
"Riga." Nathan berlari mendekati bestie nya itu.
"Lihat dia seperti anak ku, hahaha." Riga bangkit dari tempat duduk nya.
Mereka berdua sudah cukup lama tidak bertemu. Tentu saja sebagai bestie mereka berdua saling merindukan. Apalagi sebelum nya hampir setiap hari mereka berdua bertemu dan memiliki jadwal bermain golf berdua.
"Kau sudah semakin berotot saja."
"Hahaha jelas, calon CEO harus melati otot nya," ucap Nathan.
Setelah berpelukan sejenak mereka berdua kembali duduk.
"Siapa," tanya Nathan.
"Aku Aldy teman nya Riga," jawab Aldy.
"Oh aku Nathan, senang bertemu dengan mu."
"Kau ya sibuk sekali, sudah lama tidak menghubungi ku, tidak pulang ke Indonesia," kata Riga.
"Aku sangat sibuk. Memang handphone saja kalau ada hal yang penting. Aku juga sedang mengerjakan proyek besar sebelum aku naik ke jabatan utama, hal itu membuat ku sangat pusing dah benar-benar harus fokus."
"Hahaha yang sabar ya, pasti akan ada hasil terbaik. Oh iya kau sudah punya pacar," tanya Riga.
"Bagaimana aku punya pacar, gadis yang aku suka saja menikah dengan mu. Hahaha aku bercanda, kau tau kan aku di larang berpacaran. Aku tidak mempunyai pacar tapi aku sedang kagum dengan seorang wanita," jawab Nathan.
"Hanya kagum saja, tida berani mengatakan nya untuk apa," kata Riga.
"Sabarlah, semua perlu proses. Dan kau tiba-tiba menghubungi ku ada apa? jarang jarang kau mau menghubungi ku terlebih dahulu," ucap Nathan.
"Hmmm ini teman ku, dia sedang mengalami kesulitan uang. Kau bisa meminjamkan nya. Aku hanya bisa memberikan nya sedikit," kata Riga.
"Kau kaya raya, tidak bisa meminjamkan teman mu uang, berapa nominal nya," tanya Nathan.
"10 Triliun, aku hanya bisa memberikan nya 200 M," jawab Riga.
"Mati 10 Triliun," ucap Nathan.
"Aku mohon Nathan, kita memang tidak kenal, tapi aku benar-benar sangat memerlukan nya," ujar Aldy.
Aldy terus melihat ke arah depan sana, ia tidak mau Putri mendengar semua nya. Ia meminta Putri untuk duduk sendiri dulu karena ada hal penting yang akan di bahas. Putri yang masih polos menurut saja apa yang dikatakan suami nya.
"Nathan aku yang akan menjadi jaminan nya," ucap Riga.
__ADS_1
"Hmmm tida perlu, aku mempunyai satu kartu, mungkin isi nya lebih dari cukup. Ini tabungan ku dari pekerjaan yang aku lakukan, tapi tidak papa jangan khawatir aku tida mempunyai uang lagi. Ini satu kartu dan 5 kartu lain nya."
Mata Aldy hanya bisa terbelalak melihat isi dompet Nathan, memang di atas langit masih ada langit.
"Aku janji akan mengembalikan nya."
"Tidak papa jangan terburu buru selesai kan dulu permasalahan mu. Santai saja, kartu ini tidak terhubung dengan keluarga ku kok, jadi tidak akan jadi masalah untuk ku dan untuk mu. Jika kau pakai kartu yang lainnya ini, baru bisa di tangkap kau," ucap Nathan.
"Terimakasih nat, kau sangat baik, aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan mu."
"Aku hanya minta satu hal dari kalian, doakan agar wanita itu menjadi jodoh ku hahaha."
"Siap, kami selalu mendoakan mu selalu."
Di perjalanan Roger dan Tiffany masih diam tanpa melakukan apapun. Tiffany masih enggan mengobrol. Pembully seperti Roger masih belum pantas ia maafkan.
"Dimana rumah mu si, kenapa tidak sampai juga," tanya Roger.
"Bagaimana mau sampai kau saja salah arah," jawab Tiffany.
"Apa." Sontak Roger menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Kenapa tidak mengatakan nya."
"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kita salah arah," kata Roger.
"Jadi aku yang salah, kau saja tidak bertanya, sok tau. Seharusnya jika tidak tau langsung bertanya," ucap Tiffany.
"Jadi dimana arah rumah mu."
"Putar balik. Belok kanan tiga kilometer dari sini."
Roger menggelengkan kepala nya, mereka kelewatan sejauh 3 kilometer, jika ia tidak bertanya tadi bisa saja mereka kelewatan jauh dari ini.
"Kamu memang ingin selalu bersama ku," ucap Roger.
"Ih tidak sama sekali, aku hanya ingin mengerjai mu," kata Tiffany.
"Hahaha tidak lucu sama sekali. Jika kamu tidak ingin bersama ku, seharusnya kamu tidak membuat kita sampai kelewatan 4 kilometer seperti ini."
"Jadi salah ku?"
"Tidak salah ku, aku salah karena tidak bertanya pada mu. Sudah puaskan. Wanita tidak pernah salah sedikit pun. Hanya pria tempat nya salah," ucap Roger.
__ADS_1
"Tu tau," kata Tiffany sambil sedikit tersenyum.
Memang Roger sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Ia merasa Roger jadi jauh lebih baik. Tidak pemarah seperti dulu, dan lebih sopan dalam berbicara.
"Kau sudah menikah," tanya Roger.
"Jika aku sudah menikah untuk apa aku datang, ini semua karena Riga. Tidak ada angin tidak ada hujan ia meminta izin pada ayah ku untuk menikah dengan mu," jawab Tiffany.
"Gas kun."
"Enak saja, gas kun gas kun, kau pikir aku mau dengan mu," ucap Tiffany.
"Tapi aku mau dengan mu, hahaha pasti kita cocok. Kita hanya perlu pendekatan."
"Sudah jangan banyak berbicara, belok kanan, tidak bosan putar balik terus."
"Gitu dong, memberitahu ku, jadi aku tidak bingung."
"Kau saja yang bodoh."
Tak lama mereka berdua sampai di rumah yang sangat besar, rumah itu milik Tiffany. Roger sangat terkejut dengan rumah Tiffany, ia tidak menyangka jika Tiffany sekaya itu."
"Kenapa mulut mu buka seperti itu."
"Kau sangat kaya raya ya, aku tidak pernah tau, jika saat membully mu dulu aku tau itu, mana mungkin aku berani."
"Jika mau aku bisa melaporkan mu ke polisi, tapi aku tidak sejahat itu," ucap Tiffany sambil memberikan tatapan tajam pada Roger, tanpa berterimakasih ia turun dari dalam mobil dan pergi meninggalkan Roger.
"Tatapan tanam itu akan segera sayup dengan ******* indah keluar dari bibir mu," ucap Roger dan pergi meninggalkan rumah Tiffany.
Roger berkata seperti itu seakan akan ia tidak ajan kembali dengan istri nya, tetapi memang Roger berfikir untuk kembali dengan Putri hanya kesempatan kecil. Pasti ada sesuatu pada Putri yang membuat Putri melupakan nya. Jika sudah ingat pun jika niat pasti Putri akan mencari nya ataupun menghubungi nya.
Aldy mengantarkan Riga pulang ke rumah. Karena Riga ia mendapatkan pinjaman uang yang sangat banyak. Ia sudah sangat bersyukur bisa terlepas dari jeratan ayah nya.
"Setelah ini hidup ku akan jauh bahagia," batin Aldy.
"Putri, bagaimana sudah isi," tanya Riga.
"Tidak tau aku, seperti nya belum," jawab Putri.
"Aldy kau lemah sekali, membuat Putri hamil saja tidak bisa."
"Bukan tidak bisa, belum waktu nya bodoh," ucap Aldy.
__ADS_1