
"Maafkan aku sayang maaf," ucap Alfi.
"Hahaha maaf, aku sudah memberikan mu kebebasan, sudah memberikan mu cinta, aku sudah memberikan segala nya apa yang ku punya pada mu, tapi apa yang kamu lakukan pada ku."
"Kamu salah paham sayang, aku tidak melakukan apa yang kamu pikirkan," kata Alfi.
"Salah paham kamu bilang. Kamu pergi tanpa seizin ku, kamu bertemu dengan seorang pria tanpa memberitahu ku. Sadar Alfi sadar, kamu memiliki suami. Atau kamu mau anak itu hanya memiliki daddy nya saja," ucap Riga.
"Sayang apa yang kamu katakan, aku tidak mau." Alfi benar-benar sangat takut terjadi sesuatu pada pernikahan nya, terlihat dengan jelas jika Riga benar-benar sangat marah pada nya.
"Sekarang semua terserah mu, aku tidak peduli lagi pada mu."
"Sayang maafkan aku, maaf." Alfi bangkit dari tempat duduk nya dan langsung memeluk Riga dengan erat. Ia menangis di dalam pelukan itu.
"Untuk apa menangis, kamu yang melakukan ini berarti itu keinginan mu," kata Riga.
"Tidak sayang maafkan aku, maaf Riga. Aku salah aku tau aku salah."
"Alfi kamu benar-benar membuat ku kecewa, aku memang sangat mencintai mu tapi apa yang kamu lakukan sekarang benar-benar sudah kelewatan."
Riga melepaskan pelukan dari Alfi, ia berjalan pergi meninggalkan Alfi. Ia tidak mau emosi nya yang tidak stabil terjadi membuat nya melakukan hal yang tidak tidak pada Alfi.
"Sayang aku mohon maafkan aku." Alfi memeluk kaki Riga.
Riga membuang nafas nya dengan kasar, jika tidak karena Alfi sedang hamil tangan nya dari tadi pasti sudah melayang.
"Terus mau kamu apa?"
"Jangan pergi sayang, maafkan aku," ucap Alfi.
Riga menarik Alfi dan membawa Alfi ke atas ranjang, ia tidak tau bagaimana cara agar emosi nya bisa reda dengan cepat.
"Buka pakaian mu," ucap Riga.
"Kamu ingin melakukan nya dengan keadaan seperti ini, kamu yakin tidak menyakiti ku," tanya Alfi.
"Itu hak ku." Riga merangkak naik ke atas ranjang, ia berbaring di atas ranjang dan meminta Alfi untuk naik ke atas tubuh nya.
__ADS_1
"Katakan kenapa kamu keluar rumah," tanya Riga.
"Aku hanya ingin bersenang-senang sayang, aku tidak izin pada mu karena aku masih marah pada mu."
"Itu bukan jawaban yang aku mau." Riga menarik paksa baju Alfi sampai kancing baju Alfi terlepas semua dari tempat nya.
"Buat dia bangun." Riga memejamkan mata nya.
Tangan Alfi mau tidak mau melepaskan pakaian suami nya, dari atas sampai ke bawah. Tak lama mereka berdua sudah tidak memakai apa apa. Dan tak lama pulak sosis itu sudah bangun dengan sempurna.
"Buat dia tidur," ucap Riga.
"Tapi bagaimana mungkin bisa," kata Alfi.
"Apa yang tidak bisa," ucap Riga.
Alfi berusaha untuk melakukan nya tanpa bantuan Riga tetapi tetap saja tidak bisa. Karena sudah sampai di ubun ubun. Riga mengambil alih permainan, ia memimpin permainan sedikit lebih kasar pada Alfi. Ntah kenapa rasa benci nya sangat kuat jika Alfi bertemu dengan pria lain tanpa seizin nya.
"Ah sakit Riga, perlahan," ucap Alfi.
"Ayo bergerak lah," kata Riga.
"Bisa, perlahan." Riga membantu Alfi bergerak di atas tubuh nya.
Alfi memejamkan mata nya sambil bergerak di atas tubuh Riga. Rasa nikmat dan sakit bergabung menjadi satu, dalam posisi seperti ini sosis Riga lebih masuk ke dalam rahim Alfi. Alfi bergerak dengan sangat lembut, hal ini membuat Riga merem melek di bawa sana. Ia tidak kuat jika Alfi bergerak dengan sangat lambat.
Riga menahan tubuh Alfi dan ia sendiri yang bergerak dari bawa saja. Alfi yang mendapatkan serangan itu semakin seperti cacing kepanasan.
Setelah pertempuran panjang. Alfi tidur di atas tubuh Riga seperti cicak yang menempel di dinding. Hukuman nya ternyata cukup mengenakan untuk nya. Riga tidak terlalu brutal seperti yang ia pikirkan.
"Lain kali jangan membuat ku marah," ucap Riga sambil mengusap rambut istri nya.
Seperti singa yang sudah di berikan jatah makanan, begitu juga dengan Riga yang langsung kalem saat sudah mendapatkan jatah. Rasa marah nya rasa Alfi mulai menghilang tetapi tetap saja masih ada rasa jengkel saat mengingat Alfi bersama Daniel.
"Maafkan aku sayang maaf," ucap Alfi sambil memeluk Riga dengan sangat erat. Ia sudah kapok membuat Riga mengamuk pada nya.
"Aku memaafkan mu," kata Riga. Ia juga tidak bisa seperti ini pada Alfi, ia yakin Alfi juga tidak mungkin berkhianat pada nya.
__ADS_1
Riga beranjak dari atas kasur, ia memakai celana boxer dan berjalan keluar dari kamar. Riga ingin mengambil makanan yang ia beli tadi di restoran. Makanan itu tertinggal di dalam mobil.
"Hey tuyul," ucap Varo.
"Enak saja tuyul, aku ingin mengambil makanan di dalam mobil, nanti aku menemui mu."
Setelah mengambil makanan nya. Riga sejenak berjalan mendekati Varo yang sedang menonton televisi. Varo yang melihat Riga hanya menggunakan boxer hanya bisa menggelengkan kepala nya.
"Ini anak memang, untung saja jika tidak pada jam kerja pelayan tidak ada yang di rumah utama," ucap Varo.
"Hahaha makanannya aku berani. Bagaimana yah sudah nampak besar kan," kata Riga.
"Kecil, kenapa lemas," tanya Varo.
"Namanya habis digunakan, jadi dia kecil," kata Riga.
"Oalah, kau sore sore sudah mendapatkan jatah," ucap Varo.
"Aku sedang marah pada istri ku, dia. pergi keluar rumah tanpa seizin ku," kata Riga.
"Terus hukuman nya di ranjang, itu mah kemauan mu, sudah masuk sana nanti mamah mamah mu datang mereka akan melihat mu seperti ini," ucap Varo.
"Hehehe iya yah." Riga berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Di dalam kamar Alfi sedang menunggu Riga, ia tidak tau kenapa Riga keluar dari dalam kamar. Alfi takut Riga memberikan hukuman baru untuk nya.
"Sayang aku membawakan makanan kesukaan mu," ucap Riga
"Dari mana," tanya Alfi.
"Dari restoran di mall, aku tadi membeli nya untuk membujuk mu yang sedang ngambek," jawab Riga sambil duduk di dekat Alfi.
Alfi yang mendengar itu semakin merasa bersalah, Riga benar-benar mengingat nya dimana pun dan kapan pun berada. Meskipun sedang marah Riga juga masih memikirkan nya. Berbeda dengan diri nya yang sangat egois.
"Maafkan aku, hiks hiks hiks, aku wanita yang bodoh," ucap Alfi.
"Tidak kami wanita yang pintar kok, pintar bergoyang di atas ranjang bersama ku," kata Riga.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan membahas nya aku malu," ucap Alfi.
"Hahaha sudah jangan menangis, aku sudah melupakan nya. Yang aku ingat hanya, ah ah ah Riga, hahaha..."