
Zulhiyani perlahan membuka matanya. Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan dengan cahaya lampu di dalam ruangan. Ia merasakan kondisi tubuhnya agak terasa membaik. Bahkan Ia sudah bisa menggerak-gerakkan tubuhnya. Hal yang selama ini sulit dilakukannya. Sejak dirawat di Klinik dua hari lalu, ia menghabiskan waktunya dengan tidur. Lelah tubuh dan perasaannya saat masih di rumah kumuhnya, seperti telah mendapatkan tempat ternyaman di ruangan luas tempatnya berbaring kini.
Zulhiyani menoleh kesana kemari memperhatikan suasana di dalam ruangan. Ia mendesah panjang. Ia berusaha mengingat kejadian hingga ia berada di dalam ruangan itu. Dan yang pertama ia ingat adalah inak Nurmah.
"Ibu,"
Untuk pertama kalinya Zulhiyani bisa mengeluarkan suaranya setelah sebelumnya hanya bisa memberi isyarat dengan mata dan bibirnya. Zulhiyani tersenyum. Kedua matanya berbinar ceria. Ia mengira suaranya akan tertahan jauh di ujung tenggorokannya. Nyatanya ia bisa mendengar sendiri suaranya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana akan sangat bahagianya inak Nurmah mendengarkannya memanggil namanya. Tapi perempuan tua itu tak terlihat di dalam ruangan. Ia sudah berusaha menggerakkan penuh kedua matanya menyusuri setiap sudut dalam ruangan. Namun ia yakin saat ini inak Nurmah sedang berada di tempat yang layak. Itu mungkin penyebab kenapa ia merasa begitu nyenyak tidur dua hari ini. Ia merasa tenang karna tak memikirkan lagi keadaan ibunya saat menjaganya ataupun mencari pekerjaan untuk makan mereka sehari-hari. Sekalipun tetap merasa malu dan tak enak dengan kebaikan Tuan Guru Izzul Islam dan keluarganya, setidak-tidaknya dia dan ibunya termasuk orang-orang yang masuk ke dalam daftar fakir miskin yang dikelola keluarga Tuan Guru Izzul Islam. Suka atau tidak suka, ia dan ibunya memang fakir dan layak mendapatkan santunan. Dan mengingat kembali keluh kesah ibunya beberapa hari lalu, ia yang sebelumnya pasrah dengan keadaannya, kini bertekad ingin segera sembuh. Dan jika Allah menghendaki kesembuhan untuknya suatu saat nanti, ia akan mencari pekerjaan dan merawat ibunya dengan baik. Dan jikapun nanti ia ditakdirkan meninggal dunia, Tuan Guru Izzul Islam tidak akan menyia-nyiakan ibunya. Kedermawanan dan kebaikan hati Tuan Guru Izzul Islam akan menempatkan ibunya pada tempat yang layak.
Pintu terdengar dibuka. Zulhiyani memalingkan wajahnya. Ia tersenyum melihat inak Nurmah dan Suhaini terlihat di balik pintu. Melihat Zulhiyani tersenyum, inak Nurmah segera berlarian mendekat. Saking senangnya, hampir saja ia terjatuh. Wajah Zulhiyani yang menyiratkan semangat kehidupan baru, membuatnya tak henti-henti menciumnya. Ia semakin tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika mendengar Zulhiyani memanggilnya ibu.
"Ya, Allah, Nak. Ibu mau mendengar sekali lagi kamu memanggil ibu. Ayo, sekali lagi, Nak," kata inak Nurmah. Zulhiyani tersenyum. Ia menggerakkan kepalanya dan berbisik di telinga inak Nurmah.
"Ibu."
Tangis inak Nurmah berderai. Begitu juga dengan Suhaini yang berdiri di sampingnya sambil memegang tangan Zulhiyani.
"Ibu seperti baru saja sembuh dari penyakit yang menggerogoti tubuh ibu. Terimakasih kepada Allah. Terimakasih kepada keluarga Mukarom atas kebaikan mereka. Semoga kelak Allah mengeluarkan mereka dari kesulitan hari qiamat," kata inak Nurmah sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. Setelah itu, tangan tuanya mulai merapikan rambut Zulhiyani sambil tak henti-henti menciumnya. Zulhiyani mengangkat salah satu tangannya dan mengusap lemah wajah kusam inak Nurmah. Air mata inak Nurmah dan menetes jatuh di pipi Zulhiyani. Tetes air mata inak Nurmah kemudian diusapnya dengan telunjuknya dan kemudian diisapnya ke dalam mulutnya. Air mata deras mengalir di wajahnya.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan jika selama ini aku menyusahkan ibu. Aku yang seharusnya merawat ibu, malah sebaliknya harus membuat ibu susah dan bersedih. Aku janji,aku mau sembuh, Bu. Aku ingin membalas kebaikan ibu. Kalaupun nanti Tuhan menakdirkan lain, aku rela amal baikku kuserahkan pada ibu," kata Zulhiyani sesenggukan sambil terus mencium tangan hitam inak Nurmah. Inak Nurmah tersenyum.
"Sudah, Nak. Kamu bisa bicara lagi saja ibu sudah senang. Ibu ridha denganmu,Nak," kata Inak Nurmah. Ia mengusap air mata Zulhiyani dan mencium keningnya. Setelah untuk beberapa lamanya keduanya larut dalam tangis, Zulhiyani menoleh ke arah Suhaini yang tampak ikut larut dalam tangis keduanya
__ADS_1
"Suhaini," panggil Zulhiyani lirih. Suhaini mengusap kedua matanya. Ia tersenyum. Inak Nurmah menggeser tubuhnya dan menyuruh Suhaini lebih mendekat.
"Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, Suhaini. Dimana Jamila?" tanya Zulhiyani. Suhaini tersenyum.
"Jamila masih di pondok. Insya Allah, sekarang dia akan kesini bersama bu Nyai Rianti," kata Suhaini.
"Suhaini, bisakah aku minta tolong?"
"Katakanlah, mudah-mudahan aku bisa membantumu,"
"Selama aku sakit, aku tak pernah lagi muthala'ah hafalan Al-qur'anku. Aku takut tak bisa mengingatnya lagi. Tolong, kalau kamu punya Al-qur'an, bawakan untukku," kata Zulhiyani dengan begitu lancarnya, seolah-olah ia tidak sedang sakit parah.
"Insya Allah, nanti aku telpon Kak Zaebon agar membawakanmu mushaf." Suhaini menghentikan kata-katanya. Ia menatap Zulhiyani agak lama.
"Subhanallah, kalau sampai bu Nyai Rianti tahu, ia bakalan senang sekali. Tapi ngomong-ngomong, kapan kamu mulai menghafal Al-qur'an? Perasaan, di pondok dulu kamu tidak pernah menghafal?" tanya Suhaini heran. Zulhiyani mendesah panjang. Matanya kini diarahkan ke langit-langit ruang. Agak lama ia terdiam. Binar-binar di matanya seperti sedang membawanya ke masa lalunya. Ia kembali mendesah panjang dan menatap ke arah Suhaini.
"Sejak aku kabur dari pesantren, aku merasa bersalah. Seharusnya aku minta ijin baik-baik kepada bu Nyai, apapun resikonya. Kesedihanku bertambah saat mengetahui ibu Nyai telah meninggal. Aku merasa, akulah penyebab semua itu. Sejak saat itu, aku merasa telah berkhianat kepada guruku, kepada pesantren yang telah memberiku banyak sekali pengetahuan. Sebagai santri, aku telah ingkar kepada guruku." Zulhiyani menundukkan pandangannya. Isak tangisnya mulai terdengar. Suhaini berusaha menguatkannya. Lengan Zulhiyani diusapnya. Inak Nurmah hanya terdiam menatap Zulhiyani.
"Itu sebabnya aku mulai menyibukkan diriku menghafal Al-qur'an. Tinggal tiga juz lagi hingga akhirnya aku jatuh sakit. Aku ingin menyelesaikannya. Setidaknya , ini adalah bentuk terimakasihku kepada Allah, yang telah mempertemukanku kembali dengan keluarga besar almarhumah Nyai Mustiani," kata Zulhiyani sambil terisak-isak. Suhaini tersenyum.
"Insya Allah, kami akan membantumu menuntaskan hafalanmu. Terus terang, aku iri kepadamu. Kami saja yang sehat tak pernah menyempatkan diri untuk sekedar menghafalkan beberapa ayat dari Al-qur'an,an padahal kami diberi kesehatan oleh Allah. Kamu luar biasa, Zulhiyani," kata Suhaini.
__ADS_1
"Alhamdulillah," desah Zulhiyani.
"Ayo, sekarang aku suapi kamu makan ya. Cepat sehat biar kita bisa kumpul lagi di pesantren," kata Suhaini. Ia segera melangkah mengambil beberapa bungkus nasi yang tadi dibelinya. Ia kemudian mulai menyuapi Zulhiyani. Inak Nurmah sendiri tampak sibuk merapikan rambut Zulhiyani.
* * * * *
Tiba di lobi rumah sakit, Tuan Guru Izzul Islam menyuruh Rianti dan Nur Jamila langsung ke ruang perawatan Zulhiyani. Tuan Guru Izzul Islam sendiri langsung menuju ruang TU klinik untuk melihat hasil pemeriksaan laboratorium Zulhiyani.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang melihat beberapa klise photo rontgen yang ia buka dari amplop besar berwarna putih yang diberikan petugas. Tuan Guru Izzul Islam tak terlalu mengerti dengan istilah-istilah asing yang tertera dalam gambar.
"Mohon maaf, Pak. Mohon dijelaskan. Saya tidak begitu faham," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia menyodorkan kembali photo rontgen kepada petugas. Petugas itu tersenyum.
"Yang putih ini adalah cairan yang menggenangi jantung pasien. Pasien juga mengidap hiponatremia, Kekurangan natrium ini merupakan gangguan elektrolit serius yang biasanya terlihat pada orang yang memiliki tingkat hormon antidiuretik sangat rendah. Penyakit ini juga diakibatkan oleh komplikasi penyakit medis lainnya. Asupan nutrisi yang kurang dalam jangka waktu yang panjang adalah penyebab awalnya." Petugas itu meletakkan photo rontgen di tangannya dan mengambil photo rontgen yang lain.
"Dan ini, ada tumor dalam tubuh pasien yang sudah menyebar sampai ke otak." Petugas itu mendesah panjang. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Kemungkinan pasien selamat hanya sepuluh persen, Pak," lanjut petugas. Tuan Guru Izzul Islam memgangguk kecil.
"Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak. Emmh...,kira-kira kapan jadwal operasinya, Pak," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Petugas itu memeriksa beberapa buku besar yang tersusun disampingnya. Ia mengeluarkan satu buku diantara tumpukan buku-buku itu. Untuk beberapa saat ia sibuk mengarahkan ujung bolpointnya ke arah daftar tuisan di lembaran buku itu.
"Pasien atas nama Zulhiyani...., sebentar ya, Pak, Emmh...Insya Allah satu minggu lagi, Pak. Mudah-mudahan pengobatan selama satu minggu ini berpengaruh pada fisik pasien," kata petugas. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.
__ADS_1
"Baik, terimakasih, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil menjabat tangan petugas itu. Setelah itu ia bergegas melangkah menuju ke ruang perawatan Zulhiyani.