Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 121 S2


__ADS_3

Alvaro menurun celana pendek nya, seperti nya akan lebih enak jika tangan nya sendiri hanya melakukan nya. Seumur umur Alvaro baru beberapa kali melakukan olahraga lima jari, tetapi hanya sesaat karena tangan nya merasa pegal.


"Melanie itu body lotion," ucap Alvaro.


"Untuk apa," tanya Melanie.


"Sudah cepat sini," jawab Alvaro.


Melanie memberikan body lotion itu pada Alvaro. Ia membiarkan suaminya berbuat apa saja yang Alvaro ingin kan, asalkan tidak menganggu nya menonton drama favorit nya.


Melanie fokus dengan drama nya sedangkan Alvaro fokus dengan olahraga lima jari nya. Ke dua tangan nya bergerak dengan lincah atas bawa. Melanie belum sadar dengan apa yang di lakukan Alvaro, saat mendengar suara aneh barulah Melanie melirik ke arah Alvaro.


"Al apa yang kau lakukan," tanya Melanie.


"Enak Melanie, bantu aku," Jawab Alvaro.


Alvaro mengarahkan tangan Melanie ke tempat nya dan menggerakkan seperti yang Alvaro lakukan.


Mungkin ini awal perkenalan mereka berdua. Dua manusia polos yang seperti terisolasi mulai mengenal apa yang nama nya hubungan rumah tangga.


"Ahhhkkk." Teriak Alvaro dan keluar lah dengan sangat banyak benih Alvaro.


Benih itu muncrat kemana-mana, tetapi aneh nya junior Alvaro tetap bangun yang seharusnya kembali lemas..


"Apa itu," tanya Alvaro.


"Itu al benih mu, dia yang akan menjadi anak," jawab Melanie.


"Oh iya, aku lupa daddy pernah memberitahu ku."


Alvaro memutuskan untuk membersihkan semuanya, aroma dari benih itu sangat khas tetapi mereka berdua sama sama suka.


"Wangi nya enak al," ucap Melanie.


"Iya, benih ku seperti itu, bagaimana dengan benih mu," tanya Alvaro.


"Aku tidak tau, sudah ah aku mengantuk," kata Melanie.


Pagi hari nya sebelum daddy nya pergi bekerja. Alvaro buru buru bertemu dengan Riga, ia penasaran dengan apa yang ia rasakan kemarin.


"Apa benar Alvaro," tanya Riga.


"Iya dad, bagaimana ya, kan kata daddy kalau itu sudah keluar itu ku akan tidur, tetapi tidak dad, ia masih bangun dengan tegak nya, ini sangat mengherankan," kata Alvaro.


"Ya aku pernah mendengar nya, itu menjadi kelebihan mu, aku lupa nama nya, tapi dengan begitu kau itu mu tidak akan pernah lemas, dia on terus selagi kau mau, walaupun sudah keluar. Bukan nya itu sangat keren," ucap Riga.

__ADS_1


"Sampai aku lelah dad," kata Alvaro.


"Iya benar, selamat Alvaro, jadi kau sudah membobol nya," tanya Riga.


"Belum pakai tangan, di bantu oleh nya."


"Hadeh percuma kau punya istri kalau begitu, ya sudah lah terserah mu, daddy akan pergi bekerja dulu, kau langsung ke apartemen saja, di sana sudah sangat lengkap. Nanti daddy akan datang ketika pulang bekerja."


"Oh ya sudah, aku akan pindah siang ini," ucap Alvaro.


Melanie bangun dari tidur nya dengan keadaan yang bingung, ia tidak melihat keberadaan Alvaro yang biasa nya masih ngorok. Melanie mencoba berpositif tingking, mungkin saja Alvaro sudah pergi bekerja, ia pernah berkata jika ia akan bekerja seminggu tiga kali seminggu.


Baru beranjak dari tempat tidur. Alvaro datang dengan membawa 2 koper besar. Melanie bingung kenapa Alvaro membawa dua koper yang begitu besar ke dalam kamar.


"Untuk apa al," tanya Melanie.


"Untuk pakaian kita," jawab Alvaro.


"Kita pindah sekarang Al," tanya Melanie.


"Iya kita pindah sekarang," jawab Alvaro.


"Kenapa buru buru si," tanya Melanie.


"Tidak papa ingin saja, nanti aku akan mengundang sepupu dan teman teman ku di acara pesta," jawab Alvaro.


"Besok lusa, sekali gus menunggu Pactrik dia sangat ingin bertemu dengan istri ku," jawab Alvaro.


Mereka berdua pun langsung membereskan semua barang yang perlu di bawa, rata rata hanya dokumen penting dan pakaian saja. Kata Riga semuanya sudah lengkap di sana, mereka tidak perlu mengisi apapun lagi.


"Akun mandi dulu," ucap Alvaro.


"Iya, aku tunggu," kata Melanie.


Di tempat lain, Pactrik sedang dalam persiapan semua penelitian nya, ternyata semua nya berjalan dengan cepat, ia bisa pulang lebih cepat. Ia juga sudah mendapatkan kabar jika Alvaro ingin membuat pesta di apartemen baru nya.


"Pactrik kita makan malam bersama yuk," ucap Vera.


"Boleh, eh apa sepupu ku ada mengirimkan mu pesan," tanya Pactrik.


"Ada dia sangat lucu, tapi tidak sering juga si," jawab Vera.


"Seperti nya dia mencoba mendekati mu," kata Pactrik..


"Tidak papa, aku tidak melarang nya, tetapi aku tida pernah memberikan nya harapan," ucap Vera.

__ADS_1


"Kenapa tidak, kalau kalian cocok bagaimana," tanya Pactrik.


"Ya kalau cocok dan jodoh mau bagaimana lagi, pasti akan bersatu, tetapi aku tida ingin dulu membuka hati ku untuk lain orang. Dia sudah tertanam di dalam hati ku."


"Siapa lah pria beruntung itu," kata Pactrik.


"Jika diri mu bagaimana," tanya Vera.


"Hahaha mana mungkin, aku saja begini, mana mungkin wanita seperti mu jatuh cinta pada ku, apalagi sampai mencintai ku seperti itu," jawab Pactrik.


"Hnmmm, mungkin saja," kata Vera.


Pactrik tidak menanggapi ucapan Vera dengan serius, ia pikir semua itu hanya candaan semata.


"Sudah ayo makan," ucap Pactrik.


"Kau sudah siap," tanya Vera.


"Sudah siap," jawab Pactrik.


Mereka berdua pun pergi ke restoran Korea untuk makan bersama. Mungkin ini hanya ke beberapa kali mereka makan bersama, Pactrik jarang sekali mau di ajak makan berdua dengan Vera.


"Apa dia sudah menikah," batin Pactrik.


"Siapa," tanya Vera.


"Mantan ku, aku ingin kembali dengan nya," jawab Pactrik.


"Kau masih sangat mencintai nya," tanya Vera.


"Sangat, mungkin memutuskan nya kemarin adalah hal terbodoh untuk ku. Jika dia belum menikah aku akan kembali dengan nya."


"Kau menyiksa perasaanmu sendiri Pactrik," kata Vera.


"Sama seperti mu, mencintai seseorang dengan diam menyiksa diri mu sendiri juga," ucap Pactrik.


"Memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap hati selalu mempunyai sebuah nama."


"Iyalah, kau benar, aku yang salah," kata Pactrik.


"Sudah lah jangan membahas cinta cinta dan cinta, lebih baik kita makan dengan tenang," ucap Vera


Mereka berdua pun memesan makan sebanyak mungkin, karena hari terakhir mereka berada di sini, besok sore sudah langsung pulang ke Indonesia.


"Vera aku ingin mengajak mu ke pesta sepupu ku," kata Pactrik.

__ADS_1


"Boleh, kapan itu," tanya Vera.


"Besok lusa, setelah pulang dari sini, nanti aku akan menjemput mu," jawab Pactrik.


__ADS_2