KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#63


__ADS_3

"Pak Gazali, tolong ikuti mereka. Pastikan bu Castella dan non Rianti pulang ke rumah di jalan Cempaka. Pastikan mereka diperlakukan dengan baik. Pastikan segala kebutuhannya terpenuhi seperti biasanya," kata Sulastri. Ia mempersilahkan orang-orang yang masih berdiri untuk duduk di kursi masing-masing.


Sulastri mendesah. Ia memejamkan matanya sejenak. Berusaha menghilangkan rasa nervousnya saat memulai membuka rapat. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan orang-orang penting di perusahaan suaminya. Ia yang hanya lulusan Madrasah Aliyah, tiba-tiba saja harus memimpin rapat di perusahaan besar milik Yulian Wibowo. Ia harus meyakinkan dirinya bahwa semua kesuksesan dimulai dari awal. Ia juga harus meyakinkan orang-orang di depannya bahwa Yulian Wibowo tak salah memilihnya sebagai pemimpin perusahaan.


Sulastri menggenggam tangannya kuat dan perlahan membuka matanya. Satu persatu dilihatnya wajah orang-orang di depannya. Sulastri tersenyum. Bolpoin di saku jasnya di ambilnya dan diletakkanya di atas meja. Pak Sahril mengambil sebuah buku kecil dan meletakkannya di depan Sulastri.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,"


"Wa alaikum salam," jawab mereka serempak. Tatapan mereka tertuju ke arah Sulastri.


"Bapak-bapak yang terhormat. Saya harap, Bapak-bapak yang hadir di sini berkenan kembali mengisi jabatan yang telah ditinggalkan saat bu Castella memegang perusahaan ini. Perusahaan ini maju berkat kerja keras Bapak-bapak, dan saya bangga bisa berada di tengah-tengah orang-orang hebat seperti Bapak-bapak. Dengan bantuan Bapak-bapak, saya yakin bisa membawa perusahaan ini lebih maju lagi."


Sulastri menelan ludahnya dalam-dalam. Suasana hening membuatnya kikuk. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya melihat orang-orang di depannya hanya diam dan fokus menatap ke arahnya. Adakah yang salah dengan apa yang aku katakan tadi? Terlalu berlebihan kah? Batin Sulastri mulai resah.


Pak Munawar, orang yang paling dituakan di perusahaan itu tiba-tiba bangkit. Dada Sulastri berdebar. Orang-orang memandang ke arah pak Munawar.


Pak Munawar menatap ke arah Sulastri. Membuat jantung Sulastri semakin berdegup kencang. Ia menundukkan kepalanya. Resah mempermainkan bolpoin di tangannya.


Prok, prok, prok.


Terdengar suara tepuk tangan menggema di dalam ruangan. Sulastri mengangkat kepalanya. Kali ini semua yang hadir di dalam ruangan itu berdiri dan ikut bertepuk tangan. Suara riuh tepuk tangan memecah keresahan hati Sulastri. Sulastri tersenyum.

__ADS_1


"Saya mewakili teman-teman mengucapkan selamat atas kepemimpinan bu Sulastri. Kami yakin, bersama ibu kami akan bisa terus memajukan perusahaan ini," kata pak Munawar. Sulastri ikut bangkit dan menundukkan badannya. ia tersenyum.


"Terimakasih. Terimakasih," kata Sulastri. Ia menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Ia terharu dan tak menyangka akan dapat respon yang baik dari para petinggi perusahaan. Sulastri kembali mempersilahkan mereka duduk.


"Bu Sulastri, pekerjaan kita setelah ini adalah menjual balck casino sesuai dengan pesan dan harapan dari pak Yulian Wibowo." sela pak Sahril sesaat setelah Sulastri kembali duduk.


"Ya, Pak. Itu juga yang saya baca di surat bapak. Tapi, kalau boleh tahu, usaha apa yang kira-kira cocok untuk mengganti black casino. Saya mohon saran dari bapak-bapak." Sulastri menatap satu persatu ke arah peserta rapat.


"Kami sudah menemukan lokasi untuk membuat usaha baru sebagai pengganti black casino. Maaf, Bu. Saya terpaksa mendahului ibu. Lokasinya sangat bagus dan saya takut ada pebisnis lain yang mendahului kita," kata pak Sahril. Sulastri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Gak apa-apa, Pak. Bapak lebih mengerti dalam masalah ini. Jadi, saya serahkan semuanya kepada pak Sahril dan rekan-rekan."


"Tapi kami hanya menyiapkan lokasi yang tepat, Bu. Terkait apa usaha yang cocok, kami serahkan bulat-bulat kepada Ibu," kata pak Sahril. Sulastri terdiam beberapa saat. Ia tiba-tiba ingat saat disekap beberapa hari di sebuah komplek prostitusi terselubung. Saat ia duduk termenung, Ia membayangkan bahwa suatu saat tempat itu akan berubah menjadi tempat yang indah. Tempat keluarga menghabiskan waktunya berakhir pekan. Letaknya yang strategis dengan pemandangan yang indah di sepanjang sungai, membuat tempat itu layak untuk dikuasai. Keinginan itu hanyalah angan-angannya saat itu. Hayalan yang didorong keinginan untuk membebaskan teman-temannya dari cengkraman mami Zelayin. Tapi pak Sahril sudah terlanjur membeli lahan lain.


"Baik, Pak. Kita akan memikirkan usaha yang tepat untuk lokasi itu nanti setelah melihat lokasinya." Sulastri menoleh ke arah pak Sahril.


"Mungkin Pak Sahril bisa mengajak saya melihat lokasi tersebut," lanjut Sulastri.


"Segera Bu. Rencananya saya akan mengajak ibu jalan-jalan besok untuk melihat lokasi tersebut," kata pak Sahril sigap.


Sulastri tersenyum.

__ADS_1


"Bapak-bapak yang saya hormati. Mungkin hanya ini yang bisa kita bicarakan hari ini. Saya akan memanggil bapak-bapak kembali setelah ada perkembangan terkait usaha apa yang akan kita bangun di tempat baru itu. Saya rasa demikian, Pak," kata Sulastri. Seluruh peserta rapat menganggukkan kepala. Satu persatu mereka mendekat menjabat tangan Sulastri. Berpamitan sekaligus ucapan selamat.


Suasana terasa sepi. Hanya Sulastri ditemani pak Sahril dan pak Pratama yang masih tinggal di dalam ruangan itu.


"Oh ya, Bu. Ibu sebaiknya segera pindah ke rumah di jalan Daha. Ibu butuh tempat yang lebih nyaman bersama anak-anak," kata pak Sahril. Sulastri terdiam. Ia mengangkat kedua alisnya sembari mendongak ke atas. Ia akan kembali meninggalkan rumah kontrakan itu setelah beberapa hari ditinggalinya bersama anak-anaknya. Rumah kontrakan itu telah menyimpan kenangannya selama bertahun-tahun. Rumah yang menjadi saksi perjalanan hidupnya.


Sulastri mendesah. Ia sebenarnya masih punya trauma panjang jika harus kembali ke rumah di jalan daha. Rumah yang jadi saksi bisu bagaimana ia diperlakukan seperti binatang oleh Castella dan Rianti. Namun di rumah itu pula cintanya mulai bersemi untuk Yulian Wibowo. Masa indah yang begitu singkat namun keindahannya tidak akan hilang ditelan waktu.


"Bagaimana, Bu," tegur pak Sahril setelah menunggu lama Sulastri tenggelam dalam lamunannya.


Kembali Sulastri mendesah. Ia menatap wajah pak Pratama dan pak Sahril bergantian.


"Pak, bantu saya membesarkan perusahaan ini. Tegur saya jika memang saya salah dalam memimpin. Dan jangan ragu untuk mengajarkan saya apa yang seharusnya saya ketahui," kata Sulastri. Keduanya mengangguk seraya tersenyum.


"Itu sudah pasti, Bu. Kami berdua akan selalu mendampingi ibu memajukan perusahaan. Jasa pak Yulian begitu banyak dalam hidup kami. Tidak ada cara lain untuk membalasnya selain dengan melanjutkan cita-cita bapak," kata pak Sahril.


"Begitu juga dengan saya, Bu. Saya dulu adalah salah satu pemilik perusahaan di kawasan Tanjung Aan Praya. Saya bangkrut. Hampir saya bunuh diri karna beban hutang yang begitu banyak. Pak Yulian datang membantu saya dan melunasi semua hutang saya tanpa syarat pengembalian. Beliau hanya minta saya bekerja sungguh-sungguh untuk perusahaan ini. Saya tidak pernah minta di gaji oleh pak Yulian, tapi beliau marah besar ketika saya menolak mengambil gaji." Pak Pratama mengusap air matanya. Ia menangis terisak-isak. Pak Sahril mengusap-usap punggungnya.


" Beliau dulu memang terkenal nakal, tapi kenakalannya tertutupi oleh kebaikan dan kedermawanannya. Dan menakjubkan sekali, pak Yulian berubah seratus persen ketika menikah dengan ibu. Itulah sebabnya kami sangat yakin perusahaan ini akan maju di bawah kepemimpinan ibu. Pak Yulian saja bisa ibu taklukkan apalagi yang lain," kata pak Sahril menambahkan.


"Terimakasih, Pak." Sulatri mengusap air matanya. Cerita keduanya tentang Yulian Wibowo membawa kembali pikirannya kepada kenangan masa lalunya bersama Yulian Wibowo.

__ADS_1


"Jemput saya nanti malam setelah shalat isya, Pak. Bawa juga Trianti. Pak Pratama juga bawa istrinya ya. Saya ingin makan malam bersama kalian. Saya akan masak menu makanan buatan saya sendiri yang sangat disukai oleh almarhum bapak," kata Sulastri. Ia lalu bangkit dan mengajak keduanya meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2