Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 70 S2


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Kehamilan Alfi sudah sampai pada bulan nya. Alfi menjalani kehamilan nya tanpa sosok seorang suami seperti yang ia cintai. Suami nya masih terbaring lemas tidak berdaya dengan berbagai macam alat di tubuh nya. Meskipun begitu Alfi masih bersyukur bisa melihat Riga yang masih nyata di depan nya. Harapan demi harapan terus ia ucapkan sepanjang waktu, ia sangat berharap jika harapan itu bisa benar-benar terjadi.


"Aduh," ucap Alfi, untuk duduk saja ia sudah kesulitan. Beberapa kali ia USG memang berat anak nya sampai 3 setengah kilo, hal itu membuat perut Alfi terlihat sangat besar dan membuat Alfi kesulitan untuk menjalankan Aktivitasnya seperti biasanya.


"Sudah jangan banyak bergerak," ucap Tiffany yang pasti setia menemani Alfi sampai sekarang.


"Suami mu belum pulang," tanya Alfi.


"Haduh sudah hampir sebulan dia pergi bersama ayah, dulu aku sudah sering ditinggal ayah, tapi sekarang malah suami ku pun juga di bawa," jawab Tiffany.


"Paman masih bekerja seperti itu," tanya Alfi.


"Ya masih Alfi. Sudah aku minta untuk berhenti dan fokus pada perusahaan saja, tapi dia tidak mau. Kalau pulang kadang 2 bulan baru pulang. Mereka harus menyelesaikan semua proyek baru bisa pulang," jawab Tiffany.


"Tidak papa, mana tau pulang pulang suami mu menjadi putih," ucap Alfi.


"Aku berharap seperti itu, hahaha mana tau dua bulan di Eropa suami ku menjadi putih," kata Tiffany.


"Kau mau lahiran normal," tanya Tiffany.


"Iya lah, aku sudah sangat mempersiapkan semua nya," jawab Alfi.


"Kau yakin Alfi, kau tida ingat anak mu sangat besar, nanti koyak bagaimana," kata Tiffany.


"Tidak masalah, sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang ibu. Aku sangat yakin bisa mengeluarkan nya dengan normal, dia seperti daddy nya pasti pengertian pada mamah nya," ucap Alfi.


"Alfi bukan nya suami mu sangat manja pada mu, jika dia seperti daddy nya manja tidak mau keluar sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"Tiffany jangan berkata seperti itu, iya juga ya tapi jangan ah, pasti bisa bisa bisa," ucap Alfi.


"Hmmmm." Sudah beberapa jam belakangan ini Alfi merasakan sakit di perut bagian bawa nya.


"Kenapa, kau sudah mau melahirkan," tanya Tiffany.


"Tidak tau Tiffany, perut bagian bawa ku sakit," jawab Alfi.


"Nah itu sudah tanda, terakhir kita periksa kondisi tubuh mu kurang fit, aku tidak mau terjadi apa apa pada mu. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Tiffany.


"Tapi Tiffany kalau lama bagaimana, aku malas lama lama di rumah sakit."


"Tidak akan, sudah bersiap siap ayo," kata Tiffany.


Warsa berjalan mendekati mereka berdua, ia mendengar sesuatu hal yang seperti nya penting.


"Ada apa ini," tanya nya.


"Alfi Tiffany benar, kamu harus ke rumah sakit. Ingat kata kakek kamu, kamu tidak boleh membantah apa yang kami lakukan demi kesehatan mu," ucap Warsa.


"Sudah ayo, kita beresin barang barang mu," kata Tiffany.


"Kau dulu ya, aku ingin ke ruangan suami ku dulu," ucap Alfi.


"Ya sudah jangan lama lama, jangan menangis," kata Tiffany.


Alfi masuk ke dalam ruangan suami nya. Alfi benar-benar sudah sangat merindukan suara Riga, senyuman Riga dan kemanjaan Riga. Semua diri nya tentang Riga.

__ADS_1


"Sayang aku akan melahirkan anak mu, kamu tidak berniat untuk menemani ku. Aku akan pergi Hari ini, aku sangat berharap kamu ada di samping ku saat aku sedang berjuang melahirkan anak mu. Tetapi seperti nya harapan itu tidak akan pernah terwujud," ucap Alfi.


Alfi tidak ingin lama lama berada di dalam sana, ia mencium tangan Riga, wajah Riga dan semua tubuh Riga sebelum ia pergi meninggalkan Riga. Ia tidak ingin lama lama di dalam sana karena Alfi tidak ingin menangis lagi. Ia sudah berjanji pada diri nya untuk kuat.


Alfi pergi ke rumah sakit bersama dengan Tiffany dan Varo ayah mertuanya. Selama Riga masih sakit Varo lah yang bertanggung jawab penuh. Ia tidak mau menantu dan cucu nya nanti kenapa-napa.


Warsa tidak ikut ke rumah sakit karena harus menjaga Riga, tidak mungkin Riga di tinggalkan sendiri di rumah. Sebenarnya bukan hanya Alfi yang ke rumah sakit, malam ini Riga juga akan di bawa ke rumah sakit karena kondisi nya terus menurun. Tidak ada yang tau dalam hal ini, hanya Warsa dan dokter yang menangani Riga lah yang tau. Dokter yang selama ini Warsa cari juga sudah dalam perjalanan ke Indonesia. Dokter Cina yang terkenal dengan kepintaran nya dalam dunia medis.


Sesampainya di rumah sakit Alfi langsung di periksa, memang benar Alfi sudah pembukaan ke dua, masih sangat lama untuk tahap selanjutnya. Karena memang kondisi Alfi yang harus benar-benar Fit. Alfi di putus kan untuk langsung di rawat di rumah sakit.


"Sudah aku akan selalu menemani mu," ucap Tiffany.


"Terimakasih Tiffany," kata Alfi, ia sangat bersyukur Tiffany selalu berada di samping nya.


Malam hari nya Alfi sudah masuk ke pembukaan ke tiga, karena ini lahiran anak pertama nya waktu yang di perlukan juga cukup lama. Rasa sakit di perut nya mulai lebih intens tetapi ia masih bisa menahan semuanya.


"Rasa nya sakit Alfi," tanya Tiffany.


"Sakit lah, kau tau di perawani itu rasa nya sama," jawab Alfi.


"Ih berbeda tau, aku mau mati kalau itu," ucap Tiffany.


Terkadang Tiffany membuat Alfi terhibur dengan kepolosan nya. Memang Tiffany orang yang sangat ia butuhkan saat ini selain suami nya.


Seperti yang sudah di rencanakan. Malam ini Riga di bawa ke rumah sakit yang sama dengan Alfi. Memang rumah sakit itu yang terbaik di kota. Sudah ada dokter yang akan menangani Riga. Warsa berharap jika dokter yang ia cari selama berbulan bulan ini akan dapat membuat Riga sadar dengan cepat.


"Aku ingin yang terbaik dok," ucap Warsa.

__ADS_1


Waktu terus berlalu Alfi semakin merasakan sakit yang luar biasa di perut nya. Dari malam berganti pagi ia mulai mendekati proses melahirkan. Rasa nya Alfi sudah tidak sanggup lagi, tetapi ia harus kuat demi sang anak.


Alfi harus berjuang melahirkan anaknya bersama Riga. Sedangkan Riga harus berjuang bangun dari tidurnya agar ia bisa memberikan dorongan untuk istri nya. Saat ini Alfi benar-benar sangat membutuhkan sosok Riga.


__ADS_2