
Jack seorang pengurus rumah yang sangat di percaya oleh Alam kakek dari Alfi. Ia datang ke acara ini untuk mewakili Alam yang kesehatannya sedang tidak baik, tetapi orang-orang tidak tahu kalau kakek diwakili oleh Jack adalah kakek dari Alfi.
Alfi kembali mendekati Riga dan yang lainnya. Dari wajah Riga, Alfi dapat melihat kalau Riga cukup kagum dengan nya. Alfi tidak ingin menanyakan hal itu karena ia takut di kira gr oleh Riga.
"Permainan yang bagus Alfi," kata Eva.
"Terima kasih," ucap Alfi, mata nya sedikit menatap ke arah Kalina, ia sangat senang melihat ekspresi wajah Kalina saat ini, Alfi ingin mengajarkan pada Kalina kalau merendahkan orang lain perbuatan yang tidak baik.
"Dont Judge a Book by its Cover," ucap Alfi dengan suara yang pelan.
Kalina dan teman-temannya sedikit mundur ke belakang, saat ini yang sedang di permalukan bukan lah Alfi tetapi Kalina sendiri.
Jack melihat Alfi sudah selesai bermain piano, ia sangat senang melihat Alfi yang mau tampil di depan umum, ada rasa bangga tersendiri di hati Jack. Sebelum mendekati Riga dan Alfi, Jack memilih bertemu dengan Warsa terlebih dahulu. Ia berjalan mendekati Warsa yang tidak terlalu jauh dari nya, tetapi Warsa masih belum menyadari kedatangan nya.
"Selamat hari jadi perusahaan tuan," ucap Jack
"Jack, iya Jack Terima kasih," kata Warsa.
"Maaf tuan. Tuan Alam tidak bisa datang karena sedang sakit. Saya Jack di percaya oleh tuan Alam untuk datang sebagai perwakilan beliau."
"Iya Jack aku tau itu, aku sangat sedih sahabat ku tidak bisa datang di hari bahagia ini, tetapi aku tidak bisa memaksakan keadaan, semoga dia lekas membaik, katakan pada nya aku pasti akan mengunjungi nya. Dan untuk mu terimakasih telah mau datang Jack."
"Menjadi kehormatan bagi saya bisa datang di acara ini tuan," ucap Jack sambil menundukkan kepala nya.
"Mau bertemu dengan Alfi dan Riga, mereka berdua aku paksa agar terus berdua," kata Warsa.
__ADS_1
"Hahaha tuan bisa saja, saya yakin nona Alfi sudah membatin yang tidak-tidak sedari tadi," ucap Jack.
"Mau bagaimana lagi, mereka berdua seperti nya sangat sulit untuk di satukan, dengan mereka terus bersama aku berharap mereka bisa memiliki perasaan satu sama lain, ya walaupun terlihat jelas wajah kesal mereka berdua." Warsa mengatakan hal itu dengan nada yang serius, ia memang sangat berharap perjodohan ini berjalan sangat lancar..
"Tidak ada yang tidak mungkin tuan, saya yakin mereka berdua bisa bersatu, air dan minyak memang tidak bisa bersatu tetapi mereka bisa berdampingan," kata Jack.
"Hahaha kau benar. Ayo kita ke sana, aku ingin melihat kedekatan mereka berdua dari dekat. Apa masih ada wajah kesal di wajah mereka berdua," ucap Warsa.
Jack dan Warsa mendekati Riga dan Alfi. Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian banyak orang. Dari pakaian yang Jack gunakan mereka sudah tau dari mana Jack berasal. Semua
orang tahu kalau perusahaan kakek Alfi mendominasi pasar komersial, tapi sejak kakek Alfi pensiun, sudah tidak pernah terdengar kabar lagi, kabar terakhir jika sang kakek membawa cucu perempuannya keliling dunia.
"Riga Alfi," panggil Warsa.
Alfi sudah keringat dingin saat Jack berada di dekat nya, apalagi Jack terus tersenyum melihat ke arah Alfi. Beruntung Jack tidak memberitahu pada siapapun identitas Alfi, ia sudah mendapatkan perintah ini dari Alam sebelum berangkat ke pesta ini.
"Ini Jack perwakilan dari sahabat kakek," kata Warsa.
"Jack...Riga.." Mereka berdua saling berkenalan. Riga memang belum tau siapa Jack sebenarnya.
Alfi tidak berani berbicara, ia hanya diam sambil menundukkan kepala nya, ia masih takut jika Jack mengatakan yang sebenarnya. Tetapi dari wajah Jack Alfi menduga Jack tidak mungkin membongkar semuanya.
"Ya Tuhan semoga kakek sudah memberikan peringatan pada Jack," batin Alfi.
Kalina dan teman-teman nya juga memperhatikan Jack, mereka juga tau dari mana Jack berasal.
__ADS_1
"Bukan nya dia dari perusahaan terkemuka itu," kata Eva.
"Ya kau benar, dia berasal dari sana, ini kesempatan mu," ucap Kalina.
Kalina yang awal nya agak menjauh kembali berjalan mendekati mereka semua. Ia ingin mengambil perhatian orang-orang dengan mengatakan jika ia mengenal bahkan pernah berbincang dengan cucu dari Alam yang tak lain adalah Alfi sendiri. Karena identitas Alfi yang cukup rahasia banyak orang tidak pernah melihat Alfi sebagai cucu dari Alam.
"Tuan Jack. Perkenalkan saya Kalina, saya mengenal cucu tuan anda, saya pernah bertemu dengan berbincang dengan nya," kata Kalina.
"Oh iya, apa itu benar, anda hebat sekali bisa bertemu dengan nona kami," ucap Jack.
"Hahaha bukan nya apa-apa, pertemanan saya memang luas." Kalina berbicara dengan percaya diri nya.
"Oh begitu, nanti saya akan sampai kan pada nona kami, nama anda Kalina bukan? semoga saya mengingat nya," kata Jack.
Mendengar hal itu Alfi langsung tertawa. "Hahahaha." Alfi tidak bisa menahan tawa nya karena yang di katakan Kalina sangat menggelitik. Alfi tidak pernah berpikir jika wanita berkelas seperti Kalina pandai mendongeng. Berbeda dengan Alfi, Jack hanya bisa menahan tawa nya. Kalau nona nya sudah tertawa seperti itu, berarti apa yang di katakan Kalina berbohong.
"Pendongeng yang handal, aku tidak pernah bertemu dengan mu sebelum, aku juga tidak mungkin mau berteman dengan mu," batin Alfi.
Kalina yang melihat Alfi tertawa seperti itu merasa sedikit panik, ia menduga jika Alfi tau bahwa dirinya sebenarnya tidak pernah bertemu dengan cucu dari kakek itu.
"Kenapa dia tertawa. Apa jangan jangan dia tau semua nya, dia tau kalau aku tidak pernah bertemu dengan cucu dari kakek itu. Ah itu tidak mungkin siapa dia, gadis kampung seperti nya mana mungkin tau akan hal itu, siapa dia Kalina jangan mengada ngada," batin Kalina. Kalina berusaha menyangkal pikiran nya itu, ia pikir tidak mungkin Alfi mengetahuinya.
Alfi merasakan tatapan Riga yang sedari tadi tertuju padanya. Dia tahu apa yang ada di pikiran Riga. Riga pasti tidak menyangka jika dirinya bisa bermain piano sebaik itu. Hal itu membuat Alfi jadi tak nyaman, tatapan pada nya benar-benar membuat Alfi merasa terintimidasi.
Melihat waktu sudah malam, Alfi memutuskan untuk pergi, ia juga sudah tidak nyaman terus berada di sana, apalagi ketika mengingat apa yang Kalina katakan tadi, ia merasa bisa terus tertawa dan bisa-bisa membongkar semuanya. Saat sudah berada cukup jauh dari aula. Tiba-tiba Riga berada di hadapan nya, hal itu benar-benar membuat Alfi sangat terkejut.
__ADS_1