Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 120 S2


__ADS_3

"Bukan seperti itu, jangan membiasakan hal yang tidak biasa," kata Varo.


"Jika ayah memang tidak menginginkan ku, untuk apa aku ada, aku bukan nya hanya sebagian pembawa masalah untuk mu."


"Ivan, kau jangan pernah berpikir seperti itu, kau anugrah terbesar untuk ayah, jangan berkat seperti itu. Oka semua masalah ini sudah kita selesai kan sekarang. Kita mulai lagi dari nol, jangan ada masalah lagi yang merusak semua nya."


"Terserah ayah." Ivan pergi meninggalkan kamar itu.


"Jangan menekan anak ku, dia memang nakal tapi kamu selalu membuat nya seperti ini," kata Jolie


"Dia juga anakku sayang, aku hanya ingin yang terbaik untuk nya, aku tidak mau dia salah jalur saja," ucap Varo.


"Tidak akan mas, bukan hanya Ivan yang nakal Alvaro juga nakal, tapi apakah Riga seperti mu tidak kan," kata Jolie.


Ivan benar-benar sangat kesal dengan ayah nya, ia seperti tidak ditanggap oleh ayah nya sendiri. Ia berlari ingin keluar dari rumah tetapi ia malah menabrak Riga.


"Haduh," ucap Ivan.


"Kau kenapa lagi," tanya Riga.


"Tidak ada, minggir," jawab Ivan.


"Sudah malam, jangan kemana mana." Riga menahan tangan Ivan.


"Aku sedang kesal dengan ayah, jangan tahan aku," kata Ivan.


"Cerita dengan ku saja." Riga membawa Ivan ke ruangan nya. Memang ia tidak dekat dengan Ivan, karena perbedaan pemikiran dengan nya, tatapi ia tetap menyayangi Ivan.


"Minum," ucap Riga.


"Abang punya Alkohol," tanya Ivan.


"Punya, tapi jangan beritahu Alvaro," jawab Riga.


"Kenapa, kau ada masalah lagi dengan ayah?"


"Tidak tau," ucap Ivan.


"Jika butuh uang minta pada ku Ivan, aku abang mu, kenapa kau tidak pernah menganggap ku sebagai abang mu," kata Riga.


"Abang yang tidak pernah menanggap ku, kita beda ibu jadi abang tidak sayang pada ku."


"Kata siapa? aku tetap memberikan mu uang setiap bulan, nominalnya sama dengan Alvaro. Aku juga masih memperhatikan mu," kata Riga.


"Oke maafkan aku, mungkin selama ini aku memang cuek pada mu, kita tidak pernah berkumpul bersama untuk bercerita," ucap Riga.

__ADS_1


"Kenapa ayah seperti tidak menyayangi ku, dia seperti lebih sayang pada mu, pada Alvaro. Aku tidak di anggap oleh nya."


"Kau salah Ivan, untuk mendapatkan mu ayah memerlukan perjuangan yang besar."


"Perjuangan yang besar apa? dia menikah saja sini, menebarkan benih nya ke sana sini. Apa mungkin aku anak haram."


"Ivan jangan berlebihan, sudah cukup ya. Kau anak kandung ayah. Ayah menikah dengan banyak wanita karena suatu alasan," kata Riga.


"Karena alasan apa, karena ayah suka meniduri para wanita itu."


"Ivan, jangan begitu. Ayah memang suka begitu, abang juga suka. Tapi tidak begitu alasan nya, sudah intinya tidak ada yang salah dalam pernikahan ayah dengan istri istri nya."


"Tapi bang, aku heran ayah masih kuat ya, bermain berjam jam dengan mamah," kata Ivan.


"Hahaha ayah memang kuat, kau pernah mengintip," tanya Riga.


"Iya pernah, hahaha jadi ingin menikah."


"Kau ketularan Alvaro, kau ingin menikah," tanya Riga.


"Hahaha ya kalau ada jodoh tidak papa," jawab Ivan.


Riga duduk di samping Ivan sambil memberikan satu botol minuman Alkohol pada Ivan.


"Minum aku ingin tau adik ku sini sudah seberapa jago meminum Alkohol."


"Wih sudah sangat jago ternyata," kata Riga.


"Ivan kurangi ya, tidak baik untuk kesehatan mu, abang juga sedang mengurangi nya."


"Kenapa tidak abang saja menjadi ayah ku, abang sangat memanjakan Alvaro, umur tidak terasa aneh," kata Ivan.


"Ya mau bagaimana lagi, memang kau sudah di takdir kan dari benih ayah."


"Kau kan sangat dekat dengan Alvaro, keponakan mu itu masih suka balap liar," tanya Riga.


"Ya bisa dikatakan seperti itu, tidak papa paman, jangan mengekang nya, dia itu keras jika di kerasi balik akan sulit. Dia baru saja menikah aku sudah melihat nya perbedaan nya."


"Begitu ya, kau bisa memantau nya," tanya Riga.


"Iya aku akan memantau nya."


"Sudah tidur saja, ini sudah malam," ucap Riga.


"Malam ini kita habis kan waktu dengan minum," kata Ivan.

__ADS_1


"Abang ingin meminta jatah," ucap Riga.


"Sekali saja, nanti aku intip jika abang tidak menuruti kemauan ku," kata Ivan.


"Kau suka mengintip ya," tanya Riga.


"Hahaha siapa yang tidak mengunci pintu itu yang terkena," jawab Ivan.


"Kalau abang 10/10 keren, banyak gaya," kata Ivan.


"Ivan kau benar-benar mengintip nya," tanya Riga.


"Hahaha iya, aku tidak sengaja bang, waktu itu aku ingin masuk ke dalam kamar mu untuk meminjam kunci mobil, eh aku malah melihat pemandangan yang sangat indah. Sayang sekali untuk aku lewatkan," jawab Ivan.


"Kau memang dasar," ucap Riga.


Untuk memperbaiki hubungan mereka berdua yang memang tidak dekat. Riga memutuskan menuruti apa yang Ivan minta.


Alvaro yang sangat kesal karena Ivan tidak kunjung kembali memutuskan untuk masuk ke dalam kamar nya. Ia bingung harus melakukan apa jika tidak ada Ivan.


"Melanie kau sudah tidur," ucap Alvaro.


"Belum aku sedang menonton drama, kamu tidak jadi kumpul dengan Ivan," tanya Melanie.


"Dia sedang di marah dengan mamah nya, aku bosan sudah tidak mengantuk," jawab Alvaro.


Seperti nya memang rencana Alvaro gagal total, ia sama sekali tidak bisa marah ataupun berbuat kasar pada Melanie. Padahal ia ingin melakukan hal itu agar Melanie meminta pisah padanya. Melanie sudah terlihat nyaman pada nya dan seharusnya ini kesempatan baik.


Saat dekat dengan Melanie sifat Alvaro yang manja malah berpindah tempat dari Riga ke Melanie, memang seperti nya Melanie tempat penampungan sifat manja nya.


Alvaro naik ke atas kasur dan merebahkan diri nya di samping Melanie. Ia ikut menonton apa yang Melanie tonton. Seperti nya memang cukup asik untuk di tonton.


"Itu mereka kissing," kata Alvaro.


"Berbeda dengan kita, ini hanya di luar saja, sedangkan kita sampai ke dalam.


Tangan Melanie Alvaro arahkan ke junior nya, seperti nya enak malam malam begini Melanie mengusap ngusap adik yang tengah tertidur.


"Dia tidur," tanya Melanie.


"Iya, nanti juga bangun," jawab Alvaro.


"Otomatis seperti itu ya," kata Melanie.


"Hahaha Iya otomatis."

__ADS_1


Sudah sangat lama Alvaro penasaran dengan hal itu, tetapi ia tidak memiliki nyali untuk meminta nya. Mulai nya saja ia tidak tau dari mana, ia bahkan tida berani menonton film biru, ia hanya takut saja, padahal sebenarnya tidak ada yang perlu di takutin.


"Alvaro dia sudah bangun," kata Melanie.


__ADS_2