
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari luar rumah. Tuan Guru Izzul Islam yang saat itu sedang berada di ruang tamu menikmati secangkir kopi menoleh. Ia tersenyum melihat Farida dan Rayhan dari balik kaca sedang berdiri di teras rumah. Ia segera bangkit dan menemui keduanya.
"Waalaikum salam, ayo masuk, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Farida dan Rayhan tersenyum. Mereka agak ragu untuk masuk. Mereka saling tarik untuk masuk lebih dulu. Melihat itu, Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya.
"Kalian kenapa sih. Kayak orang lain saja. Ayo masuk," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya akhirnya masuk. Mereka langsung dipersilahka duduk di ruang tamu oleh Tuan Guru Izzul Islam.
"Kapan kalian balik," tanya Tuan Guru Izzul Islam setelah keduanya duduk di sofa.
"Tadi malam setelah shalat isya', Tuan Guru. Kami di antar oleh pak Mustarah,"
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke belakang.
"Dik, Dik Rianti," panggilnya. Tak berapa lama kemudian, Rianti muncul. Senyum langsung terlihat mengembang ketika melihat Farida dan Rayhan tersenyum ke arahnya. Farida dan Rayhan langung bangkit dan memeluk Rianti.
"Kapan balik dari rumah," kata Rianti.
"Tadi malam, Kak,"
"Tadi malam? Tapi kok gak langsung ke sini? Sama ibu?"
"Gak, Kak. Kami diantar sama pak Mustarah saja. Ibu lagi gak enak badan. Ibu hanya nitip salam buat kakak," jawab Farida. Rianti tersenyum.
"Waalaikum wa alaihis salam," jawab Rianti.
"Sudah sarapan?"
Farida dan Rayhan tersenyum saling pandang. Tuan Guru Izzul Islam menyeruput terakhir kopinya.
"Ayo, ajak adik-adik sarapan dulu. Sudah jam setengah sembilan, saya juga mau langsung berangkat," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Jam berapa pulangnya, Kak," tanya Rianti.
__ADS_1
"Mungkin bakda dhuhur. Kalau saya pulangnya lewat jam dua, adik gak usah nunggu saya makan, adik duluan saja," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Rianti segera mendekat dan mencium tangannya. Setelah itu bergantian Farida dan Rayhan.
"Farida, Rayhan, nanti kalau mau ketemu sama kak Rianti nya, gak usah nunggu dulu di depan. Langsung masuk. Anggap rumah ini adalah rumah kalian sendiri," kata Tuan Guru Izzul Islam sebelum keluar rumah. Farida dan Rayhan tersenyum menganggukkan kepala. Ketiganya lalu mengikuti dari belakang Tuan Guru Izzul Islam yang hendak menuju tempat parkiran. Zaebon terlihat sudah berada di dalam mobil. Melihat Tuan Guru Izzul Islam berjalan ke arahnya, ia segera menyalakan mesin mobil.
Tuan Guru Izzul Islam melambaikan tangannya ke arah Rianti ketika mobil yang ditumpanginya bergerak perlahan meninggalkan rumah. Rianti tersenyum sembari ikut melambaikan tangannya hingga mobil itu hilang di balik tembok gerbang.
"Ayo, sekarang bantu kakak siapin makanan untuk kita ya. Kakak sudah masak makanan kesukaan kita, sambal jamur resep dari ibu," kata Rianti sambil merangkul tubuh keduanya masuk. Farida dan Rayhan yang tadinya masih merasa berada di rumah orang, kini sifat manja mereka kepada Rianti mulai muncul. Mereka bergelayut manja mengikuti Rianti menuju ke dalam rumah.
"Loh, siapa ini? Wah, wah, wah, cantik-cantik sekali." Farida dan Rayhan tersenyum malu ketika melihat Nyai Mustiani tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya ketika mereka hendak menuju dapur. Keduanya segera melepaskan rangkulan mereka. Mereka berdua tersipu malu dan mendekat ke arah Nyai Mustiani dan menyalaminya.
"Kapan kesini?"
"Barusan saja, Bu Nyai," jawab Farida. Nyai Mustiani tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Suamimu mana, Nak," tanya Nyai Mustiani. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Rianti.
"Sudah pergi, Bu. Ada undangan dari KBIH Bagek Ngempor," jawab Rianti. Kembali Nyai Mustiani mengangguk.
"Ibu mau ke rumahnya bu Nyai Arifin sebentar. Ada urusan sedikit," kata Nyai Mustiani.
"Tapi ibu kan belum sarapan,"
"Sudah, tadi ibu sarapan pakai roti tawar. Kata dokter, untuk sementara, ibu tidak bisa makan yang keras-keras. Pencernaan ibu masih lemah. Tapi kalau buat sambal jamur lagi, jangan lupa sisakan buat ibu,"kata Nyai Mustiani. Ia tersenyum. Sebelum meninggalkan mereka, ia menyempatkan mencolek pipi Farida dan Rayhan. Keduanya hanya tersenyum tersipu malu.
"Ayo, Nak. Jaga diri baik-baik. Dan kalian berdua, jangan kayak orang asing di rumah ini. Sering-sering temui kakakmu kalau ada sempat,"kata Nyai Mustiani. Keduanya mengangguk. Rianti kembali merangkul keduanya.
"Hati-hati di jalan, Bu," kata Rianti. Nyai Mustiani tersenyum.
Assalamualaikum," katanya sembari melangkah meninggalkan ketiganya.
"Waalaikum salam," jawab mereka serempak. Setelah tubuh Nyai Mustiani tak terlihat lagi di hadapan mereka, Rianti kemudian mengajak Farida dan Rayhan menuju dapur.
__ADS_1
* * * * *
seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil sedan warna hitam yang terparkir di depan gerbang. Ia memperhatikan bagian dalam rumah lewat celah-celah pintu gerbang yang belum dibuka. Seorang laki-laki lagi yang masih duduk di dalam mobil membunyikan klakson mobilnya.
Gerbang terdengar berdret. Laki-laki itu mundur beberapa langkah. Pak Bayan terlihat mendorong gerbang. Ia memperhatikan laki-laki di depannya. Laki-laki tersenyum dan mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak," kata pak Bayan.
"Apa benar ini rumahnya bu Rianti?"
"Benar, Pak. Ini rumah ibunya. Kebetulan, Non Rianti baru saja menikah,"
Laki-laki itu terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah temannya yang masih di dalam mobil.
"Tapi, Bu Riantinya sering kesini kan, Pak,"
"Kalau gak salah, tadi saya sempat mendengar ibu nelpon, katanya Non Rianti akan datang besok untuk menjenguk bu Sulastri yang sedang sakit," kata pak Bayan. Laki-laki itu melangkah menuju temannya. Setelah berbincang sejenak, ia kembali menemui pak Bayan. Ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dari balik jaketnya.
"Kalau begitu, saya titip ini sama bapak untuk bu Rianti," kata laki-laki itu sembari memberikan amplop itu kepada pak Bayan. Pak Bayan mengangguk. Di pandangnya kop surat yang sudah tidak asing lagi di matanya. Ia menatap lekat laki-laki di depannya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Terimakasih," kata laki-laki itu sambil menjabat tangan pak Bayan. Pak Bayan membalas dengan anggukan kepala.
Pak Bayan memperhatikan lagi kop surat yang ada di muka atas amplop. Ia mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba saja dadanya terasa berdebar-debar. Siapapun yang menerima surat itu tentu akan merasakan hal yang sama dengan dirinya. Walaupun surat itu tidak ditujukan untuk dirinya, tapi Rianti sudah ia anggap keluarganya sendiri. Rianti dan keluarga bu Sulastri adalah keluarga terpenting dan berjasa dalam keberlangsungan hidupnya. Seperti halnya keluarganya, ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa keluarga Sulastri.
Pak Bayan menutup kembali pintu gerbang. Ia melangkah menuju rumah. Bi Aisyah yang terlihat keluar dari dalam rumah segera dipanggilnya.
"Bik, Apa ibu sedang isirahat?" kata pak Bayan.
"Ibu baru saja selesai makan dan minum obat. Memangnya ada apa, Pak Bayan," tanya bi Aisyah.
"Ini ada surat buat Non Rianti," kata pak Bayan. Surat itu diberikannya kepada bi Aisyah. Bi Aisyah meletakkan nampan berisi piring kosong di tangannya di atas meja teras rumah. Ia kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1