
"Lepaskan," teriak Roy.
"Diam kau sudah membuat ulah, kau tidak tau siapa yang kau lukahi. Sahabat dekat tuan muda Nathan."
"Sial, ternyata dia sahabat dekat Nathan, habis nasib kita Roy," kata Jackie.
"Aku mana tau, aku hanya dendam pada nya, jika sudah dengan Nathan yang sembuh pendek, Terima saja nasib mu. Kau yang menembak nya," ucap Roy.
"Kurang ngajar kau Roy, jika sudah seperti ini, kau malah meninggalkan ku begitu saja. Aku menembak nya karena perintah mu."
"Aku tidak peduli, mau bagaimana pun alasan, di mata mereka kau tetap salah," kata Roy.
Nathan dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan itu. Mereka sudah sangat geram pada seseorang yang telah membuat Riga sampai seperti ini. Rasanya mereka ingin membuat orang itu merasakan apa yang Riga rasakan.
"Kau bajingan, kau apakan sahabat ku." Satu tendangan kuat mendarat di wajah Roy.
Nathan benar-benar sudah tidak bisa menahan amarah nya. Pembelajaran nya dalam mengendalikan emosi gagal totol. Jika sudah menyangkut orang terdekat nya, Nathan pasti akan lepas kontrol.
Sebenarnya bukan hanya Nathan, yang lainnya nya juga sudah benar-benar sangat geram, tetapi mereka masih bisa mengendalikan emosi mereka. Membiarkan Nathan puas terlebih dahulu, setelah itu baru lah giliran mereka untuk menghabisi Roy dan Jackie.
"Sudah Nathan, ingat apa yang harus kau lakukan beberapa hari ke depan. Jangan biarkan emosi mu sampai merusak semua nya." Stiven tidak ingin semua yang sudah di susun gagal karena emosi Nathan, emosi nya saati ini pasti akan mempengaruhi Nathan beberapa hari ke depan.
"Kakek, aku belum puas," ucap Nathan.
"Jangan aku bilang," kata Stiven.
Nathan memutuskan untuk berhenti, ia mundur dan membiarkan yang lainnnya membalaskan dendam Riga. Tidak afdol bagi mereka jika tidak memukul Roy dan Jackie.
__ADS_1
"Rasakan bajingan, kau berani membuat anak ku seperti ini," ucap Varo.
Tak butuh waktu lama Jackie dan Roy sudah tidak berdaya. Mereka berdua lemas babak belur akibat hantaman kuat dari mereka semua.
"Mati kau," ucap Roger.
"Mau kalian apakah mereka," tanya Nathan.
"Buang saja ke laut," jawab Aldy.
"Sudah kalian pergi lah, aku yang akan mengurus mereka semua," ucap Stiven.
Mereka semua nurut saja apa yang dikatakan Stiven. Siapa yang berani melanggar apa yang Vino katakan, Nathan saja sebagi cucu nya sama sekali tidak berani melanggar apa yang di katakan kakek nya. Meskipun hubungan mereka berdua kurang baik.
"Kau sangat cepat datang," ucap Aldy.
"Kami sangat berterimakasih pada mu," ucap Aldy.
"Iya benar, kau sangat keren. Apalagi kakek mu, semua nya sangat keren Riga sangat beruntung bisa berkenalan dengan kalian," kata Roger.
"Riga sudah seperti abang ku, kami memang sering berselisih paham tetapi aku sangat tidak Terima ia sampai seperti ini."
"Aku juga tidak menyangka semua nya jadi seperti ini. Memang beberapa hari lalu dia sempat berselisih dengan mereka berdua. Itu semua karena salah satu dari mereka menggoda istri nya. Kau tau kan Riga bagaimana, harga diri nya benar-benar sangat tinggi, siapa yang berani menggoda istri nya berarti sama saja menginjak nginjak harga diri nya," ucap Roger.
"Jangan kan Riga aku saja tidak Terima, aku juga pernah suka pada Alfi, aku rela mengalah pada Riga, hanya Riga yang boleh menyentuh Alfi. Jika aku tau itu tadi, langsung aku bunuh mereka berdua," kata Nathan.
Stiven berjalan mendekati Roy yang sudah babak belur. Ia masih bingung harus mengapakan bajingan ini.
__ADS_1
"Kau sudah pernah aku berikan kesempatan bukan, tetapi kenapa kau mensia-siakan nya. Jika ini mau mu aku tidak bisa memberikan mu kesempatan untuk ke dua kali nya."
"Ampun tuan, aku tidak tau jika dia sahabat cucu mu. Aku juga tidak berniat mengotori kapal mu," kata Roy.
"Jika bukan karena kau keponakan jauh ku, sudah aku buang kau ke laut. Aku masih punya hati, kau lepaskan dengan pengawasan yang sangat ketat Mengasingkan mu adalah hal yang tepat untuk saat ini." Stiven pergi meninggalkan Roy.
Ia tidak mungkin membuang keponakan jauh nya. Lebih baik ia mengasingkan nya agar Roy bisa jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika Roy tidak berubah juga, ia tidak ada pilihan lain selain menghabisi nyawa keponakan jauh nya sendiri.
Alfi sudah berada di ruangan tempat Riga di rawat, Wajah pucat dan sangat menyedihkan lah yang bisa Alfi lihat. Rasa nya sangat sakit untuk Alfi Riga yang sangat aktif akhirnya diam tidak berdaya.
"Sayang kenapa jadi seperti ini, kamu sudah janji pada ku untuk selalu bersama ku, kamu sudah janji untuk menemani ku, kenapa kamu seperti ini. Aku mohon kamu bangun sayang." Alfi menangis sambil mencium tangan Riga. Tangan yang terasa sangat dingin sekali, hal itu benar-benar membuat Alfi sangat takut.
Alfi hanya diberikan waktu beberapa menit saja di dalam sana. Setelah sudah merasa cukup Alfi keluar untuk bergantian dengan yang lainnya. Varo ayah dari Riga juga ingin masuk ke dalam sana.
"Sudah Alfi," tanya Varo.
"Sudah yah." Alfi berjalan mendekati Tiffany dan langsung memeluk Tiffany dengan erat.
Varo bingung harus masuk atau tidak. Ia takut tidak kuat dan menangis seperti Alfi. Itu pasti sangat memalukan untuk nya. Dengan tarikan nafas Varo masuk ke dalam ruangan itu.
"Sayang anak ayah, kamu kuat. Kamu bisa melewati ini semua. Jangan terlalu lama seperti ini sayang, ayah benar-benar sangat merindukan celotehan mu. Kamu tau teman mu Nathan benar-benar luar biasa. Dia datang dengan cepat untuk membalas kan semuanya. Maafkan ayah, ayah tidak tau apa yang harus ayah katakan, ayah takut menangis jika terlalu serius," ucap Varo. Ia memang sangat takut menangis di depan Riga. Ia datang untuk memberikan semangat untuk Riga bukan untuk membuat Riga semakin sedih.
"Ayah benar-benar sangat bangga pada mu. Harga diri mu memang harus dipertaruhkan," ucap Varo.
Setelah Varo baru lah si bestie setia, siapa lagi jika bukan Nathan. Pria yang sangat banyak membantu Riga sejak dulu.
"Hay boy, kenapa kau lemah seperti ini. Aku sangat kesal dengan mu, kau memberikan ku kabar yang sangat tidak aku sukai. Aku juga tidak Terima jika Alfi diperlakukan seperti itu, kau benar, Harga diri kita sebagai pria memang sangat tinggi. Kau jangan khawatir, aku sudah membereskan semua nya," kata Nathan. Nathan merasa seperti orang bodoh berbicara dengan seseorang yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1