Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 65 S2


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Tidak ada yang berubah dari kondisi Riga, masih tetap sama seperti sebelumnya. Tetapi jika ingin dipindahkan Dokter sudah memberikan izin dengan pengawasan yang sangat ketat. Hal ini membuat mereka harus berdiskusi dipindahkan atau tidak.


"Aku rasa lebih baik Riga di rawat di rumah," ucap Roger.


"Seperti nya yang dikatakan Roger benar. Dulu ayah ku juga di rawat di rumah," kata Nathan.


"Jadi sudah setuju jika di rawat di rumah saja. Aku akan minta dokter untuk menyiapkan semua nya di rumah," ucap Varo.


"Iya yah, jika di rumah kita bisa lebih kondusif merawat nya."


"Ya sudah jika itu keputusan bersama kita bawa dia pulang. Tetapi sebelum itu aku ingin mempersiapkan semuanya terlebih dahulu."


"Paman tenang saja, urusan transportasi aku yang mengurus nya. Paman hanya tinggal perlengkapan Riga di rumah nanti," ujar Nathan.


Saat sedang berbicara handphone Nathan berbunyi Ia pergi menjauh dari mereka semua untuk mengangkat panggilan dari handphone nya.


"Halo," ucap Nathan.


"Nathan kau bagaimana si, kau tidak proyek kita berhasil," tanya Helen.


"Maaf Helen tapi kamu tau kan teman ku sedang dalam masalah. Ayolah kau bisa, kau kuat wanita mandiri seperti mu pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan sangat baik," jawab Nathan.


"Tapi aku perlu tanda tangan mu, kehadiran mu. Begini saja aku beri waktu sampai Lusa kalau kau tidak kembali juga, aku tidak bisa menahan nya lagi." Helen mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Jujur ia sangat kesal dengan Nathan, ia bisa mengerti Nathan sedang membantu teman nya, tetapi tidak selam ini juga. Meninggalkan pekerjaan penting selama beberapa hari lama nya.


"Haduh dia marah pada ku, gagal dong pdkt nya," ucap Nathan.


Malam hari nya Varo dan yang lainnya sudah siap siap ingin pergi meninggalkan kapal. Riga sudah pergi terlebih dahulu bersama Alfi dan para dokter. Sedangkan Varo dan yang lainnya masih bersiap siap.


"Ah liburan ku," ucap Jolie.


"Jolie jangan egois, kita tidak bisa stay di sini, Riga anak ku sedang tidak baik baik saja. Liburan bisa diganti kapan saja."


"Iya iya, janji akan mengganti liburan nya," tanya Jolie.

__ADS_1


"Janji, kita akan mengganti liburan nya," jawab Varo.


"Sayang kenapa para istri mu tidak ada kabar ya," tanya Jolie.


"Ada kok, aku beberapa kali menghubungi nya," jawab Varo.


"Kapan dia akan pulang ke rumah," tanya Jolie.


"Tunggu saja, aku juga tidak tau. Aku tidak mau menganggu kesenangan mereka. Sudah ayo cepat nanti kita di tinggal lagi," jawab Varo.


Mereka pun juga pergi meninggalkan kapal itu. Liburan yang selama ini mereka pikir akan bahagia ternyata berakhir dengan kesengsaraan. Banyak masalah yang mereka dapat, dari Roger yang kehilangan bayi nya sampai Riga yang koma seperti ini.


Perjalanan dari kapal ke rumah mereka tidak bisa langsung. Mereka harus transit ke Jepang terlebih dahulu. Begitu juga dengan Riga, di Jepang Riga juga tidak bisa langsung di terbangkan kembali. Ia harus di cek kondisi nya terlebih dahulu.


Atas permintaan dan permohonan dari Nathan. Helen Menunggu Riga dan Alfi di bandara rumah sakit. Ia juga tidak tega dengan Alfi yang sedang hamil. Pekerjaan nya bisa ia tunda demi kemanusiaan.


"Alfi," ucap Helen.


"Aku Helen teman nya Nathan. Sudah kamu jangan ikut mereka, kamu dengan ku saja. Biarkan suami mu mendapatkan perawatan. Kamu pasti sangat lelah," ucap Helen.


"Terimakasih." Alfi nurut saja apa yang dikatakan Helen. Ia memang sangat lelah, apalagi kondisi nya saat ini sedang hamil.


"Sudah makan?"


"Belum, aku tidak sempat," kata Alfi.


"Kebetulan aku juga belum makan. Kita makan saja ya," ucap Helen.


"Dimana aku tidak ingin pergi terlalu lama," tanya Alfi.


"Tenang saja, tidak jauh kok," jawab Helen.


Alfi sangat bersyukur bertemu dengan Helen, gadis baik yang mau membantu nya. Jika di lihat lihat seperti nya Helen sangat cocok dengan Nathan. Mereka berdua akan saling melengkapi.

__ADS_1


"Kamu dengan Nathan hanya berteman," tanya Alfi


"Tidak, kami tidak hanya berteman...


"Jadi kalian berdua berpacaran," potong Alfi.


"Tida juga Alfi, kami berdua rekan bisnis. Kami berdua sedang menjalankan proyek bersama," kata Helen sambil tersenyum. Sebenarnya bukan hanya Alfi yang mengira mereka berdua berpacaran. Rata rata orang yang mereka temui berfikir jika mereka berdua berpacaran.


"Oh rekan kerja, aku pikir berpacaran kalian berdua sangat cocok," kata Alfi.


"Hahahah cocok dari mana, aku dengan bocah itu cocok? tidak sama sekali Alfi. Dia bukan selera ku," ucap Helen.


"Ya aku pikir dia selera mu, kenapa kamu mengatakan nya bocah," tanya Alfi.


"Jarak usia kami cukup jauh 6-7 tahun, aku sudah sd dia baru lahir."


"Hahaha kau tau dia suka dengan wanita yang lebih tua. Dia sudah tau umurmu kan, pasti dia sudah tertarik dengan mu sejak lama. Hanya saja dia menyembunyikan," kata Alfi.


"Kamu tau dari mana kalau dia suka dengan wanita yang lebih tua, kamu seperti nya banyak tau tentang nya?"


"Sebenarnya kami dulu pernah dekat. Ya memang dia pernah mengatakan nya pada ku. Setau ku dia suka wanita yang lebih tua karena lebih dewasa. Suka wanita yang mandiri, tidak banyak bergantung dengan nya dan masih banyak lagi. Semua nya masuk pada mu."


"Ah kau bisa saja. Jadi kalian berdua pernah dekat? bagaimana sikap nya pada mu, apa sangat membuat mu kesal?"


"Hmmm tidak pernah si, saat kami dekat dia sangat baik dan romantis. Dia tidak pernah membuat ku kesal," ucap Alfi.


"Nah berarti dia tidak suka dengan ku. Karena sikapnya sangat menjengkelkan. Dia tau aku mandiri dan tidak mau bergantung pada siapapun, bukan nya bersyukur memiliki partner seperti ku dia malah memanfaatkan ku, dia sangat bergantung pada ku, dan menyerahkan semua pekerjaan nya pada mu." Helen mengatakan hal itu dengan nada yang kesal karena memang ia benar-benar kesal dengan Nathan.


"Hahaha seperti nya kamu sangat kesal dengan nya, sabar ya mungkin dia sedang menguji mu, kamu cocok tidak sebagai istri nya. Kamu tau sendiri kan dia dari keluarga mana. Tidak muda mencari istri untuk nya. Banyak syarat yang harus ia penuhi. Mungkin saja kau benar-benar menarik perhatian nya."


"Ah bulshit, aku juga tidak mau jadi istri nya. Untuk apa dia menguji ku, belum apa apa saja sudah merepotkan ku apalagi nanti," ucap Helen.


"Hati-hati loh, bisa jadi seseorang itu benar-benar akan menjadi pendamping hidup mu."

__ADS_1


__ADS_2