
Melanie berjalan ke arah dapur dengan wajah yang kesal. Ia benar-benar kesal karena sifat Alvaro yang berubah secara tiba-tiba. Seperti nya memang Alvaro baik hanya untuk sesaat saja, sekarang sifat nya sudah kembali seperti semula. Kekesalan wajah melanie terlihat dengan jelas oleh Alfi yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Alfi sangat yakin sekali pasti alvaro sudah membuat masalah baru.
"Pagi mah," ucap melanie
"Pagi sayang bagaimana tidurmu nyenyak," saut alfi
"Sangat nyenyak mah maaf melani baru datang membantu mamah," kata Melanie.
"Hahaha tidak papa sayang mama paham kok. Wajahmu terlihat kesal apakah Alvaro membuat masalah baru," tanya Alfi.
"Ya begitulah namanya juga alvaro. Tidak ada hari tanpa masalah," jawab Melanie.
"Sabar ya sayang, dia hanya belum terbiasa dengan kehidupan baru nya," kata Alfi.
"Iya mah aku paham kok, harus lebih sabar saja dari biasa nya," ucap Melanie.
"Hari ini masak apa mah," tanya Melanie.
"Mama ingin memasak ayam dan sayur lainnya, tapi bingung apakah Alvaro mau makan atau tidak," jawab Alfi.
"Aku pernah membuat ayam sambal hijau, Alvaro makan dengan lahap tetapi karena terlalu pedas perutnya sakit. Aku tidak tahu jika dia tidak bisa memakan makanan pedas, dia tidak ada memberitahuku," ucap Melanie.
"Dia memang seperti itu, jika tidak di tanya mana mau memberitahu, kadang saja diri nya sendiri tidak sadar jika ia tidak bisa makan makanan pedas. Tetapi karena dia suka berarti kita masak apa yang kamu masak kemarin saja. Tapi mama saja yang memasak nya, apakah dia tahu masakan mu dengan masakan ku."
"Siap mah," ucap Melanie.
Alvaro kembali tertidur setelah pertengkaran paginya dengan Melanie. Sepertinya rencananya untuk menindas Melanie tidak mudah. Melanie bukan wanita yang mudah dipindah. Iya pasti akan melawan. Dari pada ia pusing memikirkannya lebih baik ia tidur saja.
"Wanita setan," batin Alvaro.
Setelah selesai membantu Alfi memasak Melanie kembali masuk ke dalam kamar. Ia menggelengkan kepala nya melihat Alvaro yang tengah tertidur kembali. Tetapi memang lebih baik ia tidur dari pada bangun yang membuat nya sangat kesal.
"Alvaro kata kau lapar, ayo makan," ucap Melanie sambil menggoyangkan tubuh Alvaro.
"Alvaro...."
"Hmmmm." Gumam nya tanpa membuka mata.
"Alvaro tadi kata mu lapar, mamah sudah memasak loh, jangan membuat masakan mamah sia sia," ucap Melanie. Kali ini kesabaran nya kembali sedang di uji. Ia berusaha lembut pada suami nya.
Sekali dua kali Melanie memanggil alvaro tetapi alvaro masih belum bangun juga, sebenarnya bukan belum bangun Alvaro sudah bangun sejak melanie menggoyang kan tubuhnya. Ia hanya malas membuka matanya. Kesabaran Melanie sudah sampai di ubun-ubun, tidak ada toleransi lagi untuk Alvaro. Tangan Melanie mengambil sebuah bantal dan langsung melemparkannya ke wajah alvaro.
"Gila," teriak Alvaro
"Sudah aku katakan bangun, tapi kau masih belum bangun juga, tadi pagi kau minta makan bukan? sekarang cuci muka mu ayo kita sarapan mamah sudah masak."
__ADS_1
"Tidak mau," tolak Alvaro.
"Kau ingin memancing amarah ku lagi," tanya Melanie.
"Kau pikir aku takut," jawab Alvaro.
"Alvaro jangan membuatku kesal oke, ayo sarapan mamah dan ayah mu sudah menunggu."
"Terserah ku, mau makan atau tidak. Hidup hidup ku, siapa kau."
"Ya sudah terserah mu, aku ingin mandi dan sarapan kalau kau tidak ingin makan tuh urusanmu," ucap Melanie.
Alvaro sangat kesal Melanie malah ingin pergi begitu saja, ia menarik tangan sampai Melanie terjatuh ke atas tempat tidur.
"Alvaro," teriak Melanie.
"Sebenarnya kau berbicara dengan siapa. Aku suamimu sopan sedikit memanggilku," kata Alvaro.
"Kau saja seperti itu padaku," ucap Melanie.
"Jangan memanggil namaku, aku tidak suka, kau sangat tidak sopan."
"Terus aku harus memanggilmu apa, iblis,setan atau apa?"
"Hahaha iya mas Varo Itu kan yang ingin kau dengar," kata Melanie.
"Ucapkan sekali lagi."
"Malas." Melanie ingin bangkit tapi Alvaro masih menahannya.
"Lepaskan aku ingin mandi," ucap Melanie.
"Katakan lagi aku ingin mendengarnya sekali lagi."
"Malas tidak enak memanggilmu seperti itu," kata Melanie.
"Katakan lagi melani atau aku akan mencium mu," ucap Alvaro.
"Mencium ku emang kau berani," tanya Melanie.
"Kau pikir kau siapa, untuk apa aku tidak berani padamu," jawab Alvaro.
Alvaro menarik kepala melani lebih dekat wajahnya, ia tersenyum manis saat Melanie berada di depan wajahnya.
"Jika tak ingin begini aku tampan tidak," tanya Alvaro.
__ADS_1
"Jujur kau itu sebenarnya tampan hanya saja mulut dan kelakuan mu itu yang membuat ketampanan mu menghilang," jawab Melanie.
"Yang aku katakan jika saat ini bukan yang lalu lalu, aku tampan tidak," tanya Alvaro.
"Iya kau tampan sudah puas," jawab Melanie.
"Puas apa aku saja belum mencium mu," ucap Alvaro
"Jangan mencium ku, kau belum sikat gigi pasti bau," kata Melanie.
"Enak saja mulutku itu wangi," untuk Alvaro.
Perlahan Alvaro mendekati bibi Melanie iya mencium Melanie dengan lembut, dan seperti biasa Melanie hanya diam tanpa membalas ataupun menolaknya. Alvaro suami ia tidak mungkin menolak nya. Apalagi hanya ciuman biasa seperti ini, saat berpacaran dengan praktik saja ya sudah pernah berciuman.
"Kau tidak bisa berciuman ya," ucap Alvaro.
"Maksudmu," tanya Melanie.
"Kenapa kau tidak membalasnya," tanya Alvaro.
"Wajib aku membalasnya?"
"Ya itu sangat wajib aku suamimu lakukan apa yang aku perintahkan," ucap Alvaro.
Alvaro kembali mencium bibir Melanie, ia menggigit bibir itu sampai Melanie membuka mulutnya, barulah ciuman itu ia pendalaman lagi. Melanie gelagapan karena ia belum pernah Berciuman sampai sedalam ini.
Awalnya saja Melanie gelagapan seperti itu, lama-lama ia mulai terbiasa dan membalas apa yang alvaro lakukan padanya sampai tiba mereka pun saling membalas.
Riga berjalan ke arah kamar alvaro, sedari tadi ia sudah menunggu mereka berdua di ruang makan, tetapi mereka berdua tidak kunjung datang, Riga yakin Alvaro membuat masalah baru sehingga mereka tidak turun juga. Karena sudah lapar sekali Riga memutuskan untuk memanggil mereka berdua.
Karena sudah terbiasa, tanpa mengetuk pintu Riga langsung membuka gagang pintu itu dan langsung masuk ke dalam. Matanya terbuka dengan lebar saat melihat anaknya menantu nya sedang ciuman dengan sangat panas.
"Maaf daddy kembali lagi saja," ucap Alvaro.
"Daddy," teriak Alvaro.
"Maaf daddy tidak tau," ucap Riga.
"Daddy sangat mengganggu aku."
"Aku tidak tahu aku pikir kau membuat masalah sampai kalian lama sekali turun ke bawah, tapi ternyata kalian ingin membuat cucu untuk ku. Apa tadi malem kurang puas Al sampai sekarang ingin lagi," tanya Riga.
"Puas apa nya, yasudah aku turun," ucap Alvaro.
"Tidak ingin lanjut al," tanya Riga
__ADS_1