
Hari ini Lalya terlihat cantik sekali. Dengan balutan gamis warna orange dan jilbab dengan warna yang sama, membuat pandangan ibu-ibu tamu undangan yang memandangnya seperti tak ingin berpaling kepadanya. Tak henti-henti ia mengumbar senyum kepada tamu-tamu yang mengucapkan selamat kepadanya. Wajahnya terlihat ceria. Beberapa ibu-ibu tetangga yang punya anak laki-laki malah tak sungkan-sungkan menggoda Layla.
Bersama dengan Julia, ia terlihat sibuk membantu tetangga mempersiapkan makanan di meja prasmanan di halaman rumah. Tak Jauh dari tempat tamu-tamu perempuan, pak Nurasmin juga terlihat sibuk menerima tamu laki-laki yang mulai berdatangan.
Pak Nurasmin menengok ke dalam ruangan tempat zikiran hari ini. Sudah hampir penuh. Sudah jam 9 lebih. Tuan Guru Izzul Islam yang ditunggu-tunggu belum juga tiba. Sesekali ia masuk dan meminta permakluman kepada tamu undangan yang sudah lama menunggu untuk bersabar menunggu kedatangan Tuan Guru Izzul Islam dan keluarga.
Pak Nurasmin melangkah menuju pintu gerbang ketika melihat mobil kijang kapsul terlihat berhenti di luar pagar rumah. Ia tersenyum ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam keluar dari dalam mobil. Para tamu undangan di dalam rumah serempak berdiri ketika mengetahui kedatangan Tuan Guru Izzul Islam. Mereka satu persatu keluar dan berdiri menyambut Tuan Guru Izzul Islam.
"Assalamualaikum," ucap Tuan Guru Izzul Islam sambil mengangkat kedua tangannya ke arah tamu undangan. Satu persatu, ia, Fahmi dan Zaebon mulai menyalami orang-orang yang berdiri menyambutnya. Rianti, Jamila dan Qurratul Aini sendiri di sambut Layla dan Nyai Indrawati yang langsung mengajaknya masuk lewat pintu sebelah yang telah disediakan untuk tamu perempuan.
Tak beberapa lama kemudian, suara tahlil mulai terdengar. Suasana di luar rumah yang tadinya ramai, kini tak terdengar lagi. Mereka khusyu' mengikuti acara zikir yang dipimpin oleh Tuan Guru Izzul Islam.
"Layla, kamu buatkan dulu kakak-kakakmu minuman. Sambil menunggu kak Tuanmu selesai zikiran," kata Nyai Indrawati. Layla mengangguk dan langsung melangkah menuju dapur.
"Dik Layla, sini duduk," panggil Rianti setelah Layla kembali dari dapur dan meletakkan beberapa minuman di hadapan ketiganya. Karna tidak ada kursi yang kosong, Julia mengambilkannya kursi plastik di luar dan meletakkannya di depan ketiganya. Rianti tersenyum. Pandangannya tak berpaling dari menatap Layla. Layla terlihat sangat berbeda dengan yang ia lihat beberapa tahun yang lalu. Lebih dewasa dan tampak anggun. Mukanya tampak jernih dan bercahaya. Memandangnya terlihat sejuk. Menyadari Rianti terus menatapnya, Layla menundukkan wajahnya malu.
"Kami bertiga sangat bahagia dengan prestasi yang dicapai dik Layla. Sudah cantik, pintar, penghafal Al-qur'an lagi," kata Rianti memulai pembicaraan. Layla tersipu malu.
"Jangan terlalu disanjung, Bu Nyai. Nanti Laylanya tak sadarkan diri," goda Julia yang duduk di belakang Layla sambil memperbaiki letak kaca matanya. Layla menoleh ke belakang dan mencubit paha Julia. Julia pura-pura mengaduh kesakitan. Semua yang melihatnya dibuatnya tersenyum.
"Dik Layla nanti ikut ngajar di pesantren ya? Kakak-kakakmu yang lain ini mulai sibuk ngurus anak," kata Qurratul Aini sambil menoleh ke arah Rianti dan Jamila. Keduanya hanya tersenyum.
"Mudah-mudahan saja Dik Laylanya nikahnya gak jauh-jauh, biar dapat ijin dari suaminya," sahut Jamila. Rianti ikut menganggukkan kepalanya. Layla hanya tersenyum.
"Rencananya mau lanjutkan S2 dulu, Kak," kata Layla setelah memperbaiki posisi duduknya.
"Owh,"Rianti menganggukkan kepalanya.
"Aku kira mau langsung S3," kata Rianti menggoda. Orang-orang yang serentak tertawa.
"Tapi ngomong-ngomong kamu mau S2 dimana?"sambung Rianti setelah tawa mereka reda.
__ADS_1
"Ada program pesantren buat para santri penghafal yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan di Mesir. Mudah-mudahan Layla juga dapat kesempatan," kata Layla.
"Amin,"jawab mereka serempak.
Pembicaraan mereka terhenti saat bu Sofia masuk ke dalam ruangan.
"Nak, teman-teman kamu menunggu di luar. Katanya alumni dari MA Yaqin Pemondah," kata bu Sofia setengah berbisik. Layla kemudian bangkit. Setelah menoleh ke arah luar dari balik kaca jendela, ia mengajak Julia keluar setelah meminta ijin kepada Rianti, Jamila dan Qurratul Aini.
"Rianti, apa kamu tidak ingin mengajak Layla bicara terkait syarat yang dulu kamu ajukan kepadanya. Mungkin saja dia malu jika harus bicara lebih dulu," bisik Jamila kepada Rianti saat Quratul Aini pergi ke kamar mandi. Rianti terdiam sejenak. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendesah.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi aku ragu.Aku kok tiba-tiba malu sama Layla. Dia beda banget," kata Rianti.
Jamila menoleh ke sampingnya. Setelah itu, ia kembali mendekatkan kepalanya ke arah Rianti.
"Ada baiknya kamu panggil Layla dan ajak dia bicara. Sekedar memastikan saja. Kasihan juga kan kalau dia ternyata menunggu kamu mengatakannya lebih dulu," bisik Jamila lagi. Rianti kembali mendesah. Ia menoleh ke arah kaca jendela. Ia menatap Layla yang nampak ceria bersama teman-temannya di halaman rumah. Ia segera memalingkan kembali wajahnya ketika melihat bu Sofia kembali masuk ke dalam ruangan.
"Nanti kita bicarakan lagi," bisik Rianti.
"Bu, anakmu mana? Nak Izzul katanya mau cepat-cepat pulang," kata pak Nurasmin kepada bu Sofia yang masih sibuk membersihkan sisa-sisa makanan di atas lantai.
"Ada di luar sama teman-temannya," jawab bu Sofia. Ia menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Memangnya mau kemana, Nak Izzul. Kok buru-buru mau pulang."
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Jam dua nanti saya ada urusan sedikit ke balai kota, Bu" jawab Tuan Guru Izzul Islam.
Bu Sofia menganggukkan kepalanya lalu bangkit.
"Sebentar, ibu mau panggilkan Layla," kata bu Sofia. Ia kemudian bergegas keluar rumah. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali lagi bersama Layla.
__ADS_1
"Jam berapa berangkat dari bandara, Dik Layla," tanya Tuan Guru Izzul Islam setelah Layla duduk bersama bu Sofia di samping pak Nurasmin.
"Insya Allah, sekitar jam 7 pagi, Kak Tuan,"
Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Ia menoleh ke arah Jamila, Rianti dan Qurratul Aini.
"Nanti Kakak-kakakmu akan ikut semua mengantarmu ke bandara," kata Tuan Guru Izzul Islam. Layla menganggukkan kepalanya.
Rianti, Jamila dan Qurratul Aini tersenyum.
"Siap, Kak Tuan. Bila perlu Dik Layla nginep dulu di rumah. Selama menikah dengan Kak Tuan, tak pernah sama sekali dik Layla berlama-lama di rumah. Mau kan, Dik Layla?" kata Rianti. Ia mengarahkan pandangannya kepada Layla. Layla menggaruk-garuk pungung lehernya dan menoleh ke arah pak Nurasmin dan bu Sofia.
"Apa kata ibu dan Bapak saja, Kak," jawab Layla. Bu Sofia tersenyum.
"Biar nanti Kakak yang mintakan ijin sama ibu," kata Rianti.
"Kami berdoa semoga perjalanan Dik Layla ke Brunai diberi kelancaran oleh Allah swt. Dan tentunya kembali dengan selamat dengan membawa gelar juara, walaupun bukan itu yang jadi prioritas kita mempelajari Al-qur'an. Kami sebagai keluarga tentunya sangat bangga dengan pencapaian Dik Layla. Semoga ilmu yang Dik Layla miliki, kelak bisa bermanfaat terutama untuk agama kita," kata Tuan Guru Izzul Islam memberi nasehat. Semua yang hadir serempak mengaminkan.
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu, Pak, Bu. Sudah hampir dhuhur," sambung Tuan Guru Izzul Islam setelah beberapa saat terdiam. Bu Sofia dan pak Nurasmin menganggukkan kepala.
"Oh ya, Dik Layla. Nanti kami bisa nonton Dik Layla dimana ya?" kata Rianti sambil memegang tubuh Layla dan merangkulnya keluar menuju mobil yang terparkir di luar gerbang.
Layla menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum.
"Layla gak tahu juga, Kak. Di youtube kali," jawab Layla.
"Gak masalah, pokoknya Kakak-kakak semua harus nonton," kata Rianti. Ia melepaskan rangkulan tanganya dan bersalaman dengan Layla.
"Mari, Pak, Bu. Assalamualaikum," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil mengangkat kedua tangannya setelah mereka semua telah masuk ke dalam mobil.
"Wa alaikum salam," jawab pak Nurasmin dan bu Sofia sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Tuan Guru Izzul Islam sekeluarga perlahan meninggalkan kediaman pak Nurasmin. Ketiganya kemudian masuk setelah mobil itu semakin menjauh.