru saja melihat sesuatu paling menakutkan dalam hidupnya. Ia tak pernah melihat Nyai Mustiani setakut itu.
"Seharusnya ibu senang bisa bertemu ayah. Aku sendiri sangat merindukan bertemu ayah setiap malam dalam mimpiku. Kenapa ibu jadi setakut ini?" kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya.
"Tapi ayahmu ingin memukulku dengan cambuknya. Cambuk itu mengeluarkan api, Nak. Aku takut sekali. Aku takut sekali," kata Nyai Mustiani. Kepalanya dimasukkan ke dalam pelukan Tuan Guru Izzul Islam. Seperti orang yang masih melihat sesuatu yang menakutkan di depan matanya. Tuan Guru Izzul Islam memeluk kepala ibunya dan menciumnya beberapa kali. Dia berusaha menenangkan Nyai Mustiani.
"Istighfar, Bu. Selama masih ada peringatan, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menyadarinya dan memperbaiki diri,"kata Tuan Guru Izzul Islam.
من عاد لي وليا فقد آذنته بالحرب
Kata Nyai Mustiani dengan terbata-bata. Dia berhasil mengingat dengan sempurna kata-kata yang ia dengar dari mulut laki-laki dalam mimpinya tadi. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan keningnya.
"Itu yang dikatakan ayahmu sambil memberi isyarat kepada perempuan berkerudung biru motif batik. Setelah itu, ayahmu pergi meninggalkan ibu tanpa pamit terlebih dahulu. Ayahmu membenciku," kata Nyai Mustiani. Ia mengguncang-guncang tubuh Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang sembari mendongak sejenak ke langit-langit kamar. Mimpi yang sempurna sehingga ibunya hafal betul apa yang di dengar dalam mimpinya. Allah telah menegur ibunya melalui mimpi.
"Katakan, apa arti kata-kata itu, Nak. Jelaskan pada ibu," sambung Nyai Mustiani. Matanya tak berpaling dari menatap mata Tuan Guru Izzul Islam. Ia ingin Tuan Guru Izzul Islam segera memberitahunya.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam mendesah pendek. Ia mengusap lembut punggung Nyai Mustiani.
"Itu adalah hadist Qudsi,Bu. Itu adalah firman Allah yang kata-katanya dari baginda Nabi saw. Barang siapa yang memusuhi kekasihku, maka Aku akan mengumumkan peperangan baginya. Maha benar Allah dan benar juga Rasul-Nya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Mendengar itu, Nyai Mustiani kembali melonjak kaget. Bahkan dengan cepat mundur menjauh dari Tuan Guru Izzul Islam. Ia menggeleng-geleng. Tangisnya Nyai Mustiani pecah.
"Aku ini adalah musuh Allah? Terlaknatlah aku, Izzul. Terlaknatlah Aku. Tolong ibu, Nak. Ibu takut," kata Nyai Mustiani. Ia kembali maju dan mendekati Tuan Guru Izzul Islam. Tubuh Tuan Guru Izzul Islam dipeluknya dan menangis sesenggukan. Tuan Guru Izzul Islam mencium kepala Nyai Mustiani.
"Allah masih mencintai ibu. Ibu harus mensyukuri itu. Allah telah memberikan peringatan kepada ibu melalui mimpi. Amat beruntunglah ibu jika cepat menyadarinya. Bertobat dan akui kesalahan ibu. Setan selalu mempermainkan ego kita untuk menutup mata hati kita dari melihat kebenaran. Kita terlalu sibuk dengan perkara orang lain yang tak seharusnya bukan menjadi urusan kita. Bagaimanapun seseorang di masa lalunya, kita tak pernah tahu betapa dekatnya ia kepada Tuhan setelah bertaubatnya. Bertaubatnya ia dengan benar, bisa saja mengalahkan ibadah berpuluh-puluh tahun kita, namun tak pernah lepas dari sifat benci. Istighfar, Bu. Istighfar. Allah masih menyayangi ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Air matanya mengalir dan menetes di kepala Nyai Mustiani. Nyai Mustiani melepaskan pelukannya. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum, mencoba membuat Nyai Mustiani tenang.
"Antar ibu ke rumah Sulastri. Ibu harus minta maaf kepada Rianti. Ibu sudah terlalu banyak berdosa kepadanya. Sifat merasa lebih mulia dari orang lain, membuat ibu menjadi lupa bahwa yang paling baik di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Antarkan ibu, Nak. Allah Maha Pengampun. Tapi tidak akan mengampuniku jika ibu belum meminta maaf kepada orang yang ibu zalimi."
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sembari menghapus air matanya. Ia mendongak ke atas dengan air mata yang berlinang. Betapa bersyukurnya ia malam ini karna Allah telah mengabulkan doanya sehingga bisa melihat Nyai Mustiani menyadari kesalahannya. Tuan Guru Izzul Islam meraih kedua tangan Nyai Mustiani dan menciumnya bergantian.
"Terimakasih, Bu. Aku seperti kembali menemukan ibuku yang dulu. Kita akan pergi, Bu. Tapi tunggulah sampai pagi. Saat ini mereka masih istirahat. Penjaga rumahnya tidak akan membukakan kita pintu gerbang jika kita datang malam-malam begini. Lagi pula di luar masih hujan,"
Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu bisa menjamin ibu masih hidup hingga pagi nanti? Maukah kamu bertanggung jawab atas kesalahan yang belum aku mintakan maaf. Tidak, Nak. Sudah menjadi keharusan bagi orang yang butuh untuk menunggu. Kita akan menunggu pagi di depan pintu gerbang mereka. Ayo, bersiaplah," kata Nyai Mustiani. Ia bangkit dan segera melangkah mengambil kerudungnya. Tuan Guru Izzul Islam masih terdiam. Bahkan ketika Nyai Mustiani sudah berada di depan pintu, Tuan Guru Izzul Islam masih terdiam menatapnya.
__ADS_1