Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 90 S2


__ADS_3

"Kakek, apa daddy dan mamah sudah tau," tanya Alvaro.


"Sudah tapi mereka tetap ingin kau berada di sini, seperti nya mereka sudah kapok memiliki anak seperti mu," jawab Ryan.


"Ahh mereka sudah tidak sayang pada ku. Aku ingin pulang tapi mereka seperti itu pada ku," ucap Alvaro.


"Kau pulak nya nakal, bagaimana mereka tidak seperti itu pada mu. Pactrik kau jaga dulu anak ini, bantu dia jangan sampai mulut nya membuat seisi rumah ini bising," ucap Ryan dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Hahaha seperti nya kakek sudah kesal dengan tingkah mu," kata Pactrik sambil mengambil makanan yang Ryan bawa tadi.


"Memang iya, dia kesal mobil yang dia belikan untuk ku hancur, belum lagi pos satpam itu," ucap Alvaro.


"Kau tidak merasa bersalah," tanya Pactrik.


"Untuk apa, itu kan kecelakaan, siapa yang tau akan seperti ini," jawab Alvaro.


"Tapi kata kakek kau mabuk."


"Tidak ada, dia berbohong. Cepat sini aku lapar suapin aku," ucap Alvaro.


"Bagaimana perawat mu tidak kejam pada mu, kau saja seperti ini, dia harus memiliki kesabaran yang tinggi," kata Pactrik.


Malam hari nya. Pactrik membawa Alvaro keluar dari kamar. Mereka berdua duduk di balkon lantai tiga. Menikmati angin malam yang sangat sejuk, dari lantai itu terlihat rumah rumah warga desa ini.


"Rumah pacar ku tida terlihat ya," ucap Pactrik.


"Tunggu dulu, pacar mu di desa ini juga," tanya Alvaro.


"Ya kan sudah aku katakan tadi, pacar ku tinggal di desa ini," jawab Pactrik.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan pacar daerah sini, selera mu rendah sekali."

__ADS_1


"Enak saja rendah, aku bisa mendapatkan pacar daerah sini, karena aku KKN ku dulu di sini, kami berdua merasa cocok dan menjalin hubungan, sudah lama si hampir dua tahun. Dia juga sudah aku kenalkan dengan orang tua ku. Dan orang tua ku setuju saja," kata Pactrik.


"Gercep ya, jadi kau sudah siap untuk menikah, usia mu masih 22 tahun, lebih mudah dari ku."


"Ya setelah S2 ku selesai aku akan langsung melamarnya. Menikah bukan soal umur tetapi pendewasaan diri, jika kau sudah siap secara lahir dan batin kenapa tidak? tujuan hidup jika tidak untuk berkembang biak untuk apa lagi?. Aku sudah sangat nyaman pada nya, sangat cocok pada nya, dan aku sudah siap menikah," ucap Pactrik.


Pemikiran Pactrik dan Alvaro sangat jauh berbeda. Pactrik jauh lebih dewasa dari pada Alvaro. Meskipun usia nya lebih mudah dari Alvaro. Pantas saja Alfi selalu membandingkan Alvaro dengan Pactrik.


"Ini yang membuat mamah ku membandingkan ku dengan mu. Ya mau bagaimana lagi, pemikiran mu sama dengan mamah ku. Sedangkan aku masih memikirkan tentang kebebasan."


"Al, kau itu sangat aneh. Kita bukan tidak bebas, kita hanya memiliki tanggung jawab sebagai penerus ayah kita. Apa salah nya ikut kemauan orang tua asalkan itu masa di batas wajar. Mereka tau apa yang membuat kita bahagia, mereka tidak mungkin membuat hidup anak nya menderita. Bebas bukan berarti membenarkan yang salah, arti bebas lebih dari itu Alvaro," ucap Pactrik.


"Bla bla bla, aku bosan mendengar hal seperti itu. Kau sama saja seperti orang tua ku."


"Al al, hanya takdir yang bisa membuat mu berubah menjadi lebih baik lagi. Aku sangat menantikan perubahan dirimu," ucap Pactrik.


"Perubahan apa lagi Pactrik, aku tidak akan pernah berubah," kata Alvaro dengan sangat percaya diri.


"Hey dulu, saat kau kecil kau itu sangat menggemaskan, gemuk tidak cerewet seperti ini. Kenapa jadi seperti. Aku ingin melihat diri mu kecil saja," ucap Roger.


"Paman berhenti mengatakan aku gemuk, aku tidak gemuk, memang duluan gemuk tapi itu kan dulu, jangan sama kan dengan yang sekarang aku tidak suka," kata Alvaro.


"Apa kau tuli Alvaro, aku katakan dulu, bukan sekarang begitu saja kau sudah marah, memang kau itu sumbu pendek," ucap Roger.


"Alvaro kau tidak ingin menikah, mungkin dengan menikah kau bisa berubah," tanya Alvaro.


"Aku tidak akan menikah, nanti saja nunggu usia mu 30 tahun baru aku akan menikah."


"Kau yakin? kain tidak ingin enak enak," tanya Roger.


"Ya enak enak saja dulu baru menikah," jawab Alvaro.

__ADS_1


"Memang seperti nya kau salah pergaulan ya, ya sudah terserah mu. Jangan membuat malu kelurga besar mu. Pantas saja Alfi sampai seperti itu, anak nya sudah di luar jalur," ucap Roger.


"Hmmm apa mamah sangat tidak suka dengan ku," tanya Alvaro.


"Mamah ku suka dengan mu, tapi tida dengan sikap mu, ya sudah mungkin dengan kau di sini kau bisa menjadi Alvaro yang lebih baik lagi," jawab Roger.


Alvaro yang dulu dan sekarang memang sudah sangat jauh berbeda. Jika menikah pun Alvaro harus mendapatkan wanita yang seimbang dengan dirinya. Jika tidak wanita itu bisa habis di injak injak oleh diri nya.


Di tempat lain.


"Bagaimana yah," tanya Alfi.


"Seperti nya aku sudah menemukan wanita itu, dia unik, kuat dan sudah pasti bisa mengimbangi sifat Alvaro."


"Ayah yakin, Alvaro tidak akan menginjak-injak nya, aku takut Alvaro hanya mempermainkan wanita itu," ucap Alfi.


"Tidak akan Alfi, dia tidak mudah untuk Alvaro permainan. Mereka berdua sudah saling bertemu, dan ayah pikir sifat wanita itu bisa mengimbangi Alvaro. Kau pikir saja lah, wanita mana yang berani melemparkan lap meja ke wajah Alvaro."


"Ha!! bagaimana bisa? Hahaha aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya Alvaro Selama ini dia kan tidak pernah mendapatkan perlawanan seperti itu oleh seorang wanita."


"Sangat ngakak, dan oleh karena itu aku yakin wanita itu wanita terbaik untuk Alvaro. Dia pasti bisa menuntun Alvaro dengan baik, ya meskipun tidak akan mudah."


"Aku percaya dengan ayah, semoga saja semua berjalan sesuai dengan rencana. Oh iya kalau menikah dia akan menikah dimana yah?"


"Di sini saja kalian lah yang datang ke sini ya, jangan takut kena marah oleh nya. Pasti saat kalian aku minta untuk datang dia sudah setuju dengan pernikahan itu," ucap Ryan.


"Siap yah, mungkin aku segera mempunyai seorang cucu," kata Alfi.


"Yakin? emang anak mu itu sudah mengerti tentang seperti itu," tanya Ryan.


"Tidak tau si, hahaha dia saja tidur kadang masih dengan ku," jawab Alfi

__ADS_1


__ADS_2