
"Kamu yang pakai ya," kata Putri.
"Aku, enak saja, jelas kamu lah. Kamu tu harus sering memakainya, agar kamu bisa membangunkan adik ku yang tertidur, setelah itu dia akan mengeluarkan benih nya agar kamu cepat hamil sayang."
"Iya iya, sebentar lagi pasti aku akan hamil, bagaimana tidak hamil nganggur sedikit saja sudah habis di gempur oleh kamu," ucap Putri.
"Hahaha jelas dong Aldy." Aldy mencium wajah istri nya dengan cepat.
Putri merasa sejak kemarin Aldy terlihat sangat bahagia, ntah apa yang membuat nya bahagia, yang jelas ia bisa merasakan kebahagiaan itu.
Setelah selesai berbelanja, mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Sebenarnya banyak yang ingin Aldy tanyakan pada Putri yang ingatan nya sudah kembali pulih tetapi ia masih menunggu momen yang tepat untuk menanyakan hal itu.
Di tempat lain Roger sudah sampai di rumah Tiffany, ia cukup deg deg kan bertemu dengan ayah nya Tiffany, ia hanya bisa berharap jika ayah nya Tiffany cocok dengan nya, sehingga ia mendapatkan restu untuk mendekati anak nya.
"Selamat siang om," ucap Roger.
"Siang kau Roger," tanya Bram.
"Iya om, salam kenal." Roger menjulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dan Bram juga langsung menerima nya.
"Wah wah Tiffany di dekati dengan pria yang sangat besar," kata Bram.
"Besar apa nya om?"
"Tubuh nya lah, kau sangat tinggi, sedangkan Tiffany tak sampai sedada mu," kata Bram.
"Hehehe iya om, dimana Tiffany?"
"Dia sedang melukis di balkon kamar nya. Kau siapa nya Riga?"
"Aku hanya teman nya Riga, dia tau kalau aku jomblo dan dia mencarikan ku jodoh."
"Bagus, Tiffany juga sudah layak untuk menikah, semoga saja kalian berdua berjodoh. Jujur kau bukan pria pertama yang datang ke rumah untuk mendekati ataupun melamar Tiffany tetapi semua nya di tolak mentah mentah oleh nya," kata Bram.
"Wah seperti nya aku harus ekstra, tidak masalah om Tiffany layak di perjuangkan," ucap Roger.
"Aku suka itu, sudah saja jumpai Tiffany. Dan mulai sekarang jangan panggil aku om lagi, aku bukan om om mu, panggil aku ayah."
"Hahaha siap ya, di lantai dua yah?"
"Iya lantai dua," ucap Bram.
Sambil tersenyum bahagia Roger pergi ke lantai dua, ia sudah mendapatkan restu ayah Tiffany. Ia sangat senang langsung diberikan kepercayaan untuk mendekati Tiffany. Roger sangat berharap jika Tiffany memang jodoh nya.
Tiffany sedang melukis pemandangan indah di depan rumah nya. Ia memang sangat pintar melukis dan lukisan nya nanti di pajang di ruangan khusus rumah ini.
__ADS_1
Mata Roger terbelalak melihat Tiffany yang hanya memakai tanktop setengah badan dan celana pendek tidak sampai lutut. Paha dan punggung putih mulus nya terlihat sangat nyata. Hal itu sedikit membangun benda yang sudah lama tertidur dengan aman.
"Gila, dia sangat mulus, apa dalam nya juga mulus," batin Roger.
"Hay." Roger berjalan mendekati Tiffany yang sedang fokus melukis.
Tiffany hanya melirik sekilas ke arah Roger, setelah itu ia melanjutkan lukisannya. Roger tau diri nya sedang di cuekin, mau bagaimana pun sikap nya dulu pasti membuat Tiffany merasa kesal sampai sekarang.
"Kamu sangat pintar melukis ya."
"Lukisan yang sangat cantik seperti orang nya," kata Roger.
"Ambilkan aku plastik, aku mual mendengar nya," ucap Tiffany.
"Tajam sekali ya, kita lihat saja kamu bisa terus seperti ini pada ku tidak," batin Roger.
"Bukan nya kau ingin bertemu dengan ayah ku, kenapa kau ke sini, pengganggu."
"Tadi sudah bertemu, dan aku di minta untuk menemani mu," kata Roger.
"Aku bukan anak kecil, pergi aku jadi tidak fokus."
"Tidak fokus karena ketampanan ku," ucap Roger.
"Drrtttt.... drtt...drtt..."
Tiffany mendengus kesal saat handphone nya kembali berdering, tetapi tiba-tiba bibir tersenyum karena panggilan itu dari Alfi.
"Halo Alfi," ucap Tiffany.
"Halo gadis cantik tapi jomblo," kata Alfi.
"Eh enak saja jomblo aku sudah punya pacar," ucap Tiffany.
"Kau punya pacar, jangan bermimpi lah. Kau saja sudah tidak suka pria, sudah tua juga tapi tidak menikah menikah."
"Enak saja aku masih normal."
"Hahaha kau dimana jomblo, oh iya pasti di rumah, kalau jomblo siapa yang mengajak mu keluar," kata Alfi.
"Aku sudah tidak jomblo." Tiffany benar-benar kesal jika di ejek jomblo oleh Alfi. Walaupun kenyataan nya memang ia jomblo.
"Apa bukti nya," tanya Alfi.
"Hmmmm."
__ADS_1
Tiffany menarik tangan Roger ke dekat nya.
"Katakan sesuatu sayang," ucap Tiffany.
"Aku?" Roger menaikan satu alis nya.
"Katakan halo, dia sepupu lukcnud ku," ucap Tiffany.
"Hallo," kata Roger.
Alfi mengerutkan dahi nya, ia seperti mengenal suara itu.
"Ita pacar mu," tanya Alfi.
"Iya dong, aku sudah tidak jomblo lagi," jawab Tiffany.
"Tunggu dulu, aku seperti mengenal suaranya."
"Mana mungkin, katakan sesuatu lagi sayang."
"Halo Alfi," ucap Riga.
"Roger hahahahaha." Alfi tertawa terbahak-bahak ketika tau pacar yang Tiffany maksud.
"Kau mengenal nya," tanya Tiffany.
"Hahaha iya iya lah, dia saja tinggal di rumah Riga, bagaimana mungkin aku tidak mengenal nya," jawab Alfi.
"Ahhh tidak dia bukan pacar ku."
"Roger kau sangat hebat, baru saja mendekati Tiffany sudah berpacaran saja, aku jadi iri pada mu," ucap Alfi.
"Jelas dong, kalau sudah jodoh tidak akan kemana," kata Roger.
Karena kesal Tiffany langsung mematikan sambungan telepon itu. Ia sangat menyesal telah mengatakan jika Roger adalah pacarnya.
"Kita berpacaran sekarang," tanya Roger.
"Lah ngarep," ucap Tiffany.
"Tadi kau sendiri yang mengatakan jika kita berpacaran, sesuai dengan apa yang kamu katakan sekarang kita berpacaran, aku tidak mau tau."
"Lah kok maksa, kau tau bersandiwara tidak? aku hanya bersandiwara tidak serius, jangan terlalu ngarep. Atau jangan jangan kau suka pada ku?"
"Hmmm seperti nya iya, hahaha," ucap Roger.
__ADS_1