
"Aku yakin jika Pactrik tau segalanya pasti dia akan marah pada kita, ataupun pada Alvaro," kata Roger.
"Mau bagaimana lagi mas mungkin ini sudah menjadi jalan takdir mereka berdua."
"Semoga saja patrick dapat menerimanya. Aku tidak mau patrick dan alvaro bermusuhan karena hanya seorang wanita saja. Banyak wanita di luar sana yang bisa menggantikan Melanie," kata Roger.
"Semoga saja mas aku juga mengharapkan yang kamu harapkan Melanie wanita yang sangat pantas untuk Alvaro ku yakin Alvaro dapat berubah."
Malam semakin larut acara terus berlalu satu persatu orang meninggalkan tempat itu, termasuk keluarga Alvaro yang satu persatu juga pulang ke kota, mereka tidak bisa menginap di desa karena ada banyak pekerjaan, apalagi beberapa dari mereka saat menjabat sebagai seorang pemimpin perusahaan banyak pekerjaan yang harus segera dilaksanakan.
"Kakek pulang sekarang juga," tanya Alvaro.
"Iya Alvaro kakek pulang sekarang, kau mau tinggal di mana ya nanti, itu terserah mu asalkan kau bicarakan semuanya dengan baik," jawab Varo.
"Aku ini tinggal di kota kayak aku tidak betah di sini," kata Alvaro.
"Bicarakan semuanya dengan daddy dan mamamu, jangan lupa pada istrimu juga, dia berhak memutuskan semuanya dengan mu," ucap Varo.
"Iya kek hati-hati di jalan."
"Jangan khawatir kakek tidak pulang sendiri, kakek pulang bersama yang lainnya," kata Varo.
Satu persatu dari mereka masuk ke dalam kamar masing-masing termasuk Melanie yang sudah sangat lelah. Alvaro membiarkan Melanie masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, ia masih ingin bertemu terlebih dahulu dengan ivan. Ada hal yang ingin bicarakan dengan Ivan.
"Kau pulang juga?"
"Sebenarnya sih aku ingin disini, tapi aku udah pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan, ayahku memberikanku pekerjaan baru."
"Jadi kau mulai bekerja?"
"Ya begitulah sepertinya ayahku sudah berpengaruh oleh paman," ucap Ivan.
"Ya sudah jika kau ingin pulang aku akan kota mungkin lusa atau besok," kata Alvaro.
"Kau jadi tinggal di kota," tanya Ivan.
"Iya aku akan tinggal di kota aku tidak betah tinggal di sini," jawab Alvaro.
"Aku tunggu video yang kau janjikan pada ku," ucap Ivan.
"Oke akan aku buat," kata Alvaro.
Setelah berbicara dengan Ivan. Alvaro baru masuk kedalam kamarnya, ia sangat lelah setelah melakukan aktivitas yang sangat padat hari ini.
Alvaro melihat Melanie sedang melepaskan riasan di wajah nya. Tubuh nya juga masih berbalut dengan pakaian pengantin. Alvaro duduk di pinggir ranjang yang tidak jauh dari planet Melanie, ia ingin langsung membahas masalah tempat tinggal.
"Melanie," ucap Alvaro.
"Iya ada pada ingin kau bicarakan," tanya Melanie.
"Soal tempat tinggal," jawab Alvaro.
"Kenapa kita tidak tinggal di sini saja?".
__ADS_1
"Aku tidak bisa tinggal disini kita harus pindah ke kota."
"Tapi bagaimana dengan orang tuaku?"
"Orang tuamu. Kan masih ada adik dan papamu."
"Tapi....
"Sudah nurut saja padaku lagi pula orang tua mu juga akan pergi untuk mengobati adik mu bukan," ucap Alvaro.
"Di kota di mana kita kan tinggal," tanya Melanie.
"Aku sih ingin apartemen," jawab Alvaro.
"Tidak di rumah orang tuamu saja," tanya Melanie.
"Tidakkah mereka akan banyak mengatur ku," jawab Alvaro.
"Kau yakin al?"
"Kenapa tidak yakin."
"Melihatmu saja aku tidak yakin," ucap Melanie."
"Sudah percaya padaku aku tetap akan memberikanmu nafkah," kata Alvaro.
"Emang kau bekerja?"
"Kau meremehkan aku tanpa bekerja aku pun mempunyai banyak uang."
"Sunda aku males banget berbicara aku lelah aku ingin tidur. Jadi fiks kita tinggal di kota yang banyak membantah aku tidak suka."
Sebenarnya Melanie tidak ingin pindah ke kota. Ia sudah sangat betah hidup di desa ini. Tapi mau bagaimana lagi Alvaro sudah meminta nya, dan ia harus mengikuti kemana suaminya membawa nya pergi.
"Alvaro ganti dulu," ucap Melanie.
"Hmmmm ambilkan aku baju," kata Alvaro.
"Baju apa? kaus oblong saja ya," ucap Melanie.
"Boleh," kata Alvaro.
Alvaro kembali membuka mata nya. Ia lupa ingin membuat video malam pertama nya. Alvaro mengambil handphone nya dan merekam diri nya dan Melanie.
"Untuk apa itu," tanya Melanie.
"Dokumentasi, awas jangan sampai tubuh mu masuk sini, kalau teman ku lihat bahaya," jawab Alvaro.
"Ini pakaian mu," ucap Melanie.
Alvaro merekam diri nya berganti pakaian, setelah itu ia tidur sesaat. Saat semua nya di rasa cukup, Alvaro mematikan video itu.
"Video malam pertama selesai, untuk apa si dia meminta nya," ucap Alvaro.
__ADS_1
Melanie kembali membereskan riasan nya. Ia mengalami kesulitan saat ingin membuka resleting gaun belakang nya. Saat melihat Alvaro yang belum tidur, ia ingin meminta bantuan tapi malu.
"Mau apa," tanya Alvaro. Yang sadar jika Melanie sedang kesulitan.
"Tolong buka kan ini, sangat sulit," ucap Melanie.
"Sini," kata Alvaro.
"Tapi kau belum memakai celana mu," ucap Melanie.
"Aku sudah pakai celana pendek, untuk apa malam. malam pakai celana panjang," jawab Alvaro.
Melanie berjalan mendekati Alvaro dan duduk di depan nya, agar Alvaro dapat membuka resleting belakang gaun nya. Belum Melanie duduk Alvaro menarik Melanie ke atas pangkuan nya.
"Alvaro ini malam terakhir kau baik pada nya, jadi jangan buat dia takut pada mu," batin nya sambil memeluk Melanie dari belakang.
"Kau wangi sekali," ucap Alvaro.
"Al tolong cepat buka aku sudah gerah ingin mandi," kata Melanie.
"Sttt ini malam pertama kita, kata orang malam pertama itu sangat menyaksikan," ucap Alvaro.
"Tidak ada itu hanya kata orang saja."
"Melanie apa sekarang aku boleh melakukan apa saja pada mu," tanya Alvaro.
"Boleh tapi asalkan jangan itu, aku tidak mau di bobol," jawab Melanie.
"Hahaha aku tidak akan melakukan nya ah, tapi jika khilaf itu beda cerita," ucap Alvaro.
"Al tolong cepat, aku sudah gerah," kata Melanie.
Alvaro melepaskan resleting Melanie dan membiarkan Melanie pergi.
"Aku tidak ingin melihat mu pakai pakaian tertutup," ucap Alvaro.
"Alvaro kau ingin mengingkari perjanjian kita," tanya Melanie.
"Aku hanya berjanji tidak melakukan nya pada mu, aku juga ingin melihat bentuk indah tubuh istri ku," ucap Alvaro.
Melanie masuk ke dalam kamar mandi. Baru beberapa jam mereka menikah Melanie sudah dapat merasakan perbedaan Alvaro. Alvaro sudah jauh berbeda, ia takut Alvaro malah tidak melepaskan nya dan malah melakukan hal semena mena pada nya. Ia bukan wanita yang lema tetapi seorang wanita tetap bisa di tindas oleh seorang pria.
"Al," kepala Riga masuk ke dalam kamar Alvaro.
"Iya dad," ucap Alvaro.
"Belum mulai kan," tanya Riga.
"Belum dad, ada apa ya," tanya Alvaro.
"Ini ada obat kuat, kau mau tidak?"
"Tidak ah untuk apa, dad jangan ganggu aku ah, buat anak saja dengan mamah, minta mamah di atas lagi."
__ADS_1
"Kurang ngajar, dulu jadi diri mu karena itu." Riga pergi meninggalkan kamar Alvaro.