
"Ha maksudnya pak," tanya Riga.
"Maaf ya, saya baru menjelaskan nya pada anda. Begini dulu anak kami putus cinta dan dia bunuh diri dengan bergantung di pohon itu. Ya meskipun belum terlalu besar, sudah cukup untuk membunuh anak kami."
"Bapak tidak sedih menceritakan nya," tanya Ivan.
"Hahaha ya tidak, sudah lama juga, ni sudah ada pengganti nya."
Ivan dan Riga saling melirik, mereka berdua rasa orang yang depan mereka ini seperti bukan manusia. Mana mungkin seorang orang tua tidak bersedih menceritakan tentang kematian anaknya. Tetapi itu bukan urusan mereka, urusan mereka saat ini adalah bagaimana cara mengambil buah kedondong itu.
"Sudah ayo van," ucap Riga.
"Tunggu dulu bang aku masih penasaran. Lalu yang kedua pak," tanya Ivan.
Ivan masih penasaran dengan apa yang telah terjadi, berbeda dengan Riga yang sudah tidak sabar untuk mengambil buah itu, lalu pulang dan memberikan nya pada istri nya.
"Yang kedua karena kecelakaan, sebuah mobil melaju dengan cepat menabrak pohon di samping pohon kedondong itu, nah entah bagaimana caranya pemilik mobil itu terlempar dan tersangkut di atas pohon kedondong itu dan meninggal."
"Bang sepertinya kita mengambil buahnya saja, pohonnya tidak perlu kau bawa pulang," kata Ivan, mendengar semua cerita itu membuat bulu kuduk Ivan merinding.
"Siapa yang ingin membawa pohonnya sekarang, yang terpenting kita ambil buahnya dulu. Untuk urusan pohon nanti anak buah aku yang akan mengambilnya kita tidak perlu repot-repot dan tidak perlu takut." Riga benar-benar ingin membawa pohon itu ke rumah nya, ia yakin pasti nanti di keluarga nya ada yang meminta buah ini, dengan menanam di belakang kebun tidak akan membuat mereka repot lagi.
"Kalau begitu aku setuju,x ucap Ivan.
"Selamat mengambil, ayo sayang kita masuk ke dalam. Kita sudah mendapatkan banyak uang." Pasangan suami istri itu kembali masuk ke dalam rumah.
Riga dan Ivan berjalan mendekati pohon kedondong itu. Mereka berdua tidak memperdulikan pasangan aneh itu, yang terpenting saat ini mereka mendapatkan buah kedondong. Riga tidak tahu bagaimana cara mengambil buah itu, buah itu bergelantungan cukup tinggi, jika tidak memanjat atau menggunakan alat tidak mungkin bisa mengambilnya.
"Manjat," ucap Riga.
__ADS_1
"Aku," tanya ivan dengan kebingungan.
"Jika tidak kau siapa lagi," jawab Riga.
"Tidak tidak aku tidak mau, istrimu ia menginginkan kedondong aku pula yang sibuk. Kau saja yang naik aku tunggu di sini," tolak Ivan.
"Oh kau ingin durhaka pada abang mu, ingat uang jajan terbesar mu dari siapa? Jika hanya mengandalkan uang dari ayah kau tidak akan bisa hidup seperti ini. Ivan mau uang jajan mu aku stop," ancam Riga.
Memang ini tujuan Riga membawa Ivan, bukan hanya untuk menemani nya saja tetap Ivan bisa ia gunakan sebagai alat untuk nya. Memang sedikit kejam tetapi mau bagaimana lagi.
Ivan menggaruk kepalanya kasar, abangnya ini pintar sekali membuatnya tidak berdaya. Memang kemasukan terbesar nya dari Riga. Ayahnya sangat membatasi uang jajan ya, tidak seperti Riga selalu ada cintanya minta.
"Cepat naik tunggu apalagi sudah malam."
"Kau sangat kejam bang," kata Ivan yang tidak ada pilihan lain.
Terpaksa ivan memanjat pohon itu, ia melepaskan sepatunya agar lebih mudah memanjat nya, hidupnya dari kecil berada di kota ia tidak ada pengalaman manjat sama sekali, ini pertama kalinya ivan memanjat pohon.
"Sudah begitu meminta untuk mengambilnya," omel Ivan.
"Dari pada aku yang mengambilnya, jika jatuh bisa encok."
Secara perlahan ivan pun memanjat pohon itu, iya sangat kesulitan karena mohon itu tidak terlalu besar. Ivan memerlukan waktu cukup lama untuk sampai di tempat yang dapat menjangkau buah-buah yang bergelantungan.
"Iya itu ambil sebanyak-banyaknya." Riga sangat senang karena Ivan sudah dapat menggapai buah buah itu.
"Enak saja, kau pikir mudah mengambilnya," ucap Ivan. Ingin sekali ia melemparkan buah buah itu ke wajah Alvaro yang sangat menjengkelkan untuk nya.
Satu persatu ivan menjatuhkan buah kedondong yang dapat ia gapai. Beberapa buah sengaja ia lempar ke kepala Riga. Riga yang mendapatkan serangan dari atas tidak terima, ia mengambil buah yang berjatuhan dan melemparkan nya pada ivan.
__ADS_1
"Rasakan salah siapa bermain-main padaku."
"Jangan bodoh jika aku jatuh aku akan menjadi korban selanjutnya," kata Ivan, lemparan Riga tepat mengenai pantatnya.
"Oh iya cepatlah, gara-gara kau katakan itu perasaanku menjadi tidak enak"
Saat sedang asik asik ya mengambil buah kedondong itu. Ivan dan Riga mendengar suara yang aneh dari kejauhan. Buluh kuduk mereka berdua merinding seketika, Ivan cepat cepat turun dari atas pohon, saat proses turun berlangsung tiba-tiba pohon bergoyang dengan cukup kuat, hal itu membuat Ivan terkejut dan melompat ke arah Riga.
Riga yang tidak mampu menahan berat badan Ivan aku terjatuh ke tanah. Mereka berdua tergeletak di tanah masakan rasa sakit di tubuh mereka.
"Aduh sakit bodoh kenapa kau asal melompat."
"Pohonnya bergoyang secara tiba-tiba bang, seperti ini sesuatu di pohon ini selain aku..."
Saat sedang mendengar penjelasan dari ivan pohon itu kembali bergoyang. Hal itu membuat mereka berdua terkejut dan berlari terbirit-birit. Untung saja Riga sudah membawa buah kedondong di saku celana dan baju nya.
Sesampainya di dalam mobil mereka berdua langsung masuk ke dalam. Nafas mereka benar-benar tidak beraturan karena berlari dengan cepat. Riga menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan desa itu.
Sebenarnya semua itu hanya ketakutan mereka belaka, pohon yang bergoyang karena beberapa musang yang melompat ke arah pohon itu. Mereka juga ingin mengambil buah kedondong itu.
"Ini sangat menyeramkan aku tidak akan mau ke sini lagi," kata Riga.
"Iyayaya kau benar aku tidak akan ke sini lagi," ucap Ivan.
"Ini semua karena mu badanku terasa sakit semua," kata Riga.
"Karena ku? Aku sedih membantumu dan kau menyalakan ku? Jika karena tidak terkejut aku tidak akan melompat ke arah mu. Kau pikir badan aku tidak sakit juga."
"Hahaha iya maaf maaf, terimakasih Ivan. Aku mendapatkan buah itu," kata Riga.
__ADS_1
Di rumah Alfi sudah ketiduran karena terlalu la menunggu Riga yang terlalu lama. Memang Riga tidak bisa ia andalkan. Padahal Riga yang membuat nya hamil secara tiba-tiba tetapi saat ia menginginkan sesuatu Riga sangat lambat.