Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 31


__ADS_3

"Hahaha ya kau benar," kata Nathan.


"Aku benar, sudah aku duga," ucap Alfi.


"Kau seorang peramal ya, bagaimana kau tau semua nya," tanya Nathan.


"Aku Alfi, aku tau semua nya, oh iya seperti nya pita rambut ku tertinggal di kamar."


"Wah apa itu benar, kalau iya aku akan mengantarkan nya," kata Nathan.


"Tidak Nathan, untuk apa kau mengantarkan nya, aku punya banyak di rumah."


"Alfi kau tau, Riga hari ini sudah kembali ke rumah, kata dia pekerjaan ada masalah." Nathan meletakkan handphone nya di samping tubuh nya.


"Sementang kau tampan, kau hanya memperlihatkan samping wajah mu saja. Untuk Riga aku tidak mau ikut campur, semoga saja semua nya lancar, dan dia mendapatkan wanita yang sangat sabar menghadapi sikap nya itu," kata Alfi.


"Alfi, kau sudah mau menikah," tanya Nathan.


"Aku sudah siap untuk menikah, tapi jodoh ku saja aku tidak tau siapa," jawab Alfi.


"Bagaimana jika dengan ku, kau mau tidak," tanya Nathan.


"Hahahaha Nathan, jangan aneh aneh, kau masih sangat muda, bahkan umur mu belum sampai 30 tahun, kejar dulu semua mimpi dan cita cita mu. Jika kau sudah benar-benar dewasa aku tidak berpikir panjang aku pasti langsung mau menikah dengan mu, hidup ku pasti akan bahagia," jawab Alfi.


"Kalau begitu tunggu aku beberapa tahun lagi," kata Nathan.

__ADS_1


"Jika jodoh ku belum datang, aku akan menunggu mu," ucap Alfi.


Di tempat lain. Riga sedang memperhatikan pita rambut milik Alfi. Ntah sudah berapa lama Riga memperhatikan benda itu, seharusnya saat ini ia beristirahat tetapi otak nya tidak mau tenang dan terus memikirkan Alfi.


"Ah wanita itu sangat menyebalkan," kata Riga sambil melemparkan pita rambut itu.


Beberapa hari setelah kepergian Alfi, Riga merasa semakin kacau. Hati kecil nya berkata jika ia sangat merindukan Alfi tetapi otak nya terus menyangkal hal itu, ia tidak mau merindukan Alfi.


Riga keluar kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, ia baru mencuci otak nya agar tidak terus memikirkan Alfi. Tetapi hal itu tidak bertahan lama, otak nya kembali memunculkan gadis menyebalkan itu. Setelah sekian lama bergelut dengan perasaan nya, akhirnya Riga menyerah. Ia mengakui jika ia merindukan Alfi dan memiliki perasaan lebih pada wanita itu. Riga mengambil handphone nya dan memutuskan menghubungi kakek nya.


"Halo, ada apa? sudah cukup waktu istirahat mu?"


"Bukan itu kek, aku ingin bertanya."


"Tanyakan lah, aku tidak banyak waktu," kata Warsa.


Warsa tersenyum mendengar itu, ia yakin jika Riga saat ini sudah sangat merindukan sosok Alfi. Cucu nya ini memang memiliki rasa gengsi yang cukup besar.


"Kenapa kau menanyakan rumah nya, kau mau ke sana?"


"Aku ingin mengembalikan pita nya yang tertinggal dikamar," kata Riga.


"Kalau hanya itu tidak perlu, dia ada sejuta pita seperti itu, kau simpan saja di kamar mu, ya sudah aku sedang sangat sibuk," ucap Warsa.


"Tunggu, ya aku ingin bertemu dengan nya." Riga salah tingkah sendiri saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Jujur kau ingin bertemu dengan nya karena kau merindukan nya?"


"Iya, aku merindukan nya," ucap Riga.


"Aku akan memberikan mu alamat nya, tapi kau langsung nikahi dia, jangan tunda tunda lagi," kata Warsa.


"Menikah, tapi apa dia mau?"


"Kau mau tidak menikah dengan nya," tanya Warsa.


"Aku mau, aku mau menikah dengan nya, aku rasa dia memang wanita yang di takdir kan untuk ku," jawab Riga.


"Dasar manusia aneh, beberapa hari lalu tidak suka sekarang menikah. Ya sudah aku akan mengirimkan mu pesan, kau akan di sambut dengan baik jika kau datang ke sana, berprilaku lah yang baik baik. Langsung sampai kan apa niat mu untuk datang ke sana," kata Warsa.


"Tapi jika dia tidak mau menikah dengan ku bagaimana?"


"Itu urusan nya, kau tetap akan menikah dengan nya, sebenarnya kunci semua nya itu ada di kau, kakek nya juga sangat setuju akan pernikahan kalian," kata Warsa.


Setelah menghubungi kakek nya, akhirnya Riga mendapatkan alamat Alfi. Ia langsung melompat dari kasur nya dan berlari meninggalkan kamar nya, Riga tidak peduli dengan pakaian ganti nya nanti, saat ini yang terpenting bertemu dengan Alfi.


Di kampung Alfi sudah hidup dengan tenang, ia tidak memiliki beban apa apa lagi. Hanya saya kalau di kampung ia harus menghadapi ibu tiri nya. Ayah Alfi memiliki dua orang istri, istri pertama mamah Alfi yang saat ini sedang sakit sakitan sedangkan istri ke dua seorang wanita berusia 30 tahun, memiliki sifat yang sangat judges pada Alfi.


"Ayah boleh ya," bujuk Alfi.


"Ya boleh, tapi jangan terlalu jauh, ayah tau mau anak kesayangan ayah terkena masalah lagi," kata Ryan.

__ADS_1


"Terimakasih, Alfi sayang ayah." Setelah mendapatkan izin dari ayah nya Alfi langsung pergi meninggalkan rumah, ia ingin ke lokasi syuting Daniel yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampung nya.


Alfi anak semata wayang di keluarga itu, ibu tiri Alfi tidak kunjung mempunyai anak karena memang ayah Alfi sangat sulit mempunyai keturunan.


__ADS_2