
"Halo yah," ucap Alfi.
"Kau pasti belum tidur kan, tenang saja anak mu ada di rumah ayah," kata Ryan.
"Syukur lah, aku jadi lebih tenang sekarang, dia berada tempat yang aman. Bagaimana dia bisa sampai sana. Anak itu memang benar-benar luar biasa," ucap Alfi.
"Ya seperti daddy nya. Dia pergi tanpa uang, bukan nya dia gila. Semua ini juga karena kesalahan kita yang terlalu memanjakan nya. Tidak seharusnya kita memanjakan nya seperti ini, sifat nya sudah ingin menang sendiri."
"Jadi bagaimana yah, aku ingin dia berubah menjadi pria yang lebih baik, dia memiliki tanggung jawab yang besar loh."
"Ayah akan mencoba mendidiknya agar lebih bauk lagi, oh iya kau tidak perlu datang beberapa minggu ke sini, dia akan lama di sini, mungkin akan lebih baik dia di sini memperbaiki diri nya."
"Aku mah tidak papa, tapi daddy nya pasti tidak bisa. Ini saja dia uring uringan anak nya tidak ada kabar," ucap Alfi.
"Katakan saja pada nya, Alvaro di rumah ku."
"Oh iya yah. Alfi mendapatkan saran dari Tiffany, Alvaro bisa berubah jika ia sudah menikah dan memiliki tanggung jawab. Bagaimana menurut ayah?"
"Itu tidak buruk. Tapi sebelum menikah dia harus mempunyai bekal, nah semua itu menjadi urusan ayah," ucap Ryan.
"Iya yah, aku serahkan semua nya pada ayah."
Alfi benar-benar sudah sangat tenang ketikan tau anak nya sudah berada di rumah ayah nya. Alvaro benar-benar pria yang nekat, hal itu membuat Alfi harus lebih berhati-hati lagi.
"Sayang Al belum pulang," ucap Riga.
"Sudah kamu tenang lah sayang, dia sudah berada di tempat yang sangat tepat. Ia sudah di kampung halaman ku," kata Alfi.
"Haduh, syukurlah, dia sudah sampai dia saja. Bagaimana mungkin dia sampai sana, dompet dan handphone nya saja tidak di bawa."
"Kamu seperti tidak tau dia saja, dia kan nekat seperti mu. Sudah berikan waktu untuk dirinya berubah. Kita serahkan semua nya pada ayah ku," ucap Alfi.
"Kita kapan ke sana," tanya Riga.
"Kata ayah jangan dulu, biarkan dia hidup dengan tenang dulu di sana. Ayah akan mendidik nya dengan sangat baik. Aku yakin Alvaro bis lebih baik lagi. Kamu tahan tahan saja tidak bertemu dengan nya," jawab Alfi.
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, semua ini demi kebaikan nya," ucap Riga.
"Nah itu tau, jika sudah menyangkut kebaikan anak kita, kita harus rela mengorbankan semuanya."
Riga mendekati Alfi dan memeluk Alfi dari belakang. Tak ada Alvaro tidak ada yang menghalangi nya mendapatkan jatah.
"Sayang kita buat adik untuk Alvaro ya," ucap Riga.
"Aku sudah tidak pantas untuk hamil," kata Alfi.
"Ya sudah jangan sampai hamil, maksudnya aku hanya ingin membuat nya saja tapi tidak sampai jadi," ucap Riga.
Keesokan harinya. Pagi sekali Alvaro sudah dibangunin oleh Ryan. Sudah pasti tidak mudah untuk Ryan membangunkan Alvaro. Biasanya Alvaro akan bangun pukul 8 pagi jika ada jam kuliah. Tapi jika tidak bisa sampai jam 12 siang.
"Bangun sudah pagi, ikut aku berlari, kita olahraga," ucap Ryan.
"Kakek aku tidak bisa bangun, besok saja lah," kata Alvaro.
"Bangun Al, atau aku siram dengan air," ucap Ryan.
"Al bagaimana dengan S2 mu," tanya Ryan.
"Cuti," jawab Alvaro.
Ryan mengajak Alvaro berlari pagi mengelilingi desa itu. Pedesaan yang masih asri dengan pemandangan yang cukup menyegarkan mata. Di pagi hari seperti ini banyak orang yang baru memulai aktivitas mereka, seperti berkebun, menanam padi dan lain sebagainya.
Mata Alvaro yang awalnya terasa sangat berat. Melotot seketika melihat pemandangan indah ini. Banyak juga gadis desa yang memanjakan mata nya.
"Kakek kenapa gadis di sini cantik cantik ya," ucap Alvaro.
"Kau suka pilih saja lah," kata Ryan.
"Hahaha mereka bukan ikan asin yang asal aku pilih kek, aku hanya suka memandang saja, tapi untuk dekat tidak mau lah, mereka bukan selera ku," ucap Alvaro.
"Oh iya dimana nenek," tanya Alvaro.
__ADS_1
"Kau lupa sekarang aku hidup sendiri," tanya Ryan.
"Oh iya, maaf kek. Aku lapar aku ingin makan," ucap Alvaro.
"Mau makan apa? bubur bagaimana?"
"Tidak enak, tidak mau, aku ingin ayam," ucap Alvaro,
"Ya sudah tunggu pelayan memasak untuk kita mungkin saat kita pulang sudah banyak makanan di atas meja."
"Alvaro kau bisa duluan, aku ingin bertemu dengan seseorang, jangan kemana mana jika sudah siap langsung pulang," ucap Ryan.
"Iya." Alvaro melanjutkan lari pagi nya.
Saat sedang perjalanan pulang. Alvaro melihat sebuah toko handphone. Kebetulan ia sedang membawa dompet kakek nya. Karena handphone nya tertinggal di rumah Alvaro memutuskan untuk membeli handphone baru.
"Saya mau itu," ucap Alvaro.
"Maaf mas, tapi ini sudah pesanan orang lain," kata pelayan toko.
"Melanie," ucap Alvaro yang membaca badname wanita itu.
"Iya mas, itu nama saya."
"Saya mau itu, berapa pun harga nya saya bayar," ucap Alvaro.
"Sekali lagi maaf mas, kami tidak bisa memberikan handphone ini pada mas berapa pun mas akan bayar. Toko kami tidak pernah menjual sesuatu yang sudah di pesan oleh orang lain," kata Melanie.
"Kau memang gila, ambil kan aku yang itu," ucap Alvaro.
"Kalau mas tidak bisa berkata dengan baik, lebih baik mas membeli handphone di toko lain."
"Sudah miskin sombong lagi." Alvaro pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak sudi membeli handphone di tempat itu.
"Ada yang seseorang seperti itu," ucap Melanie.
__ADS_1
"Sabar, dia memang pria yang angkuh, kita lihat saja apakah dia akan kembali lagi. Mana ada toko handphone lagi di desa ini."