Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 10


__ADS_3

Mobil sudah tiba di rumah. Riga langsung turun dengan cepat meninggalkan Alfi begitu saja, ia masih sangat kesal pada Alfi, semua pertanyaan nya tadi tidak ada yang di jawab benar oleh Alfi. Berbeda dengan Riga, Alfi turun dari mobil secara perlahan, ia rasa Riga benar-benar sangat kaku, kadar toleransi yang Riga miliki sangat rendah, padahal diri nya hanya bercanda saja.


“Dia sangat pemarah, lihat dia pergi meninggalkan ku begitu saja, aku hanya bercanda pada nya. Apa dia tidak tau jika aku hanya bercanda, oh iya bagaimana mungkin dia bisa tau, pria kaku seperti nya tidak mungkin tau, dia memiliki kadar toleransi yang rendah.” Alfi berjalan masuk ke dalam rumah.


Di dalam kamar Riga dan Alfi seperti tidak saling mengenal, mereka berdua seperti orang asing yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Alfi dan Riga yakin dengan seperti ini tidak mungkin ada tumbuh perasaan di antara mereka berdua.


Setelah melihat Riga keluar dari kamar mandi dan naik ke atas kasur, baru lah Alfi masuk ke dalam kamar mandi. Ia sudah ingin mandi sejak tadi tetapi Riga baru selesai mandi.


“Sebenarnya apa yang ia lakukan di dalam kamar mandi, kenapa bisa selama ini,” batin Alfi.


Riga tau jika Alfi masuk ke dalam kamar mandi. Tadi ia sengaja sangat lama berada di dalam kamar mandi karena ingin melampiaskan kekesalan nya, ia berendam di bahdup sambil menonton televisi.


Keesokan paginya, Alfi turun dari kamar untuk sarapan pagi. Di meja makan sudah ada Sarah dan Selena, mereka berdua melihat Alfi seperti Alfi orang asing di sana, Alfi tidak memperdulikan itu, ia lebih memilih untuk segera sarapan.


“Bagaimana Selena, apa wanita itu sudah kamu temui,” tanya Sarah.


“Sudah tan, dia cantik dan sangat berkelas, wanita itu sangat cocok untuk kak Riga. Dia juga baru terjun ke dunia model,” jawab Selena.


“Wah itu dia wanita yang aku cari, wanita berkelas seperti Riga yang juga berkelas, bukan wanita kampungan,” kata Sarah.


“Wanita kampungan seperti apa tante, apa ada wanita kampungan di sini, mana mungkin di rumah ini ada wanita kampungan.”

__ADS_1


Alfi tidak peduli sama sekali jika diri nya di asing kan oleh Sarah dan Selena. Ia segera menyelesaikan sarapan nya dan langsung ke perusahaan untuk bekerja.


“Permisi,” ucap Alfi dah pergi meninggalkan ruang makan itu.


Sudah beberapa kali Alfi tidak berangkat bersama dengan Riga, saat selesai mandi Riga sudah tidak ada di kamar, ia yakin jika Riga memang enggan berangkat dengan nya. Begitu juga dengan Alfi yang malas berangkat bersama dengan Riga, ia juga tidak pernah berharap pergi ke kantor bersama Riga.


Sesampainya di kantor ia langsung mengerjakan tugas nya yang sudah tersedia di meja. Kinerja Alfi saat bekerja sangat bagus, ia mudah menyelesaikan tugas nya dengan baik, di pagi hari saja Alfi sudah menyelesaikan semua tugas nya.


“Ah akhirnya aku menyelesaikan semuanya, aku mulai terbiasa bekerja seperti ini,” ucap Alfi.


Alfi sudah terbiasa dengan kegiatan nya saat ini, semua pekerjaan yang ia lakukan tidak ada yang terpaksa lagi, Alfi memilih menikmati nya karena semua ini hanya sampai tiga bulan saja. Setelah itu ia bisa hidup normal kembali seperti biasanya.


Setelah istirahat siang, Alfi pergi ke toilet sejenak, ini adalah hal yang Alfi tidak suka baru saja ia mengisi perut nya ia malah mengeluarkan nya kembali. Jika di pikir-pikir percuma ia makan siang kali ini kalau hanya beberapa saat makanan itu di dalam perut.


Saat melihat meja nya Alfi terkejut karena mejanya telah terdapat setumpuk dokumen, padahal sebelum ia meninggal tempat ini pekerjaan nya sudah selesai dan tidak ada dokumen lagi di meja nya. Alfi curiga jika ini akal-akalan si ketua sekretaris. Ia tau Ketua sekertaris seperti tidak suka dengan nya. Alfi baru sadar jika orang yang membuat berkas ini ada di meja nya sedang berada tak jauh dari nya.


Alena tersenyum puas melihat wajah Alfi yang kebingungan dan terlihat kesal, ia sengaja memberikan banyak dokumen agar Alfi tersiksa siang ini. Semua ia lakukan sesuai dengan permintaan Kalina yang ingin Alfi tersiksa. Alena meminta pada Alfi agar semua data tersebut harus diinput hari ini.


“Kenapa kau terkejut,” tanya Alena.


“Ini pekerjaan saya, bukan nya hari ini saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan saya.”

__ADS_1


“Kata siapa selesai, semua data ini harus kau input hari ini juga, selesai kan dengan baik dan benar aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun, jika ada satu kesalahan kecil kau akan berurusan dengan ku,” kata Alena.


Alfi membuang nafas nya dengan perlahan, ia tidak yakin bisa menyelesaikan semua berkas ini hari ini juga. Tetapi meskipun begitu Alfi tidak menyerah, ia akan mengerjakan semuanya sebaik mungkin.


“Kenapa kau tidak mau,” tanya Alena.


“Aku tidak mengatakan hal apapun,” jawab Alfi sambil duduk ke tempat nya.


“Ya sudah kerjakan lah, jangan banyak berbicara,” kata Alena.


Ia mulai mengerjakan semuanya dengan cepat, ia tidak mau membuang waktu nya dengan banyak berbicara pada Alena. Alena masih berada di tempat ini. Ia ingin melihat langsung cara kinerja Alfi. Ia sudah memeriksa semua hasil kinerja Alfi dan semua sangat baik.


“Dia tidak seperti gadis kampung, semua sangat baik, waktu itu aktor yang bekerja dengan Alfi juga tidak ada masalah, malahan kata orang-orang mereka sangat dekat, kalau dia gadis kampung tidak mungkin ia bisa melakukan hal ini semua dengan baik,” batin Alena.


Alfi melihat ke arah Alena yang masih berdiri di


Tempatnya, ia tidak tau kenapa Alena masih berada di sana. Sambil tersenyum dan menggunakan nada halus Alfi langsung mengusir Alena di depan karyawan lainnya.


“Maaf, apa yang kamu lakukan di sini, kamu mau membantu menyelesaikan tugas saya, kalau hanya berdiri seperti itu, lebih baik kamu kembali ke tempat kamu, maaf sedikit mengganggu,” ucap Alfi.


Ucapan Alfi membuat Alena merasa malu, ia memberikan tatapan tajam pada Alfi, dan setelah itu ia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Alfi cukup puas mengatakan hal itu pada Alena, Hitung-hitung sebagai pelampiasan kekesalan nya pada Alena.

__ADS_1


“Sial berani nya dia mengatakan hal itu pada ku,” ucap Alena sambil kembali ke meja kerja nya.


Alena menarik kursi nya dan duduk dengan kesal. Alena merasa Alfi semakin berani pada nya, ia ingin lebih berhati-hati pada Alfi.


__ADS_2