
Malam mulai beranjak larut. Sulastri yang tidak bisa tidur malam ini memilih keluar dan duduk di teras rumah. Setelah beberapa jam tadi ia sibuk memeriksa beberapa catatan terkait laporan persiapan panen mutiara, dia tidak bisa tidur sekalipun kantuk menderanya.
Secangkir teh hangat yang ia buat sendiri di minumnya sambil menikmati suasana yang hening. Lampu di teras rumah ia matikan. Begitu juga lampu di samping rumah. Ia ingin menikmati malam ini dalam suasana remang-remang.
Sulastri mengarahkan pandangannya ke pos jaga. Sepi. Pak Bayan dan pak Ahmad mungkin sudah tidur. Tak ada terlihat asap rokok yang mengepul, juga suara musik seperti biasanya. Suara jangkrik dan kodok terdengar sesekali riuh seperti sedang memainkan musik malam yang khas.
Sulastri menoleh. Ia seperti mendengar suara langkah kaki dari arah samping. Suara itu terdengar semakin mendekat, tapi tiba-tiba terhenti dan tak terdengar lagi.
"Pak Mustarah." Sulastri mencoba memanggil. Tak ada jawaban. Suasana kembali hening.
Di balik rerimbunan tanaman hias samping rumah, Nurul terdiam memandang Sulastri yang kini mengarahkan pandangannya tepat ke arah rerimbunan tempat ia berdiri. Bergerak sedikit saja, Sulastri pasti akan melihatnya. Dia akan merasa malu jika sampai Sulastri memergokinya bersembunyi di sana.
Nurul mendesah perlahan. Ia sedari tadi belum juga bisa memejamkan matanya. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Sulastri. Dan ketika Bagas sudah tertidur, ia memberanikan dirinya keluar. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang mengganjal di hatinya kepada Sulastri. Tapi ia masih ragu. Ia takut perkiraannya meleset dan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Nurul memencet hidungnya keras. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin bersin. Nurul panik. Bersinnya sudah tidak tertahan lagi.
Haccing!
Sulastri mengerutkan dahinya. Dia melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak di rerimbunan tanaman hias. Nurul meringis memejamkan matanya. Ia merasa sangat malu. Sulastri akhirnya akan mengetahui keberadaannya.
Nurul perlahan keluar dari rerimbunan. Masih dengan kepala tertunduk.
"Siapa itu," kata Sulastri. Nurul tak menjawab. Ia terus berjalan menuju mendekat ke arah Sulastri. Sulastri mengernyitkan keningnya ketika tahu orang yang ada di depannya adalah Nurul.
"Nurul?"
Nurul tersenyum. Ia malu mengangkat wajahnya.
"Ya, Allah, Nurul. Kenapa bersembunyi di sana. Kamu mau kemana?" kata Sulastri. Ia bangkit dan mengajak Nurul duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kamu lapar?" tanya Sulastri. Ia mencoba menebak. Dalam keadaan hamil tua seperti itu, Nurul pasti cepat lapar.
Nurul menggeleng.
"Ayo katakan, jangan malu-malu. Anggap ini rumahmu dan anggap aku saudaramu," kata Sulastri. Nurul tersipu malu.
"Atau kamu lagi memikirkan biaya persalinan?, atau..., tempat tinggal, barangkali,"
Nurul tetap tak menjawab. Di hadapan Sulastri ia benar-benar kaku. Tenggorokannya tercekat. Apalagi ketika Sulastri tak memberinya kesempatan berpikir karna terus menebak maksud kedatangannya malam ini.
"Kalau masalah-masalah itu yang sedang kamu pikirkan. Kamu tenang saja. Kamu sudah dapat tunjangan dari perusahaan untuk biaya melahirkan."Sulastri mengusap punggung Nurul.
"Terkait tempat tinggal, kalian sudah setuju untuk membantuku mengurus panti asuhan. Kalian bisa tinggal di sana selama kalian mau. Jadi, gak usah membebani pikiranmu. Jika kamu sudah berada di rumah ini, maka kamu sudah jadi bagian dari keluarga besar kami," lanjut Sulastri.
"Terimakasih, Kak. Kakak baik sekali," kata Nurul. Sulastri tersenyum. Suasana sejenak kembali hening. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka berdua seperti sama-sama menunggu. Nurul mendehem mengusir dahak di ujung tenggorokannya.
"Terkait dengan kepindahan kak Bagas?" Suara serak Nurul membuyarkan kebisuan. Sulastri tersenyum.
"Itu gak usah lagi dipikirkan. Saya pastikan Bagas akan pindah kerja ke sini. Dia akan roling dengan karyawan asal Bima yang sudah lama bekerja di Segui. Kamu gak usah khawatir tentang itu. Yang penting tetap peringatkan suamimu agar bekerja semaksimal mungkin. Siapa tahu nanti bisa dipromosikan lebih tunggi jika kinerjanya bagus," kata Sulastri. Nurul menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya, bukan itu yang ingin aku bicarakan, Kak," kata Nurul. Sulastri menoleh. Ia mengerutkan dahinya. Matanya setengah memincing. Mencoba mencari tahu apalagi gerangan yang jadi permasalahan Nurul. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak tentang kemungkinan Nurul sedang ada masalah dengan Bagas. Atau mungkin Bagas berulah dan ini ada kaitannya dengan dirinya. Apakah Bagas masih belum berubah juga? Batin Sulastri.
Sulastri masih menunggu Nurul bicara. Kali ini ia harus menunggu tanpa menanyakannya terlebih dahulu. Ia menatap wajah Nurul sejenak. Wajah polos Nurul mengingatkannya kepada dirinya saat pertama kali menikah dengan Bagas. Ia bisa memperkirakan umur Nurul mungkin sekitar dua puluhan. Tapi wajah keibu-ibuan Nurul menutupi usia sebenarnya. Sulastri mendesah dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dengan itu mungkin Nurul lebih leluasa bercerita.
"Kakak janji ya. Kakak tidak akan marah," kata Nurul tiba-tiba. Sulastri tersenyum menganggukkan kepala. Ia memperbaiki posisi duduknya dan seperti telah siap mendengar cerita Nurul.
"Ini sebenarnya terkait kak Bagas," kata Nurul memulai ceritanya. Sulastri mengangguk-angguk. Tebakannya tentang terjadinya masalah dalam rumah tangga mereka mungkin benar.
"Saya tahu kalian sudah berpisah." Jantung Sulastri berdebar ketika Nurul melanjutkan kata-katanya. Ia mulai yakin, ini juga ada hubungannya dengan dirinya.
__ADS_1
"Saya sudah berkali-kali bilang sama kak Bagas untuk menikah lagi." Nurul menghela nafas panjang. Ia memberanikan diri menatap wajah Sulastri. Sulastri tersenyum. Berusaha tetap memperlihatkan perhatiannya mendengar pembicaraan Nurul.
" Saya ini dulu pernah nyantri, Kak. Ini mungkin terdengar bodoh. Kakak juga pasti beranggapan saya ini sok alim. Tapi terus terang, saya juga termasuk perempuan yang setuju dengan poligami dengan beberapa alasan. Itu yang saya katakan kepada kak Bagas. Saya hanya ingin kak Bagas selamat dari zina ketika ada saat saya tidak bisa melayani kebutuhan batinnya," kata Nurul panjang lebar dengan suara sesekali terputus-putus. Sulastri masih setia mendengarkan. Ia belum mau menanggapi kata-kata Nurul. Sepertinya, masih banyak yanga akan dikatakan oleh Nurul. Ia hanya melihat saja wajah polos Nurul saat bercerita.
Nurul menggerakkan tangannya pelan dan memegang tangan Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Kak, saya tahu kak Bagas masih mencintai Kakak. Saya juga tahu, Kakak masih mencintai kak Bagas. Saya ikhlas jika kak Bagas menikah lagi dengan Kakak."
Kata-kata Nurul membuat Sulastri terkejut. Ia melepaskan pegangan tangan Nurul. Sesaat tadi Sulastri sempat ingin marah mendengar kata-kata Nurul. Tapi ia segera sadar. Sebagai tuan rumah yang baik, ia tidak ingin membuat Nurul malu. Ia mendesah dan tersenyum. Ia meraih tangan Nurul dan menggenggamnya erat.
"Bagas adalah mantan suamiku. Kami telah bercerai. Hubungan kami saat ini hanyalah sebatas ayah dan ibu untuk anak-anak kami. Aku saat ini masih menjadi istri pak Yulian Wibowo sekalipun ia sudah meninggal dunia. Aku ingin menjadi istri yang setia. Walaupun dengan apa yang aku miliki sekarang aku bisa mendapatkan suami yang mungkin lebih baik dari Bagas, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku ingin tetap setia menjadi istri pak Yulian, di duniadan akhirat nanti."
Nurul menundukkan kepalanya. Sulastri menatapnya dalam. ******* pelan Nurul seperti sedang mengeluarkan kekecewaannya. Apa yang dikatakan Nurul mungkin benar. Ia tulus menawarkan Bagas untuk menikah lagi, tapi rasa kepada Bagas telah hilang oleh harapannya untuk dipersatukan lagi dengan Yulian Wibowo kelak di akhirat. Dia tidak akan pernah menikah lagi. Dia ingin mati tetap dalam statusnya sebagai istri Yulian Wibowo.
"Sudah, gak usah berpikir yang tidak-tidak. Menurutku, kamu sudah berusaha menjadi istri yang shalehah untuk suamimu. Poligami memang di anjurkan dalam beberapa hal. Tapi Al-qur'an sebagai pedoman beragama kita, tetap mengedepankan keadilan bagi orang-orang yang ingin berpoligami. Jika takut tak mampu berbuat adil, maka Islam menekankan cukup satu saja," kata Sulastri. Nurul menganggukkan kepalanya.
"Kamu juga, jangan hanya bisa menyuruh suamimu menikah lagi. Kehidupanmu sebagai istri pertama harus sejahtera dulu. Jangan sampai diantara madu bertengkar terus hanya gara-gara pembagian uang yang tak banyak. Niat mencari ridha Allah akhirnya menjadi sia-sia karna permusuhan antara sesama istri," kata Sulastri.
Nurul tertunduk malu. Ternyata apa yang ada dalam pikirannya selama ini salah. Sorot mata Sulastri saat pertama kali diperkenalkan Bagas kepadanya saat di rumah kontrakan dulu, mungkin bukan sorot mata pengharapan untuk kembali bersama Bagas. Mungkin saja saat itu Sulastri sedang lelah. Seringkali apa yang tampak di luar menipu kita.
Sulastri memeriksa jam tangannya. Ia begitu kaget ketika jam sudah menunjukan pukul 2 malam. Tak terasa waktu begitu cepat bergulir. Sudah tiga jam lamanya ia duduk di teras rumah.
"Nurul, sudah jam dua. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu. Ingat, kamu sekarang sedang hamil. Jaga kesehatanmu agar bayi dalam perutmu juga sehat. Dan satu lagi, jangan membebani pikiranmu dengan sesuatu yang hanya ada dalam angan-anganmu."
Sulastri bangkit di ikuti Nurul.
"Kak, saya minta maaf jika saya lancang mengatakan semuanya pada Kakak. Saya benar-benar malu," kata Nurul. Sulastri memegang pundak Nurul dan menepuknya pelan.
"Tidak apa-apa. Aku selalu siap jadi teman curhat kamu jika aku punya waktu. Sekarang, pergilah ke kamarmu," kata Sulastri. Ia kemudian mengantar Nurul hingga ke samping rumah. Ia menatap Nurul hingga Nurul masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Malam semakin larut. Alam membisu. Seperti larut dalam zikir dan tasbih panjang memuji Tuhannya.
Nun jauh di sana. Di sebuah ruangan kecil. Di balik jeruji besi. Rianti terlihat khusyu' memulai shalat malamnya, di saat penghuni penjara lelap dalam tidur nyenyaknya. Hawa dingin yang menusuk dalam ruangan sempit tanpa penghangat, tak menyurutkan niat Rianti menghabiskan malam dengan bertobat menyesali perbuatan masa lalunya. Kedamaian yang ia rasakan saat memilih kembali ke jalan agamanya, membuatnya tak ingin menghabiskan waktunya sedetikpun untuk hal yang menurutnya sia-sia.