KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
Romantis


__ADS_3

"Berubahlah, kamu makin cantik. Putih, tubuhmu juga bagus sekarang, cocok jadi wanita penggoda."


Prang..


prang..


Pang


pang


Piring yang ada di tangannya Freya terjatuh ke lantai. Piring kaca berwarna putih bermotif itu pecah sudah. Ia sangat terkejut dengan ucapan tamunya itu.


Mendengar suara gaduh di luar Alex bergegas keluar dari kamar ibunya Freya, dan saat itu dia sangat tercengang melihat Freya yang sedang memungut piring pecah dengan tangannya mengeluarkan darah.


"Eya..!" Alex menghampiri Freya, membantu Freya membersihkan pecahan piring, yang hancur berkeping keping.


"Tanganmu berdarah." Tanpa sadar, Alex meraih tangan Freya yang luka, tepatnya diujung jari telunjuk kanannya, mengisap jari telunjuk Freya, mencoba menghentikan darahnya.


Saat ini Freya sangat kalut dan takut sekali karena dengan sikap Alex ini bisa membuat para tetangga mereka salah paham. Freya menarik cepat tangannya dari mulut Alex.


Tapi Alex tak terpengaruh dengan sikapnya Freya. Ya kembali menarik tangan pria memiliki kedatangan pria Apakah masih berdarah atau tidak.


"Ya Ampun Eya.. Darahmu masih mengucur ini..?" ujar Alex, menarik tangan Freya dan kembali menekan jari telunjuknya Freya, agar darah Freya berhenti keluar.


Freya menarik kembali tangannya. Ia sudah tak nyaman dengan tatapan para tetangganya. "Gak apa-apa koq." Freya yang tadinya jongkok, kini berdiri yang diikuti oleh Alex.


"Benar gak sakit?" tanya Alex penuh kekhawatiran.


Freya mengangguk lemah.


Eehhmm


Ehmmm.


"Aduhh...Kak Jernih, kak Li, sakit mata kita jadinya karena datang kesini. Kita kesini mau jenguk Kak Ratna, bukan mau lihat adegan romantis Tak tahu malu begini."


Deg


Freya sangat terkejut mendengar ucapan Kak Darmi. Cara bicara si Darmi yang terlihat penuh kebencian itu membuat Freya teringat kepada Bang Kosim. Bang Kosim adalah suami Kak Darmi. Bang Kosim pernah memboking Freya, tapi mereka tak jadi main.


Apakah Bang Kosim menceritakan tentang diriku kepada istrinya itu? Astaga kalau dia menceritakannya berarti dia tidak menjaga aibku. Padahal dia juga punya aib sendiri.

__ADS_1


Freya membathin, ia menunduk karena tak sanggup lagi menatap para tetangganya yang datang ingin menjenguk ibunya. Freya sudah was was sekali saat ini. Ia jadi takut Kak Darmi, istrinya bang Kosim bercerita pada ibunya, soal ia yang seorang PEl Acur.


"Aahhkk.. Iya ya? ayo kita ke kamar Kak Ratna saja. Anak muda sekarang memang tak tahu malu menunjukkan adegan romantis di depan orang lain, bahkan di depan orang tua seperti kita. Gak kayak kita dulu, pegangan tangan saja, sudah dighibahin warga. Padahal sudah menikah, bahkan duduk bersanding di bale bale juga gak boleh, haram hukumnya. Hanya boleh bermesraan di kamar saja." Sahut Uwak Jernih masam, ia teringat saat ia pengantin baru, datang ke kampung suami, selalu kena ghibahin. Wanita tua itu berusia sekitar 50 tahun sekarang.


"Ya, ayo masuk! malah bengong kamu Dar." Kak Limah, menepuk pelan bahunya Darmi yang kini tengah terpesona melihat Alex.


Alex hanya bisa diam dan bingung dengan apa yang dibahas emak emak tukang ghibah itu. Ia sama sekali tak merasa telah melakukan hal yang memalukan. Tapi, tanggapan para tamunya Freya. sangatlah berlebihan.


"Ibu ibu itu kenapa ya Eya?" tanya Alex bingung, menunjuk ke arah kamar sang ibu.


"Maaf bang, aku bersihin dulu pecahan kacanya." Kini Hana terlihat memegang sapu dan serokan di hadapan Freya dan Alex. Alex dan Freya meminggir, kemudian Hana membersihkan lantai rumah mereka.


"Gak tahu Lex, tapi sepertinya karena ada tamu cowok di rumah ini. Maklumlah d kampung ini masih ortodok, semuanya dikepoin." Sahut Freya datar.


"Ayo kita duduk di depan, aku ada hal penting ingin ku bocarakan denganmu!" ujar Alex tersenyum manis.


"Prihal apa Lex, bilang sekarang saja. Ini sudah malam. Aku gak mau nanti gosip tentang aku semakin banyak tersebar. Apalagi kita duduk di luar rumah malam-malam begini." Jawab Freya masih dengan ekspresi wajah datarnya.


"Oohhh.. Iya ya, ini di kampung. Aku lupa." Jawab Alex nyengir. "Selasa kan kita sidang. Dan hari ini sudah hari sabtu. Aku pulang besok ke kota. Aku mau ajak kamu pulang bareng. Kan itung itung irit diongkos." Ujar Alex penuh kehati hatian.


Air muka Freya mendadak murung. "Gak Lex, aku naik bus aja. Lagian aku pulangnya hari senin, bukan minggu." Jawab Freya malas.


"Mahesa?" tanya Freya dengan penasarannya.


"Iya Adikku Mahesa." Sahut Alex semangat.


"Gak Lex." Tolak Freya enggan.


Freya sedang tertekan jiwanya saat ini. Iya benci pada dirinya atas keputusan salah yang ia ambil dengan jadi pelacur. Jadi, saat ini ia sedang tidak ingin banyak bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Ia malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan orang lain. Ia malas berinteraksi dengan orang lain. Ia malas berbasa-basi dengan orang lain. Jika ia mengiyakan ajakan Alex tentu saja ia akan berbasa-basi dengan adiknya Alex yang bernama Mahesa itu.


Hhuufftt...


"Kamu gak bisa menolaknya. Apa kamu gak traumah dengan kejadian 4 hari lalu. Kamu bahkan sudah dilecehkan pak supir." Ujar Alex serius, menakut nakuti Freya. "Bisa saja Bus yang kamu tumpangi nanti, kembali membawa kamu ke hutan" Lanjut Alex tersenyum jahil, ia merasa lucu dengan ekspresi Freya yang ketakutan.


Freya masih linglung menimbang-nimbang tawaran Alex, dipikir-pikir Ia juga sih kejadian 4 hari yang lalu membuat Freya traumah.


"Pukul delapan malam, besok aku kesini jemput kamu." Ujar Alex. Ia menoleh ke kamar ibu Ratna. Terlihat ketiga tamu itu serius bicara menanyakan keadaan Bu Ratna. Alex pun mengurungkan niatnya masuk. Ia kembali mendekati Freya. "Titip salam sama ibu, aku pulang dulu sekarang." Ujarnya lembut pada Freya yang masih terlihat linglung itu. "Besok aku jemput! " tegas Alex kembali meyakinkan Freya.


."Iya Alex, makasih ya? kamu baik sekali. Semoga selamanya kamu tetap baik padaku ya?" ujar Freya dengan mata berkaca kaca.


"Kamu kenapa sih banyak berubah sekarang?" tanya Akex dengan penasarannya.

__ADS_1


"Kamu juga banyak berubah. kamu nggak pernah cerita kalau kamu anak orang kaya Lex."


"Kalau kamu, apa Kamu pernah cerita kalau kamu tinggal di sini? kita satu kabupaten, hanya beda kecamatan saja. Harusnya sejak dulu kita sudah saling kunjung, jika pulang kampung."


Alex mengangkat kedua alisnya, menantang Freya yang juga tak terbuka tentang dirinya. Padahal mereka cukup dekat di kampus.


"Apa sih yang mau diceritain dari keadaan kami. Aahkk... Sudahlah, kamu balik aja sana." Freya mendorong bahu Alex, keluar dari rumah gubuk mereka.


"I, iya.. Jangan di dorong!" Ujar Alex tertawa bahagia. Entah kenapa ia senang, bahunya disentuh Freya.


Setelah Alex masuk ke dalam mobil. Ia pun membuka kaca mobilnya, melambaikan tangan pada Freya. "Daah.... Da..da...sampai ketemu hari Minggu. Da..da. dah.." Alex terlihat bahagia sekali.


Freya jadi tersugesti. "Da.. Da.. da..!" ujarnya melambaikan tangan.


"Iihh.. Hebat ya, dapat cowok kaya " Ujar Kak Darmi, tiba-tiiba saja nongol dibelakang Freya.


Freya yang terkejut memegangi dadanya dan mengelusnya pelan. Ia pun berbalik badan ke arah "Eehh.. Kak Darmi. Namanya Alex, teman kuliahku kak, bukan pacarku." Sahut Freya sopan.


"Oouuww.. Kirain kamu simpanan ayahnya." Cerocos kak Darmi.


"Kak Darmi Kok bicara seperti itu sih padaku? dari tadi kakak nyolot mulu lihat aku." ujar Freya dengan muka kesalnya. Kedua matanya yang besar melotot sempurna menatap tajam Kak Darmi.


Sempat gosip tentang dirinya beredar. Kalau ia seorang pela cur, ia juga akan membongkar kelakuan Bang Kosim. Ia tak sepolos itu yang mau menyimpan sendiri rahasia. Kalau rahasianya terbongkar.


"Aduhhh.. Serius amat sih loe Freya. Kak hanya bercanda." Ujar Kak Darmi nyengir, berusaha sok rileks.


"Yq iyalah. Kak dari tadi sinis mulu lihat aku." Tantang Freya.


"Hadeuh.. ini kenapa pada bersi tegang gini? kita ke sini mau melihat mamaknya yang sakit. Bukannya mau bertengkar. Memang kau ya Darmi, terkenal kali kau tukang gosip dan tukang dicekak kampung Ini, ayo pulang ..!"


Wanita tua yang bernama Jernih menarik kuat tangan Darmi.


"Iihh.. Kak Jernih, lepas.. sakit tahu!" keluh Darmi dengan menghempaskan tangan bu Jernih.


Freya yang masih berdiri di teras rumah hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah sambil menyaksikan interaksi antara Kak Darmi dan Uwak Jelita.


Setelah tamu nya itu hilang dari jangkauan matanya. Freya pun bergegas masuk ke dalam. Ia menutup pintu rumahnya. Menyandarkan tubuh di daun pintu. Freya sedang berfikir keras. Sepertinya ia harus cepat membawa ibunya ke kota. Karena ia merasa mereka tak nyaman lagi tinggal di kampung itu. Mungkin, setelah sang ibu, sedikit baikan dan bisa melakukan perjalanan jauh, ia akan pulang untuk jemput sang ibu dan adiknya


TBC


tinggalkan jejak dengan like dan komentar positifnya 😁❤️😍

__ADS_1


__ADS_2