KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#61


__ADS_3

Pak Efendi kembali menatap Castella. Bola mata biru dan bulat milik Castella dan wajahnya yang kebule-bulean, ditambah lirik mata genit Castella setiap menatap pak Efendi, membuat duduk pak Efendi mulai tak tetap.


Ia mendesah dan terdiam sejenak. Dia tahu beberapa laporan yang ia baca di map di depannya banyak yang tak ia mengerti. Cendrung kacau. Tapi usaha Castella menarik perhatiannya, berhasil. Ia mengangkat kedua alisnya dan mengangguk.


"Baik, tapi mungkin kita bisa menindak lanjuti pembicaraan kita ini di tempat yang berbeda. Di rumah makan atau di villa saya di pantai Sunut, barangkali," kata pak Efendi tersenyum mengerlingkan mata.


Rianti melirik ke arah Castella. Dia tersenyum puas ketika sikap genit mamanya seperti mulai membuahkan hasil.


* * *


Terdengar beberapa langkah kaki seperti mengarah ke tempat pertemuan. Suara sepatu disertai obrolan beberapa orang di luar ruangan itu terdengar semakin ramai, membuat seisi ruangan terdiam. Suasana ramai yang sebelumnya tak pernah didengar Castella di tempat itu.


Castella menatap ke arah Rianti. Rianti menoleh ke arah Mohan.Dia memberi isyarat agar memeriksanya. Tapi baru beberapa langkah, terdengar ketukan pintu dari arah luar.


Mohan segera membuka pintu. Castella dan Rianti terlihat terkejut ketika melihat pak Sahril dan beberapa laki-laki berjaz mengikutinya dari belakang memasuki ruangan.


Melihat itu, Castella dan Rianti bangkit.


"Selamat siang, Bu," kata pak Sahril sopan membungkukkan badannya. Castella mengerutkan keningnya. Dia terlihat tidak senang melihat orang-orang di belakang pak Sahril.


"Kenapa tiba-tiba kamu datang dan membawa kembali orang-orang itu, Pak Sahril. Mereka telah aku pecat dan aku tidak mengijinkan mereka menginjak tempat ini lagi," kata Castella tetap pada posisi berdirinya. Pak Sahril melangkah maju.


Merasa suasana tidak bersahabat, pak Efendi beserta kedua pengawalnya bangkit.


"Maaf, Bu Castella. Mungkin pembicaraan kita tadi bisa kita lanjutkan di hari lain. Tentunya setelah masalah intern di perusahaan ibu dapat di selesaikan," kata pak Efendi. Ia mengambil tasnya dan mengajak kedua pengawalnya pergi.


"Sebentar dulu, Pak Efendi. Mereka bukan orang perusahaan ini. Mereka sama sekali tak punya hak untuk terlibat dalam pembicaraan kita," cegah Castella ketika melihat pak Efendi meninggalkan tempat duduknya.


"Maaf, Bu. Justru ibu yang tidak berhak di perusahaan ini. Perusahaan ini bukan milik ibu," kata pak Sahril tetap dengan nada rendah disertai senyum.

__ADS_1


Rianti yang tadi menatap dengan ekspresi tidak senang kepada pak Sahril melangkah mendekati pak Sahril. Pak Sahril kembali membungkukkan badannya memberi hormat.


"Lancang kamu, Pak Sahril. Atas dasar apa kamu berbicara seperti itu. Bu Castella adalah istri almarhum pak Yulian Wibowo. Dan Aku adalah anaknya satu-satunya. Omongan pak Sahril sampah," kata Rianti. Tatapan tajamnya seperti hendak menelan hidup-hidup tubuh pak Sahril. Pak Sahril membalas dengan tersenyum. Ia menyatukan kedua telapak tangannya meminta maaf.


"Pak Efendi, mohon kembali," kata Castella. Ia berlari ke arah pak Efendi.


"Mohon Bapak tidak terpengaruh dengan pengacau-pengacau ini. Bagaimana mungkin mereka beranggapan bahwa aku ini bukan pemilik perusahaan ini. Saya yakin Pak Efendi adalah orang yang cerdas," kata Castella sambil memegang tangan pak Efendi. Pak Efendi mendesah. Ia memegang tangan Castella dan perlahan melepasnya.


"Ibu selesaikan dulu masalah ibu. Setelah suasananya kondusif, ibu bisa menghubungi saya lagi," kata pak Efendi. Ia bergegas meninggalkan ruangan.


"Tapi, Pak."


Permohonan Castella tidak membuahkan hasil. Pak Efendi tak menoleh dan berlalu meninggalkannya.


Castella membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang merah akibat luapan emosinya menyatu dengan dua buah bola mata yang melotot ke arah pak Sahril.


"Hei, kalian berdua siapa. Apa kekuatan kalian berdua sehingga berani mau menyentuhku," kata pak Sahril lantang. Nada bicaranya yang tegas dengan tatapan mengancam, membuat Jeri dan Mohan mundur.


"Dia anak buahku. Dia berhak melindungiku," kata Castella dengan nada berteriak.


Kembali pak Sahril tersenyum.


"Kita bicarakan baik-baik, Bu.Silahkan ibu dan Non Rianti duduk dulu. Saya akan membuktikan bahwa Bu Castella bukan pemilik perusahaan ini," kata pak Sahril. Kali ini suaranya terdengar tegas.


Castella tersenyum ketus sambil mengangguk-angguk.


"Ow, jadi, selama ini kamu tak mau menemuiku karna kamu sudah merancang semuanya." Castella lebih mendekat. Ia berjalan mengelilingi orang-orang yang menutupi tubuh pa Sahril.


"Aku tahu sekarang. Rianti, aku yakin orang ini telah memanipulasi data selama ia di luar negri. Ia sudah mencantumkan namanya sebagai pemilik perusahaan ini. Benar begitu pak Sahril."

__ADS_1


"Yah, benar, Ma. Dia itu anjing penjilat. Dia tega menggigit keluarga tuannya ketika tuannya sudah tidak ada," sahut Rianti sengit.


Pak Sahril hanya tersenyum.


"Ibu dan Non Rianti duduk dulu biar tahu apa yang terjadi dan bagaimana kenyataannya," kata pak Sahril. Ia memberi isyarat kepada orang-orang yang melindunginya agar memberinya jalan. Ia mempersilahkan Castella dan Rianti duduk, namun keduanya menolak.


"Pak Pratama, tolong hubungi polisi dan usir sampah-sampah ini," kata Castella kepada pak Pratama yang masih duduk tenang di kursinya. Pak Pratama menoleh ke arah pak Sahril.


"Ingat apa yang telah kamu katakan, Pak Pratama. Kamu akan setia kepada pimpinan perusahaan. Sekarang, aku mau kamu membuktikannya," lanjut Castella.


"Aku tetap di sini karna aku mencintai perusahaan ini dan almarhum pak Yulian. Bukan karna ibu atau Non Rianti. Aku masih bertahan atas perintah pak Sahril. Pak Sahril adalah orang kepercayaan pak Yulian dan ditunjuk resmi untuk mengatur perusahaan sebelum pemilik resmi datang," kata pak Pratama. Castella tersenyum.


"Itu aku, Pak Pratama. Itu aku, Castella," kata Castella menepuk-nepuk dadanya.


"Ayo, diantara kalian, coba beritahu aku? apakah ada yang lebih layak menerima warisan suaminya selain istri dan anak-anaknya?" tanya Castella kepada beberapa laki-laki berjaz di belakangnya. Mereka hanya diam.


"Dasar kalian bodoh. Buka jaz kalian.Kalian lebih baik telanjang daripada berpura-pura sebagai orang cerdas."


"Saya mohon ibu duduk dulu. Ibu harus mendengarkan dulu penjelasan saya," kata pak Sahril.


"Omong kosong. Ayo Rianti, kita pergi. Kita harus ke kantor polisi. Kita akan membuat laporan tentang penghianatan dan penipuan ini," kata Castella.


"Dengan keluarnya ibu dari ruangan ini, maka otomatis ibu telah menerima keputusan ini,"


"Keputusan apa. Kamu mengancamku?"


Pak Sahril menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tak mau lagi menanggapi Castella. Ia sepertinya tak mau memperpanjang debat dengan Castella. Ia menoleh ke arah pak Pratama.


"Pak Pratama, silahkan, nyalakan proyektornya, biar ibu bisa melihat kebenarannya," kata pak Sahril. Pak Pratama mengeluarkan proyektor dari dalam tasnya.Setelah menghubungkannya dengan laptop, ia kemudian mulai mengarahkan sorotnya ke dinding di depannya.

__ADS_1


__ADS_2