
"Ibu yakin, perempuan yang kamu maksudkan itu pasti anaknya Tuan Guru Lalu Satria, Si..., siapa namanya itu...," Nyai Mustiani menepuk keningnya berusaha mengingat nama perempuan yang berusaha diingatnya itu.
"Ee...," Nyai Mustiani tampak kesal karna tak bisa juga menyebut nama yang sepertinya sudah ada di ujung lidahnya. Tuan Guru Izzul Islam hanya bisa tersenyum. Dia sengaja tak memberitahu ibunya.
"Baiq Miftahul Hafizah," kata Nyai Mustiani sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Tuan Guru Izzul Islam begitu riang. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan dia, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Raut wajah Nyai Mustiani seketika kembali berubah. Lagi-lagi ia mengerutkan dahinya. Ia mendesah.
"Hanya dia yang pernah ibu lihat dan datang bertamu ke rumah ini. Kalau bukan dia, siapa lagi?" tanya Nyai Mustiani.
"Diingat lagi, Bu,"
Nyai Mustiani mendesah kasar.
"Ah, sudahlah. Ibu tidak bisa di ajak main tebak-tebakan seperti ini." Nyai Mustiani memandang wajah Tuan Guru Izzul Islam cemberut. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia memegang kedua tangan ibunya.
"Kalau aku bilang tamu kita yang barusan saja pergi, Bagaimana," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani terdiam. Ia mulai membaca raut wajah Nyai Mustiani. Bola mata Nyai Mustiani kesana kemari menatap wajah Tuan Guru Izzul Islam. Ia terdiam cukup lama. Seperti mencoba kembali mengingat wajah-wajah tamu yang tadi datang berkunjung.
"Maksud kamu, dua orang perempuan yang tadi memondokkan anaknya itu?siapa nama anaknya, ee..., si Fahmi itu,"
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.
"Maksud kamu, perempuan yang duduk paling ujung itu?" kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Bukan, Bu. Yang aku maksudkan adalah ibunya Fahmi,"
Nyai Mustiani terlihat kaget. Tatapan matanya berubah tajam. Ia menghalau tangan Tuan Guru Izzul Islam dari tangannya.
"Apa-apaan kamu Izzul. Orang masih bersuami mau kamu ajak nikah," kata Nyai Mustiani marah. Melihat ibunya marah, Tuan Guru Izzul Islam segera menenangkan ibunya.
__ADS_1
"Bu, mereka telah bercerai. Dia datang bersama mantan suaminya hanya untuk menghibur hati Fahmi yang akan mondok," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba menjelaskan. Nyai Mustiani menggeleng. Ia masih tidak menerima.
"Yang benar saja, Izzul. Sekalipun mereka telah bercerai, tapi perempuan itu sudah punya anak. Dia juga lebih tua dari kamu. Ibu yakin, dia seumuran dengan ibu. Kalaupun ibu lebih tua, mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun saja. Sudahlah, kamu cari yang lain saja. Ibu setuju kamu menikah dengan Baiq Miftahul Hafizah saja. Lebih jelas asal muasalnya," kata Nyai Mustiani. Ia mengangkat tubuhnya hendak bangun. Melihat itu, Tuan Guru Izzul Islam segera memegang tangannya, mencoba menahannya. Ia menatap Nyai Mustiani dengan tatapan menghiba.
"Mohon diam dulu, Bu. Ada banyak hal yang perlu aku jelaskan sama ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menatapnya. Ia mendesah panjang. Tatapan matanya masih terlihat tidak senang.
"Kata ibu, ibu akan menerima apapun hasil istiharahku. Aku yakin bu. Dia perempuan yang empat kali hadir dalam mimpiku. Tolong, jangan bimbangkan aku dengan penolakanmu, Bu." Tuan Guru Izzul Islam memegang erat tangan Nyai Mustiani. Raut wajah Nyai Mustiani mulai melemah. Ia mendesah pelan.
"Bu, setiap malam wudhu' ku terus bersambung agar aku tidur dalam keadaan suci. Sebelum tidur, aku tak pernah melewatkan membaca Al-qur'an dan bershalawat kepada Nabi. Setiap malam, bahkan sebelum orang-orang memanggilku Tuan Guru. Aku mentaatimu, Bu. Tapi aku juga mentaati petunjuk Allah lewat mimpiku. Terlepas ia gadis ataupun janda, tentu ada hikmah di balik semua itu," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba meyakinkan ibunya.
Nyai Mustiani meraih kepala Tuan Guru Izzul Islam dan mengusapnya. Sejenak ia terdiam. Ditatapnya mata Tuan Guru Izzul Islam yang mulai berlinang. Ia melihat kesungguhan dari pancaran mata anaknya. Ia tahu anaknya tidak mau berkonflik dengannya sebab ketidaksetujuannya. Ia mendesah.
"Jika menurutmu itu adalah pilihan Allah untukmu, mau tidak mau ibu harus setuju. Lakukan yang menurutmu harus dilakukan,"
Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia melepaskan pegangan tangannya. Ia menundukkan kepalanya.
"Ada apa lagi. Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu,"
Nyai Mustiani tersenyum.
"Carikan ibu alamatnya. Ibu akan kesana bersama pamanmu, lebih cepat lebih baik," kata Nyai Mustiani sembari menepuk paha Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Kata-kata Nyai Mustiani menentramkan hatinya.
"Terimakasih, Bu. Nanti aku suruh Abdul Khalik memeriksa pendaftaran Fahmi. Di sana sudah tertera alamatnya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Perasaannya mulai lega. Allah telah memudahkan jalannya menemukan jawaban siapa sebenarnya perempuan berkerudung biru motif batik, yang empat kali muncul dalam mimpinya. Jawaban terakhirnya ada pada ibunya. Jika ibunya sudah setuju, Tuan Guru Izzul Islam meyakini apa yang kini terbetik di hatinya adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini.
Adzan isya' terdengar berkumandang. Nyai Mustiani menepuk pundak Tuan Guru Izzul Islam.
"Ayo, sudah adzan. Kamu ke masjid sana, imami santrimu," kata Nyai Mustiani.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Aku mau shalat berjamaah bersama ibu. Aku mau ibu yang berdoa nanti," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menganggukkan kepalanya dan mencium kening Tuan Guru Izzul Islam.
* * * * *
Sulastri mengumpulkan seluruh penghuni rumah selepas shalat isya' di ruang tamu. Munawarah, Rahima, wahyu, Rahini nampak mondar-mandir menyiapkan hidangan untuk makan malam bersama malam ini.
"Sebelum kita makan, ada yang perlu saya sampaikan kepada saudara-saudariku semuanya. Besok adalah hari peresmian rumah makan serta hari pertama anak-anak yatim akan menempati rumah yang ada di kawasan Cendana. Itu artinya, ada di antara kita yang harus meninggalkan tempat ini. Bukan berarti saya mengusir kalian. Saya meminta bantuan tenaga kalian untuk membantu saya mengelola rumah makan dan panti asuhan. Kalian adalah orang-orang kepercayaan saya. Jadi saya percayakan kalian untuk mengelolanya sebaik mungkin." Sulastri memulai pembicaraannya. Ia menatap satu persatu wajah-wajah perempuan di depannya.
"Rahini, Wahyu dan minang, kalian bertiga akan ikut pak Bagas pindah ke kawasan cendana. Tenaga kalian sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yatim di sana. Sedangkan Rahima akan membantu bu Trianti mengurus rumah makan yang ada di kawasan Doyan Medaran," sambung Sulastri.
Pak Bayan mengangkat tangannya.
"Ijin bertanya, Bu. Kalau pak Ahmad pindah kemana," kata pak Bayan. Pak Ahmad menepuk keras paha pak Bayan. Seisi ruangan tertawa.
"Ijin, Bu. Saya jangan kemana-mana. Saya di sini saja menemani bi Aisyah," kata pak Ahmad disambut tepuk tangan dan tawa riuh seisi ruangan. Bi Aisyah hanya tersenyum mendengar guyonan pak Ahmad.
Sulastri yang baru saja selesai dari tawanya menoleh ke arah pak Ahmad.
"Tenang, Pak Ahmad. Pak Ahmad dan bi Aisyah akan sehidup semati di sini," kata Sulastri. Tepuk tangan kembali riuh.
"Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat ke tempat masing-masing. Gak usah sedih. Saya akan tetap mengunjungi kalian," sambung Sulastri.
"Mohon maaf, Bu. Rumah yang di kawasan cendana jauh gak dari sini," tanya Rahini mengangkat tangannya.
"Gak, gak jauh kok. Kurang lebih tiga kilo dari sini. Memangnya ada apa, Rahini,"
"Ini, Si Wahyu, takut jika berjauhan dengan pak Mustarah." Suara riuh tawa bercampur tepuk tangan kembali terdengar. Wahyu yang d sindir melemparkankan tisu ke arah Rahini.
"Sudah, gak usah di bahas lagi. Gak usah pacaran. Saya maunya, jika ada di sini yang saling menyukai, langsung saja nikah. Biar saya yang biayai," kata Sulastri. Mereka saling pandang dan menggoda satu sama lain.
__ADS_1
"Ayo, nanti keburu terlalu malam. Kita makan," ajak Sulastri mempersilahkan mereka menyantap makanannya.