
"Kau kenapa," tanya Alvaro.
"Aku putus dengan pacar ku," jawab Pactrik.
"Hahaha pantas kau mengubungi ku, hanya karena sedang galau," kata Alvaro.
"Kenapa bisa putus, bukannya kalian akan menikah?"
"Aku akan ke Jerman, kakek meminta ku untuk fokus dengan pekerjaan di Jerman, ya mau bagaimana lagi aku harus menuruti nya," ucap Pactrik.
"Kasihan nya, mungkin sudah menjadi takdir mu."
"Al aku dengar kau akan menikah, kau di jodohkan dengan seseorang?"
"Iya itu semua karena kakek ku, memang kakek kita ini melakukan hal sesuka nya tanpa keinginan kita Terkadang aku tidak habis pikir gitu," ucap Alvaro.
"Dengan siapa al?"
"Dengan perawat ku, aneh bukan? memang sangat aneh, aku tidak tau bagaimana kehidupan kami kedepannya," ucap Alvaro.
"Terkadang hidup itu cukup aneh, aku yang sudah siap untuk menikah malah tida menikah menikah sedangkan kau yang belum siap menikah malah akan menikah. Kita hanya bisa berencana tapi untuk menentukan jalan hidup hanyalah Tuhan yang mampu melakukan nya."
"Ya sudah kalau pernikahan mu di minggu ini mungkin aku tidak bisa datang, tapi jika minggu depan kemungkinan besar aku bisa datang," ucap Pactrik.
"Kenapa tidak bisa datang," tanya Alvaro.
"Aku ada penelitian selama satu minggu di Korea, besok akan berangkat. Kalau aku tidak datang, aku hanya bisa mendoakan mu semoga pernikahan mu diberikan kebahagiaan," jawab Pactrik.
"Dan semoga kau cepat menikah, aku tidak ingin menikah sendiri, harus ada teman," kata Alvaro.
"Ya semoga saja."
Pagi hari nya, 3 hari setelah kecelakaan itu kondisi Alvaro sudah jauh lebih baik, tangan nya sudah bisa bergerak dengan cukup bebas, walaupun masih terasa cukup sakit. Yang menjadi problem Alvaro hanya tinggal kaki yang masih terasa sangat sakit dan bengkak.
"Aku rasa luka nya lebih parah," ucap Alvaro.
"Ya bagaimana tidak parah, kaki mu terjepit di bawah, untung tidak patah," kata Ryan.
"Kakek, kakek aku ingin bertanya tentang pernikahan itu, apakah kakek yakin. Aku saja yang menjalaninya tidak yakin sama sekali," ucap Alvaro.
"Kau saja belum menjalani nya, sudah jangan banyak drama ya, di balik pernikahan mu banyak hal yang harus di korban kan. Itu semua demi kebahagiaan mu dan perubahan mu," kata Ryan.
"Bla bla bla, kapan pernikahan itu," tanya Alvaro.
__ADS_1
"Lusa," jawab Ryan.
"Sebelum pernikahan itu tiba aku ingin bertemu dengan mamah dan daddy. Enak saja mereka hanya datang saat hari pernikahan nya saja," ucap Alvaro.
"Iya besok orang tua mu datang, dimana Melanie? apa hujan kemarin dia pulang?"
"Tidak, dia tidur di kamar mamah," ucap Alvaro.
"Oh iya ini, mana tau kau membutuhkan nya di malam pertama mu nanti."
"Apa ini kek," tanya Alvaro.
"Itu pengaman, mana tau kau belum siap mempunyai anak," jawab Ryan.
"Cara pakai nya bagaimana?"
"Ternyata kau hanya nakal sifat saja, otak mu belum ternodai," ucap Ryan.
"Buka plastik nya. Nah saat itu mu sudah tegang baru masukan."
"Oh begitu, tapi seperti nya aku tidak perlu, aku belum tertarik untuk melakukan hal itu," ucap Alvaro.
"Lah, ini anak berbeda."
"Pakai saja jangan banyak tingkah," ucap Alvaro.
"Dimana letak baju nya aku tidak tau," tanya Melanie.
"Alvaro antarkan calon istri mu, bantu dia, pakai saja apa yang ada di sana, jangan malu jangan segan semuanya sudah menjadi milik mu," kata Ryan.
Melanie dan Alvaro kembali masuk ke dalam kamar lama Alfi. Alvaro membantu Melanie memilih baju yang masih bagus dan layak untuk Melanie gunakan.
"Semuanya saja masih bagus," ucap Melanie.
"Melanie itu tali BH mu melipat," kata Alvaro.
"Alvaro mata mu nakal sekali, jangan diliat," ucap Melanie sambil memperbaiki nya.
"Aku hanya memberitahu mu. Salah siapa tidak liat liat dulu. Kenapa wanita harus memakai itu si," tanya Alvaro.
"Apa harus aku jawab pertanyaan bodoh mu itu," ucap Melanie.
"Ya mana aku tau, kau kan yang punya mulut," kata Alvaro.
__ADS_1
"Kalau tidak aku pakai, aset ku bisa terlihat dengan jelas. Enak di kau tidak enak di aku," ucap Melanie.
"Ih apa enak nya, sudah pakai saja mana yang kau mau, aku tidak tau selera mu bagaimana. Setelah ini cepat siapkan aku makan, aku sudah lapar," lata Alvaro.
"Aku seperti pembantu mu," ucap Melanie.
"Hey sadar, kau perawat ku berarti kau pembantu mu, tidak sadar diri pula."
"Sabar Melanie, iblis seperti diri nya mana mungkin mempunyai perasaan mu," ucap Melanie.
"Jika aku iblis, kau setan anak kita nanti apa tuyul," kata Alvaro sambil menahan tawa nya.
Alvaro kembali ke kamar nya, sedangkan Melanie membersihkan diri nya sebelum menyiapkan makanan untuk Alvaro.
"Daddy," rengek Alvaro. Setelah beberapa hari lama nya akhirnya Alvaro menghubungi daddy nya. Ia sudah tidak tahan terlalu lama berpisah dengan Riga.
"Hey sayang, ada apa? kenapa masih suka merengek seperti ini si, daddy pikir kau sudah berubah," ucap Riga.
"Aku tidak mau tau aku ingin bertemu dengan mu, banyak yang ingin aku tanyakan. Aku akan menikah dad, ini sangat gila," kata Alvaro.
"Ya kau akan menikah itu kan sudah menjadi keputusan kita semua. Kau beruntung bisa menikah dengan cepat. Kau tidak tau kan, Pactrik gagal menikah," ucap Riga.
"Kata siapa aku tidak tau, dia sudah cerita pada ku. Daddy malam ini harus sudah di rumah ya."
"Iya nanti daddy berangkat, cie yang sebentar lagi burungnya berguna," ucap Riga.
"Aku akan melakukan apa yang daddy lakukan dengan mamah," tanya Alvaro.
"Ya iya lah, tunggu dulu kau pernah melihat nya," tanya Riga.
"Tidak si, tapi aku merasakan kasur bergerak dengan cepat. Kan aku tidur dengan kalian, dari pada aku menganggu lebih baik aku diam saja lah," jawab Alvaro.
"Anak ini ya, pantas saja kau betah tidur dengan ku."
"Tapi aku tidak mau melakukan itu. Pokok nya aku ingin bercerita langsung," ucap Alvaro.
"Ya sudah tunggu saja ya," kata Riga.
Seperti nya memang sikap manja Alvaro sulit untuk hilang. Tapi kalau nakal dan semena-mena nya mungkin perlahan bisa menghilang. Apalagi mendapatkan wanita yang seimbang dengan diri nya. Mereka berdua bisa saling menindas satu sama lain.
"Siapa sayang, kamu tidak ke kantor," tanya Alfi.
"Anak ku, dia bingung setelah menikah harus apa."
__ADS_1
"Lah bisa begitu, apa dia tidak belajar," ucap Alfi.