
"Mau makan apa," tanya Melanie.
"Tumben?"
"Aku ingin masak, mana tau aku ada permintaan," ucap Melanie.
"Aku ingin makanan orang desa, seperti nya enak. Jadi selama ini yang memasak makanan ku kau?"
"Jadi siapa lagi, tidak mungkin setan, bagaimana enak kan," ucap Melanie.
"Biasa saja," kata Alvaro.
"Biasa saja kau bilang, kemarin kau memuji nya sekarang kata mu biasa saja, dasar pria tida memiliki pendirian," ucap Melanie.
"Siapa kau berani mengatakan hal itu pada ku. Gadis desa seperti mu jangan pernah menilai seseorang seperti ku."
"Oh iya tuan kota, kau memang terlalu kota untuk ku yang hidup di desa," ucap Melanie sambil pergi meninggalkan Alvaro.
"Gadis kampung." Alvaro kembali memainkan handphone nya.
Melanie memasak ayam bumbu dengan sambal hijau. Ia sengaja membuat sambal yang sangat pedas agar Alvaro kepedasan, lagi pula ia juga sangat ingin memakan makanan ini.
"Rasakan Alvaro, sambal ini sepedas perkataan mu," ucap Melanie.
Setelah kurung lebih satu jam berkutik di dalam dapur akhirnya Melanie menyelesaikan masakannya. Aroma masakan ini menyebar ke penjuru ruangan. Ryan saja yang tidak sengaja lewat tertarik dengan aroma itu.
"Masak untuk Alvaro," tanya Ryan.
"Iya tuan," jawab Melanie.
"Apa dia suka? nanti tidak di makan."
"Kalau tidak di makan saya paksa untuk makan tuan," ucap Melanie.
"Kau hebat, sudah sana berikan pada nya," kata Ryan.
Hanya Melanie lah yang bernai melakukan hal itu pada Alvaro.
Alvaro langsung duduk saat Melanie membawa makanan itu ke dalam kamar nya. Aroma wangi dari makanan itu benar-benar membuat Alvaro lapar seketika.
"Wah apa ini," tanya Alvaro.
"Ayam goreng bumbu sambal hijau, dengan lalapan kemangi, selada dan daun hijau lainnya. Rasa nya sangat enak," jawab Melanie.
"Itu sayuran mentah," tanya Alvaro.
"Iya, seperti salad sayur, hanya saja ini tanpa saur," jawab Melanie.
Melanie meletakan makanan itu di atas meja yang ada di kamar itu, ia juga sangat lapar dan ingin makan bersama Alvaro di kamar itu.
"Aku mau," ucap Alvaro.
"Sabar." Pertama tama ia mengambil kam Alvaro terlebih dahulu. Ia meletakan satu ayam bagian paha dan beberapa sendok sambal. Baru lah beberapa lalapan yang Alvaro tunjuk."
"Makan la," ucap Melanie.
"Pakai," tanya Alvaro.
"Tangan, ini kan aku sudah membawa air untuk cuci tangan," jawab Melanie.
__ADS_1
"Cara nya?"
"Tunggu ya."
Melanie mengambil makanan yang sama, Dan mulai mencontohkan bagaimana cara memakan makanan itu dengan benar.
"Kau bodoh setan, tangan ku masih ada luka," ucap Alvaro.
"Oh iya, aku lupa. Mana di tangan kanan pulak," kata Melanie.
"Tangan mu," ucap Alvaro.
"Tapi aku juga sedang makan."
"Apa masalahnya," ucap Alvaro.
"Ya sudah." Melanie berpindah posisi ke samping Alvaro dan mulai menyuapi Alvaro.
"Enak... tapi gila pedas sekali," teriak Alvaro.
"Hahaha memang pedas seperti ucapan mu," kata Melanie.
"Kuat tidak," tanya Melanie.
"Lagi," ucap Alvaro.
"Memeng pedas tapi nagi kan."
Alvaro makan dengan lahap. Ia tidak peduli dengan rasa pedas yang membakar mulut dan perut nya. Ia lupa jika diri nya mempunyai penyakit lambung seperti daddy nya.
"Pedas," teriak Alvaro.
"Ah pedas sekali Melanie, aku tidak tahan. Tapi aku mau lagi," ucap Alvaro.
"Tangan ku juga sudah panas."
Mereka berdua makan dengan satu tangan yang sama, yaitu tangan milik Melanie, bisa di katakan mereka berdua sudah bertukar air ludah satu sama lain.
"Sakit Alvaro," ucap Melanie.
"Hahaha aku pikir daging ayam," kata Alvaro.
"Kau tidak bisa membedakan tangan ku dengan daging ayam," ucap Melanie.
"Sudah aku tidak tahan." Alvaro memilih berjalan secara perlahan ke kamar mandi. Dengan hanya minum saja ia tidak bisa menghilangkan rasa pedas ini.
"Masih pedas lagi ucapan mu," ucap Melanie.
Melanie melanjutkan kegiatan makan nya, ia tidak ingin menyisakan sedikit pun makanan. Pantang untuk nya melakukan hal itu. Bisa di katakan lambung dan mulut nya sudah kebal dengan yang nama nya rasa pedas.
"Dia makan pakai tangan ku, dan tangan ku aku pakai untuk makan, jadi secara tidak langsung kami seperti bertukar ludah. Ih sangat menjijikan," ucap Melanie.
Alvaro keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk setengah badan. Ia memilih mandi untuk menyegarkan sekaligus menghilangkan rasa pedas di dalam tubuh nya. Cara itu dinilai cukup berhasil.
"Alvaro kau tau malu tidak," ucap Melanie sambil menutup mata nya.
"Ini pemandangan indah bagi mu," kata Alvaro sambil berbaring di atas kasur.
"Gila." Melanie membereskan semuanya dan langsung berjalan pergi meninggalkan Alvaro.
__ADS_1
"Aku ingin jus jeruk," teriak Alvaro.
Alvaro kembali menghubungi Riga, ia tidak akan berhenti mengubungi Riga sampai Riga muncul di hadapan nya.
"Halo sayang, ia ayah sudah dekat," ucap Riga.
"Daddy naik apa, kenapa bisa cepat sekali," tanya Alvaro.
"Jet," jawab Riga.
"Hahaha bagus aku tunggu," ucap Alvaro sambil mematikan sambungan telepon itu.
"Ahhk perut ku panas sekali," ucap Alvaro.
Sambil memegang perut nya yang terasa sakit. Alvaro menunggu Melanie, ia yakin Melanie tau problem perut nya ini.
"Kau kenapa," tanya Melanie sambil memberikan jus jeruk yang Alvaro minta.
"Cepat sekali," tanya Alvaro.
"Dari botol, kau kenapa? mau mati, jangan dulu nikahin aku dulu, mana tau dapat warisan," kata Melanie.
"Ntalah perut ku terasa panas," ucap Alvaro.
"Masuk angin, boleh aku sentuh," tanya Melanie.
"Boleh tapi jangan ketagihan," jawab Alvaro.
Melanie menepuk nepuk perut Alvaro pelan. Tahu tahu kotak di perut itu tersentuh oleh tangan Melanie.
"Enak kan, kau akan puas jika sudah menjadi istri ku," ucap Alvaro.
"Bagaimana bisa." Melanie malah mengusap nya.
"Jangan keterusan." Alvaro menepis tangan Melanie.
"Kau punya penyakit lambung," tanya Melanie...
"Punya," jawab Alvaro.
"Bodoh kenapa tidak bilang."
"Apa ada yang salah," tanya Alvaro.
"Sangat salah bodoh, kau tidak bisa makan pedas," jawab Melanie.
"Lalu bagaimana kenapa kau tidak bilang dari tadi."
"Lah yang punya penyakit kau, mana aku tau. Tunggu sebentar aku ambilkan obat," ucap Melanie.
"Melanie mungkin kau cocok juga menjadi pembantu pribadi ku."
"Cocok, tapi jangan salahkan aku jika umur mu tidak panjang," ucap Melanie.
"Hahaha kau mau meracuni suami tampan, gagah seperti ku," tanya Alvaro.
"Sumpah jangan ganggu aku, aku sedang mencari obat yang benar untuk mu," kata Melanie.
"Melanie kata daddy ku kita harus melakukan apa yang daddy ku lakukan dengan mamah. Kata nya agar burung ku berguna," ucap Alvaro.
__ADS_1
"Ha....