Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 8 S2


__ADS_3

Malam hari nya. Mereka berdua masih tertidur dengan lelap. Riga gagal mendapatkan jatah karena perut Alfi yang tiba-tiba sakit. Sebagai suami yang pengertian Riga memaklumi hal itu, ia tidak marah sama sekali dengan Alfi. Lagi pula sakit nya Alfi jika karena diri nya.


"Ahh sakit," ucap Riga yang luka nya tidak sengaja ke tendang dengkul Alfi.


"Sayang." Riga menyingkirkan kaki Alfi dari dekat luka nya.


"Hmmmm sayang, jangan ganggu aku."


"Kaki kamu nakal," ucap Riga.


"Ha kenapa ada apa?"


"Kaki kami menendang luka ku," kata Riga.


"Hahaha maaf sayang, aku tidak tau. Lagi pula kenapa kamu tidak pakai baju lagi si," tanya Alfi.


"Nanggung jatah malam sayang, sudah tidak sakit kan perut kamu?"


"Aduh sakit nya," ucap Alfi.


"Jangan berbohong sayang, sudah tidak sakit kan," tanya Riga.


"Hehehe tidak, nanti sakit," jawab Alfi.


"Sakit kenapa sayang," tanya Riga.


"Itu kamu," jawab Alfi.


"Hadeh ya sudah dah, ayo kita turun aku sudah lapar. Jangan sampai aku makan."


Riga memakai kembali pakaian nya, kemudian mereka berdua langsung keluar dari dalam kamar. Turun nya pasangan ini dari lantai atas membuat yang lainnya lega. Itu tanda nya tidak ada masalah diantara mereka berdua.


"Wah kalian tidak bertengkar kan," tanya Varo.


"Mana mungkin yah, dia sangat merindukan ku, bagaimana mungkin dia bisa bertengkar dengan ku," ucap Riga.


"Padahal kamu yang memohon Mohon pada ku," kata Alfi.


"Hehehe maaf sayang, aku tadi bercanda."


"Jadi bagaimana bisa kau mendapatkan wanita itu," tanya Warsa.


Riga menarik warsa nya dengan perlahan. Ia kembali menjelaskan semua nya pada Keluarga nya. Ia tidak mau keluarga nya mengira ia melakukan hal yang tidak tidak.


"Sudah jelaskan," ucap Riga.

__ADS_1


"Oh begitu, aku pikir kau membawa nya untuk menjadi istri ke dua mu," kata Varo.


"Ayah jangan mancing."


"Hahaha tidak tidak. Atau istri...


" Istri baru mu Varo, kau mau nambah lagi kan. Silahkan nambah lagi," ujar warsa.


"Tidak yah, jangan memancing ku juga ya, tiga saja sudah repot apalagi empat. Bisa encok pinggang ku."


"Hahaha ayah kan kuat, tidak papa ya," kata Riga.


"Kau diam saja, jangan bertingkah," ucap Varo yang membuat Riga tertawa.


Mereka semua makan dengan lahap nya. Semenjak kembali nya Varo ke rumah kehidupan di rumah ini terasa hangat. Tidak seperti sebelumnya yang jarang sekali ada makan malam keluarga seperti ini.


Setelah selesai makan satu persatu orang meninggalkan ruang makan. Begitu juga Riga dengan Alfi, saat bangkit dari tempat duduk nya. Riga baru ingat jika Putri tidak ada yang memberikan makan.


"Sayang kamu duluan saja ya," ucap Riga.


"Kamu mau kemana," tanya Alfi.


"Putri tidak ada yang memberikan nya makan, aku sudah membawa nya dan harus memberikan nya makan."


"Harus kamu?"


"Aku tunggu di kamar," ucap Alfi sambil berjalan meninggalkan Riga.


"Buaya betina itu sangat menggemaskan."


Riga masuk ke dalam kamar putri. Samar samar Riga mendengar tangisan putri.


"Hey hey kamu kenapa? maaf ya aku membuat mu menunggu, pasti kamu lapar


"Aku ingin pulang, dimana rumah ku hiks hiks hiks.."


"Hey jangan menangis, aku juga tidak tau dimana rumah kamu, ini rumah kamu sekarang, kamu tinggal di sini." Riga mengusap punggung Putri.


"Tidak ini bukan rumah ku, aku ingin pulang Riga."


Riga memeluk Putri, ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Memeluk Putri lebih baik saat ini.


"Sudah jangan menangis, kamu sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri. Sekarang kamu makan ya, setelah itu istirahat," ucap Riga.


"Terimakasih."

__ADS_1


Setelah melihat Putri jauh lebih tenang, Riga pergi meninggalkan nya. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Di dalam sana Alfi sudah menunggu nya sejak tadi. Alfi menaikkan satu alis nya melihat ekspresi wajah pias Riga.


"Kamu kenapa," tanya Alfi.


"Hmmm aku bingung, dia meminta pulang. Aku saja tidak tau rumah nya. Semua data nya hilang," jawab Riga.


"Sudah jangan kamu pikirkan, dia hanya belum terbiasa, nanti juga dia terbiasa dengan semuanya."


"Sayang," ucap Riga sambil naik ke atas ranjang.


"Mandi dulu," kata Alfi.


"Tidak mau, mau jatah. Sudah satu minggu lebih sayang," ucap Riga.


"Hahaha tidak boleh," kata Alfi.


"Sayang aku mohon pada mu boleh ya, jatah," ucap Riga.


"Hahaha tidak mau sayang."


Riga menarik selimut yang menutupi tubuh istri nya. Mata nya terbelalak melihat Alfi sudah memakai baju haram yang sangat haram.


"Hahaha kamu sudah siap ya sayang," ucap Riga sambil merangkak naik ke atas tubuh istri nya.


Baju haram berwarna hitam itu membuat penampilan Alfi benar-benar sangat seksi. Riga benar-benar sangat kagum dan senang melihat penampilan istri nya seperti ini. Tanpa pikir panjang Riga mulai melakukan pemanasan awal, pemanasan yang sangat Alfi sukai.


"Riga sudah aku tidak tahan," ucap Alfi.


Perempuan panjang pun kembali terjadi. Pada akhirnya Alfi sangat senang mendapatkan kenikmatan yang selama ini ia rindukan. Riga memang selalu bisa membuat nya terbang ke atas awan.


Setelah pertempuran panjang Riga membawa Alfi masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengisi air hangat di badhup untuk mereka berdua berendam. Berendam berdua seperti ini memang sangat menyenangkan.


"Sayang kalau ayah menikah dengan Putri bagaimana?"


"Ya itu terserah ayah, kata mu ayah ingin punya anak, itu kesempatan yang bagus." Jika Putri menikah dengan Varo. Alfi berpikir Putri bukan ancaman untuk nya. Ia masih tidak percaya dengan orang asing yang masuk ke dalam keluarga nya. Riga memang terlihat sangat mencintai nya terapi setan bisa masuk dari mana saja.


"Hmmmm aku sangat bingung," ucap Riga.


"Lah kenapa kamu yang bingung kan ayah yang akan menikah bukan kamu."


"Hahaha iya tapi bagaimana melakukan nya," ucap Riga.


"Sayang kamu tidak akan selingkuh kan dari aku, kamu setia kan? kamu tidak seperti ayah kan?"


"Hahaha apa yang kamu pikirkan si, aku tidak seperti ayah, aku Riga pria yang sangat mencintai kamu. Sudah jangan memikirkan hal yang tidak tidak. Aku memang anak ayah tapi aku tidak mau seperti ayah, aku ingin hidup seperti apa yang aku mau."

__ADS_1


"Syukurlah, aku juga tidak yakin kamu seperti itu, terimakasih sayang," Alfi mencium tubuh suaminya.


"Hahaha iya sayang, tapi tidak tau kedepan nya, mana tau aku berubah pikiran....


__ADS_2