
Suara klakson mobil terdengar sekali dari luar pintu gerbang. Sulastri yang berada di dalam rumah segera keluar. Sebuah mobil Fanther warna silver terlihat ketika pak Bayan membuka pintu gerbang. Senyum Sulastri tersungging lebar. Rianti yang berada di dalam kamar juga ikut keluar, tapi buru-buru Sulastri menyuruhnya masuk kembali.
"Sudah, ikuti saja perintah ibu. Nanti kamu akan tahu sendiri," kata Sulastri. Rianti membalikkan badannya dan melangkah kembali memasuki kamarnya. Entah apa yang sedang direncanakan Sulastri saat ini. Sulastri benar-benar membuatnya penasaran sejak tadi pagi.
Tuan Guru Izzul Islam terlihat keluar dari dalam mobilnya. Ia terlihat sendiri tanpa sopir pribadinya. Pak Bayan segera mengajaknya menuju rumah. Semakin mendekat, dada Sulastri berdebar-debar. Aroma minyak wangi khas Tuan Guru Izzul Islam menyebar kemana-mana.
"Assalamualaikum, Tuan Guru," ucap Sulastri mendahului ketika Tuan Guru Izzul Islam telah sampai di depannya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Wa alaikum salam. Saya minta maaf bu Sulastri, saya terlambat," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Gak apa-apa, Tuan Guru. Tuan Guru sudah mau datang kesini saja suatu kehormatan bagi kami," kata Sulastri. Ia mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam masuk ke dalam rumah.
"Pak Bayan,"
"Ya, Bu,"
"Pak Bayan juga ikut ke dalam ya. Temani Tuan Guru," kata Sulastri. Pak Bayan mengangguk dan segera mengikuti Tuan Guru Izzul Islam menuju ruang tamu.
"Tadi pagi tiba-tiba ada tamu mendadak di rumah. Jadi saya harus menunggu mereka pergi dulu sebelum berangkat kesini," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah beberapa saat duduk di sofa ruang tamu. Tatapan matanya mulai memperhatikan keadaan di dalam ruang tamu yang luas. Sulastri tersenyum.
"Memangnya kenapa dengan rumahnya, Bu. Apa ibu sering di datangi hantu?" sambung Tuan Guru Izzul Islam setengah bercanda. Kembali Sulastri tersenyum.
"Anak saya Rianti sebentar lagi akan mulai bekerja, Tuan Guru. Sudah waktunya dia menggantikan posisi saya di perusahaan. Minta doanya juga, semoga perjalanan memimpin ke depannya selalu dalam lindungan Allah. Dia juga tetap jadi pribadi yang baik dan terhindar dari perbuatan mungkar," kata Sulastri. Ia menundukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Insya Allah, Bu." Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya.
"Jika kita melihat seseorang yang sangat memperhatikan shalat lima waktunya, maka sangkakanlah ia sebagai orang yang bertanggung jawab. Jangan pernah ragu. Tapi sebaliknya, jika ia lalai melaksanakan shalat, maka yakinlah, untuk urusan yang lainnya, dia akan lebih meremehkannya." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Dia mengambil botol air kemasan di depannya dan menuangkannya ke dalam gelas di depannya. Sulastri dan pak Bayan menunggu dengan khidmat. Tuan Guru Izzul Islam mendesah sembari tersenyum bergantian menatap ke arah Sulastri dan pak Bayan. Gelas minuman diletakkannya kembali di atas meja.
"Pelajaran yang ingin saya sampaikan dari kata-kata saya tadi adalah, bahwa shalat adalah rahasia keberhasilan seorang hamba di dunia dan akhiratnya. Shalat adalah sebenar-benar sarana berhubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Jika sarana itu dijaga dengan baik, maka kita akan terus terhubung dengan Tuhan. Dan pastinya apa yang kita lakukan selalu dalam pengawasan Allah Swt," kata Tuan Guru Izzul Islam mengakhiri kata-katanya. Pak Bayan dan Sulastri serempak mengangguk. Apa yang disampaikan Tuan Guru Izzul Islam membuat pak Bayan berkali-kali mengucap istighfar.
"Intinya, Bu Sulastri. Pesan saya kepada anak ibu dan tentu kepada kita semua. Ketika orang non muslim merasa lebih maju karna meninggalkan ajaran agama mereka, maka sebaliknya,kita akan lebih maju secara bermartabat dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama kita," kata Tuan Guru Izzul Islam.
Kembali Sulastri dan pak Bayan mengangguk.
"Subhanallah," ucap Sulastri.
"Jadi, nasehatnya tidak perlu banyak-banyak. Cukup menjaga shalat," sambung Tuan Guru Izzul Islam.
"Pak Bayan, tolong temani Tuan Guru sebentar, saya mau panggil Non Rianti dulu," bisik Sulastri kepada pak Bayan. Pak Bayan menganggukkan kepalanya. Sulastri tersenyum ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Maaf, Tuan Guru. Saya tinggal sebentar, mau panggil anak saya. Seharusnya dia juga ikut mendengar nasihat Tuan Guru tadi," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mempersilahkan Sulastri. Sulastri bangkit dan segera menuju ke kamar tempat Rianti berada.
Rianti yang sudah terlihat bosan menunggu di dalam kamar segera melonjak bangkit ketika Sulastri membuka pintu kamar. Sulastri tersenyum. Sejak tadi pagi, ia sudah membuat Rianti penasaran. Melihat wajah Rianti yang terlihat bosan, Ia segera mendekati Rianti. Ia tiba-tiba memegang kepala Rianti dan mencium keningnya. Rianti tersenyum keheranan.
"Ada apa sih, Bu. Rianti benar-benar bingung deh sama tingkah ibu," kata Rianti.
"Ayo bangun," kata Sulastri. Ia menarik tangan Rianti dan mengajaknya menuju lemari pakaian. Rianti hanya diam saja ketika Sulastri mengeluarkan jilbab berwarna biru motif batik dan gamis berwarna sama dari dalam lemari. Rianti mengernyitkan dahinya. Sulastri masih menyimpan jilbab itu. Bedanya, jilbab itu terlihat masih baru dan utuh seperti baru dibeli.
__ADS_1
"Ibu masih menyimpannya?" kata Rianti memperlihatkan jilbab di tangannya. Sulastri mengangguk.
"Nak, mungkin kamu bertanya-tanya kenapa melakukan ini. Ini adalah salah satu ikhtiar ibu untuk kebaikanmu. Semoga saja Allah berkenan menjadikan kenyataan apa yang kini menjadi keyakinan ibu."
Rianti masih tidak mengerti. Ia menatap wajah Sulastri penuh selidik. Sulastri tersenyum. Ia mencubit pipi Rianti.
Kamu cantik sekali kalau sedang menatap ibu seperti itu,"kata Sulastri. Rianti ikut tersenyum.
"Sekarang pasang jilbab dan gamis itu. Kemudian keluarlah dan buatkan Tuan Guru kopi," kata Sulastri.
"Selama ini ibu belum membuatkan Tuan Guru kopi?" tanya Rianti. Sulastri tersenyum mengangguk.
"Kenapa gak suruh bi Aisyah atau bi Munawarah, Bu," kata Rianti.
"Mereka lagi sibuk. Biar kamu saja yang buatkan. Ayo, Pakai itu dan temui ibu di ruang tamu. Jilbab dan gamis itu telah ibu simpan selama lima belas tahun menunggu kepulanganmu. Ibu mau kamu memakainya hari ini," kata Sulastri. Setelah itu ia keluar meninggalkan Rianti.
Rianti masih terdiam bengong menatap Sulastri hingga pintu kamar di tutup kembali. Di pandanginya sejenak jilbab dan gamis yang dipegangnya. Apa yang dilakukan Sulastri benar-benar membuatnya bingung. Kini dadanya mulai berdebar-debar. Membayangkan dirinya keluar dan bertemu dengan Tuan Guru Izzul Islam membuatnya merasa canggung. Dia tak mau kejadian memalukan saat berkunjung ke rumah Tuan Guru Izzul Islam terulang lagi. Ia takut matanya terhipnotis oleh pesona dan aura luar biasa dari wajah Tuan Guru Izzul Islam.
Rianti mendesah. Ia melangkah pelan ke arah cermin. Ia lalu mulai membuka pakaiannya dan menggantinya dengan gamis yang diberikan Sulastri. Rianti tersenyum melihat penampilannya di depan cermin. Benar-benar berbeda. Warna biru gamis dan jilbab motif batik benar-benar sesuai dengan penampilannya. Dia merasa, inilah penampilan terbaiknya.
Rianti mendongakkan kepalanya dan menatap ke atas. Ia tersenyum. Binar-binar matanya seperti memperlihat rasa syukur yang begitu besar kepada Sang Pencipta. Dia tak mau memuji dirinya sendiri. Tuhan telah memberikannya kecantikan. Tak ada yang lain, yang patut dipuji selain Pemberi kecantikan itu sendiri.
"Alhamdulillah," desah Rianti. Ia kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu. Setelah memejamkan mata beberapa saat sembari mengumpulkan keberaniannya,ia mantap keluar kamar.
__ADS_1