
Alvaro dan Melanie sudah tiba di apartemen mereka. Apartemen yang benar-benar sangat luas dan benar-benar sangat mewah. Apartemen ini hadiah dari Riga untuk mereka berdua.
"Mas ini sangat besar sekali," ucap Melanie.
"Cocok untuk mengadakan pesta," kata Alvaro.
"Tunggu dulu, kau memanggil ku mas," tanya Alvaro.
"Hahaha kenapa, lebih baik begitu bukan."
"Bagus aku sangat suka jika kau sopan begitu pada ku." Alvaro mengusap rambut Melanie.
"Jadi istri yang baik ya, aku pasti akan berusaha menjadi suami yang baik untuk mu."
Jika damai seperti ini mereka berdua menjadi pasangan yang sangat serasi. Yang satu cantik dan yang satu sangat tampan. Meskipun memiliki sifat yang berlawanan arah jika sudah jodoh pasti akan bisa saling melengkapi.
Melanie dan Alvaro membereskan semua pakaian mereka di dalam lemari, ternyata di dalam sana sudah ada beberapa pakaian baru untuk mereka berdua.
"Ayah sangat baik sekali," kata Melanie.
"Memang sangat baik, dia orang yang sangat mengerti diri ku," ucap Alvaro.
Saat sedang menyusun pakaian tiba tiba Handphone Alvaro berbunyi, tertulis dari paman tersayang Alvaro siapa lagi jika Nathan.
"Halo paman," ucap Alvaro.
"Kau sudah di apartemen kan, paman sudah berada di dekat situ," kata Nathan.
"Sudah paman mau ke sini," tanya Alvaro.
"Iya Alvaro, Nathan membawa hadiah untuk mu," jawab Nathan.
"Oke aku tunggu," ucap Alvaro dengan sangat bahagia, ia sangat senang paman tersayang nya datang ke apartemen.
"Siapa mas," tanya Melanie.
"Paman tersayang ku, dia mau datang membawa hadiah untuk kita," jawab Alvaro.
"Dia sangat baik, aku belum pernah ke bertemu," kata Melanie.
"Ya memang karena dia jarang datang, sangat sibuk sekali. Aku saja jarang bertemu kok, tapi uang transferan tetap masuk," ucap Alvaro.
Tak lama Nathan sudah sampai di apartemen itu. Ia langsung masuk karena apartemen itu tidak di kunci.
"Alvaro," ucap Nathan.
"Paman...." Alvaro berjalan mendekati Nathan dan langsung memeluk Nathan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Nathan yang mencium beberapa kali dahi Alvaro. Sudah hampir 1 tahun ia tidak bertemu dengan keponakan kesayangan nya.
"Kau sudah menikah saja, kenapa tidak meminta izin pada ku," ucap Nathan.
"Semua mendadak paman, kenapa paman sangat sibuk si, aku tidak pernah bertemu dengan mu lagi," kata Alvaro.
"Istri mu cantik, sudah kau goyang," tanya Nathan.
"Belum, aku tidak berani, sudah jangan membahasnya," jawab Alvaro.
"Hahaha ternyata kau sangat polos."
"Hay siapa nama mu, kamu sangat cantik sekali," ucap Nathan.
"Melanie paman salam kenal," kata Melanie.
"Ayo duduk dulu, ada banyak hadiah yang sudah aku siapkan untuk kalian," ucap Nathan.
Mereka bertiga duduk di sofa yang tersedia. Nathan membuka koper yang ia bawa tadi. Koper yang berisi berbagai macam hadiah untuk Alvaro dan Melanie.
"Ini satu set perhiasan berlian, ini dari tante mu," ucap Nathan.
"Ini kunci mobil, untuk mu Nathan besok akan datang. Ini tiket Hanymoon ke Eropa berbagai macam negara. Jam tangan juga, gelang tangan mewah." Nathan memberikan nya semua pada Nathan dan Melanie.
Melanie melongok melihat semua itu, berbeda dengan Nathan yang tersenyum lebar. Memang ini yang ia harapkan dari Nathan, Nathan jika sudah memberikan nya hadiah tidak pernah setengah setengah.
"Ini jam tangan khusus untuk mu, mungkin sekarang sudah berpuluh-puluh M, paman tidak tau sekarang."
"Ini jam tangan yang aku inginkan paman, tapi bukan nya sudah tidak terjual lagi," tanya Alvaro.
"Hahaha ya karena di tempat ku, ini juga aku mendapatkan nya dari tempat yang sangat jauh."
"Terimakasih paman, paman tidak bangkrut kan," tanya Alvaro.
"Tidak lah, untuk keponakan ku ini apa si yang tidak," kata Nathan.
"Paman sangat baik, terimakasih paman bagaimana kami membalas kebaikan paman," ucap Melanie.
"Sangat mudah segera mempunyai anak, Alvaro cepat lakukan lah, apalagi yang kau tunggu."
"Iya paman aku pasti akan melakukan nya," kata Alvaro.
"Bagus," ucap Nathan.
"Melakukan hal itu, apa dia sudah merencanakan semua nya," batin Melanie.
Nathan tidak bisa lama lama berada di sana, ia harus kembali pergi untuk melanjutkan pekerjaan nya.
__ADS_1
"Paman harus sering datang ya," ucap Alvaro.
"Hahaha tidak bisa Alvaro, paman kan sudah tidak tinggal di Indonesia lagi," kata Nathan.
"Tapi perusahaan paman tetap di sini," ucap Alvaro.
"Sekarang hanya cabang, yang utama sudah pindah ke Singapura untuk mempermudah semua nya, jangan khawatir Alvaro, jika paman datang ke rumah, paman akan memberitahu mu," kata Nathan.
Setelah kepulangan Nathan. Alvaro langsung melihat satu persatu hadiah yang Nathan berikan pada mereka berdua. Barang yang pertama ia pegang adalah jam tangan mewah yang sangat ia inginkan.
"Bagus mas," ucap Melanie.
"Memang bagus, mahal Melanie aku sangat suka," kata Alvaro.
Alvaro langsung memakai nya. Kemudian ia mengambil satu set perhiasan dan memberikan nya pada Melanie.
"Ini hadiah untuk mu," kata Alvaro.
"Aku apa bisa menerima nya," ucap Melanie.
"Hahaha untuk apa tidak bisa menerima nya. Aku pakai kan ya."
Alvaro memakai kan perhiasan itu ke tubuh istri nya, dari gelang, anting sampai cincin, karena Melanie sudah memakai kalung dari nya Alvaro tidak memakai kan kalung lagi.
"Sangat cantik," ucap Alvaro.
"Terimakasih," kata Melanie.
"Bagus kamu pakai, tapi jangan di pakai terus ya, pakai saja kalau keluar. Aku tidak terlalu suka kau pakai perhiasan di rumah."
"Iya aku pun juga tidak terlalu suka memakai nya, kalau keluar oke lah," kata Melanie.
Melanie menyimpan semua hadiah itu ke dalam lemari. Alvaro yang meminta nya, Alvaro masih belum tau kapan menggunakan beberapa hadiah yang Nathan berikan pada mereka.
Ia berjalan menyelusuri ruangan itu untuk menentukan dimana pesta yang akan ia buat di gelar. Di dalam ruangan atau di balkon apartemen yang sangat luas.
"Sedang apa si," tanya Melanie.
"Bagus dimana ya, aku bingung," jawab Alvaro.
"Bagus apa nya mas," tanya Melanie.
"Lokasi pesta nya, aku belum bisa menentukan dimana tempat yang bagus," jawab Alvaro.
"Aku pikir di balkon itu bagus, tempat nya sangat strategis. Dekat dengan toilet, tempat nya juga lebar dan langsung terhubung ke ruang tamu."
"Ya sudah di sana saja, nanti aku tinggal meminta orang untuk menyiapkan semua nya."
__ADS_1
Alvaro mengandeng tangan Melanie dan membawa nya ke ayunan yang ada di sana. Ia duduk di balkon itu dan memangku Melanie. Alvaro tidak pernah berfikir jika menikah itu begitu sangat menyenangkan seperti ini. Jika seperti itu untuk apa lama menjomblo