
"Apa mulut mu di desain seperti itu," ucap Melanie.
"Apa salah yang aku katakan. Kau pasti tidak mampu mengganti barang barang itu jika rusak. Gaji mu pasti tidak seberapa bukan," kata Alvaro.
Kesabaran Melanie sudah benar-benar habis. Ia mengambil lap meja dan melemparkan lap itu ke wajah Alvaro. Kemudian ia langsung pergi meninggalkan tempat itu sebelum isan mendengar amarah dari Alvaro.
"Mampus," ucap Melanie.
"Melanie," teriak Alvaro.
Ryan tertawa melihat apa yang di lakukan Melanie pada Alvaro. Ia tidak menyangka Melanie bisa seberani itu pada Alvaro. Ia mendekati Alvaro dan mengambil lap itu dari wajah Alvaro.
"Lain kali jika punya mulut itu di jaga, jangan menyakiti perasaan orang lain. Dan juga lain kali berhati-hati pada seorang wanita, jangan sama rata kan semua wanita. Jika kau menemukan wanita yang berani seperti Melanie bisa habis kau dengan nya," ucap Ryan.
"Dia wanita bar bar, aku tidak mau dekat dekat dengan nya," kata Riga.
"Hahaha kenapa tidak mau, kau takut dengan nya. Padahal kakek sudah membuat beberapa pekerjaan yang melibatkan kalian berdua," ucap Ryan.
"Kakek aku tidak mau, pokoknya aku tidak mau. Maja mobil ku," tanya Alvaro.
"Hahaha tapi mau bagaimana lagi, seperti nya kalian sudah cocok menjadi rekan bisnis. Jarang jarang ada wanita yang berani pada mu."
"Kakek, aku tidak berurusan dengan nya Sekarang dimana mobil baru ku, aku ingin pergi jalan jalan," ucap Alvaro.
"Ini kau boleh jalan jalan hari ini, tapi ingat hanya sampai jam 10 malam. Jika lebih pintu rumah ini akan di tutup dan kau tidak akan bisa masuk ke dalam."
"Iya iya, aku akan pulang dengan cepat," kata Alvaro.
Alvaro mengambil kunci mobil itu dan langsung pergi meninggalkan rumah. Jujur sebenarnya ia sangat merindukan daddy nya, ia tidak pernah ingin pisah dengan Riga yang sangat memanjakan nya. Tetapi daddy nya tidak bisa berkutik jika mamah nya sudah bertindak.
"Andai mamah seperti daddy, sudah sangat sempurna hidup ku," ucap Alvaro.
__ADS_1
Baru ingin pergi meninggalkan rumah handphone Alvaro berbunyi, tidak ada nama dalam panggilan itu. Ini nomor baru nya, hanya beberapa orang saja yang tau nomor nya.
"Halo," ucap Alvaro.
"Al, ini daddy," kata Riga.
"Daddy, daddy tau nomor ku dari mana?"
"Dari Ivan, bagaimana kabar mu sayang? kau baik baik saja kan, kau tidak marah kan pada daddy," tanya Riga.
"Aku tidak marah pada daddy, tapi aku kesal dengan kalian semua. Kenapa kalian begitu mengekang ku Aku itu ingin hidup dengan bebas, aku hanya ingin bersenang-senang."
"Sayang kau tidak bisa terus seperti itu, kau tau kam kau harapan dua perusahaan besar. Semuanya tidak mudah sayang. Daddy sangat berharap kau belajar dengan baik, kau bisa menjadi anak daddy yang membanggakan."
"Ah daddy sama saja, ya sudah lah aku ingin pergi," ucap Alvaro sambil mematikan sambungan telepon itu. Jika sudah berurusan dengan hal yang tidak Alvaro suka. Mood Alvaro muda berubah-ubah.
Hari ini Alvaro memutuskan untuk ke kota terdekat. Ia ingin menghabiskan uang kakek nya. Ia juga ingin mencari teman baru yang bisa ia ajak bersenang-senang.
Mobil baru yang kakek nya berikan menabrak pagar rumah Ryan sampai ambruk, tak hanya itu mobil nya terus bergerak maju ke depan dan terhenti setelah menabrak pos satpam. Tabrakan itu cukup kuat sampai Alvaro terlempar ke depan. Ia tidak memakai sabuk pengaman.
"Tuan," teriak satpam.
Ryan mendengar suara tabrakan yang sangat kuat, di tambah dengan teriakan satpam yang membuat Ryan langsung keluar dari dalam rumah.
"Alvaro," teriak Ryan.
Ryan dan satpam berusaha mengeluarkan Alvaro dari dalam mobil. Karena mobil itu memiliki tingkat keamanan yang tinggi jadi Alvaro tidak mengalami luka yang berarti. Hanya saja kaki Alvaro seperti terjepit sesuatu.
"Anak ini ya," ucap Ryan.
Alvaro langsung di bawa masuk ke dalam kamar. Ryan memberikan tubuh cucu nya itu. Meskipun nakal seperti ini, tetap saja Alvaro menjadi kesayangan nya. Ia sangat takut terjadi apa apa pada Alvaro. Ryan saja sampai meminta dokter keluarga nya datang ke rumah.
__ADS_1
"Dia tidak sampai terkena luka dalam yang berarti. Hanya saja kaki dan ke dua tangan nya keseleo. Tangan nya juga akan memar karena ia terlalu menahan berat tubuh nya."
"Jadi dia akan sulit untuk melakukan aktivasi nya," tanya Ryan.
"Ya bisa di katakan seperti itu, dia memerlukan orang untuk merawat nya."
"Hhmmm aku rasa lebih baik dia seperti ini dulu, dia tidak membuat masalah baru dan aku lebih mudah mendidiknya," ucap Ryan.
Pagi hari nya Alvaro bangun dengan kepala yang sangat pusing dan berat. Ke dua tangan nya sulit untuk ia gerakan, dan satu kaki nya juga mengalami hal yang sama.
"Kakek," teriak Alvaro.
Ryan yang tidur di samping Alvaro langsung terbangun dari tidur nya. Ia terkejut dengan suara keras Alvaro.
"Ada apa al," tanya Ryan.
"Aku kenapa? kenapa dengan ku," tanya Alvaro yang benar-benar sangat panik. Ia sangat takut terjadi apa apa pada diri nya sendiri.
"Kau lupa? coba ingat ingat. Kau baru beberapa hari di sini sudah membuat kerugian yang sangat besar. Pantas saja daddy dan mamah mu sangat pusing dengan kelakuan mu," ucap Ryan.
"Aku mabuk, aku tidak konsen, menabrak pagar dan aku tak sadar," kata Alvaro.
"Itu sudah ingat, hahaha rasakan. Makannya jangan banyak gaya. Sudah aku katakan jangan membuat masalah tapi kau sudah membuat masalah baru," ucap Ryan.
"Aku tidak sengaja kek, jadi bagaimana dengan ku. Kenapa aku tidak seperti ini, semuanya sangat sakit. Baca bisa aku memulai aktivitas ku."
"Ya itu karena akibat kecelakaan itu. Pos satpam rubah karena mu. Jadi kau sampai seperti ini, untung saja tida mati diri mu," ucap Ryan.
"Kau akan di rawat oleh seseorang di masa penyembuhan mu. Kau tak bisa melakukan aktivasi penting lainnya. Minta seseorang itu untuk membantu mu. Jaga mulut mu agar dia bisa membantu mu dengan ikhlas dan baik. Jangan sampai mulut kejam itu membuat nya lari dari mu."
"Kakek aku masih naked, jangan sampai dia melihat tubuh ku seperti ini," ucap Alvaro.
__ADS_1
"Hahaha mana tau dia akan khilaf dan memperkaos mu," kata Ryan sambil tertawa. Ia sangat senang melihat Alvaro seperti ini.