
"Alfi," ucap Riga.
"Diam Riga, kau mau diam atau aku masukan ke dalam kamar Daniel, kau tidur dengan nya saja lah," kata Alfi.
Riga langsung diam seketika, ia menutup wajah nya dengan selimut agar Alfi tidak melihat wajah nya yang terlihat salah tingkah. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan nya lagi, jantung nya terus berdebar saat bersama dengan Alfi. Tetapi meksipun begitu Riga tidak mau menunjukkan hal itu pada Alfi.
"Iya aku diam," ucap Riga.
"Lagi pula siapa yang mau tidur dengan nya, aku sangat tidak suka dengan nya," gumam Riga sambil menutup mata nya.
Alfi melirik ke arah Riga sejenak. Ia masih tidak percaya dengan semua yang ia lihat. Riga benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya. Apalagi sebelum kembali pulang ke rumah, mereka berdua seperti tidak akur.
Pagi hari nya, Daniel harus kembali ke lokasi syuting dengan cepat. Ia mengetuk pintu kamar Alfi sebelum pergi meninggalkan rumah itu. Di dalam kamar Alfi dan Riga masih tertidur, mereka berdua di batasi dengan beberapa bantal agar tidak melewati batas.
"Tok...tok...tok..." Daniel mengetuk pintu kamar Alfi.
"Hmmmm Alfi ada seseorang," kata Riga.
"Alfi" aku Daniel," ucap Daniel di luar sana.
Alfi membuka mata nya saat merasakan tangan Riga menepuk tubuh nya. Alfi langsung melihat ke arah Riga saat mendengar suara dari Daniel. Begitu juga dengan Riga yang ikut melirik ke arah Alfi.
"Aku saja," kata Riga.
"Kau diam di sini jangan membuat keributan," ucap Alfi.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara dengan nya."
"Riga bisa kah kau diam seperti biasa nya, tidak banyak bicara seperti biasanya, aku cukup kesal dengan sikap mu yang seperti ini," kata Alfi.
"Aku hanya ingin...
"Riga diam." Alfi turun dari ranjang dan langsung berlari ke arah pintu kamar.
Daniel sudah cukup lama berapa di depan sana, saat tangan nya ingin membuka Handel pintu, pintu kamar itu sudah terbuka dengan Alfi yang keluar dari dalam sana.
"Lama sekali, aku dengar ada seseorang di dalam," kata Daniel.
"Tidak ada orang hanya suara televisi saja, ada apa Daniel?"
"Oh begitu, siap Daniel aku pasti akan datang, kau hati-hati dan tetap semangat syuting nya, aku yakin pasti Film mu akan meledak," kata Alfi.
"Ya sudah aku pergi dulu, bye bye." Daniel tersenyum dan pergi meninggalkan Alfi.
Alfi berjalan masuk ke dalam kamar nya, ia cukup terkejut saat melihat Riga sudah berada di depan nya.
"Kau mau pergi," tanya Riga.
"Tida, ada hal yang harus aku selesai kan," jawab Alfi.
"Apa yang harus kau selesaikan," tanya Riga.
__ADS_1
"Kau Riga, pertama aku ingin membawa ke psikolog aku yakin ada yang aneh dari otak mu," jawab Alfi.
"Jadi kau suka aku yang bagaimana," tanya Riga.
"Ah kau banyak bicara, aku tidak suka itu, aku lebih suka kau yang dulu, lebih enak dan tidak banyak bicara," jawab Alfi.
"Oh Oke," kata Riga.
Riga ingin menjadi apa yang Alfi katakan, memang ia merasa sudah sangat aneh. Sifat nya dulu jauh berubah dari sebelumnya, ia pikir memang hal ini tidak perlu ia lakukan. Sifat nya ini jauh dari karakter aslinya. Hanya Alfi yang bisa membuat Riga seperti ini.
"Sudah aku ingin mandi pergi dari kamar ku," kata Alfi.
"Hmmmm." Gumam Riga sambil pergi meninggalkan kamar Alfi.
"Why langsung berubah secepat itu, dia memang sudah sangat gila," kata Alfi.
Alfi Cepat-cepat membersihkan diri nya, ia ingin membahas masalah ini dengan kakek nya dengan ayah nya. Sampai kapan pun Alfi enggan menikah dengan Riga. Jika harus memilih ia bisa menikah dengan Daniel ataupun Nathan.
Riga berjalan menelusuri rumah Alfi. Ia masih tidak menyangka jika Alfi orang kaya raya.
"Kau Riga," ucap Alam.
Riga melihat kearah sumber suara berasal. Ia cukup terkejut melihat seseorang di belakang nya.
"Tuan," ucap Riga
__ADS_1