
"Kenapa kita putus," tanya Melanie.
"Setelah S2 ku selesai aku di minta untuk ke Jerman, aku akan lama di sana, aku takut kamu tidak akan kuat menunggu ku, aku tidak ingin menggantung hubungan kita," jawab Pactrik.
"Hanya karena itu? dimana janji kamu untuk menikahi ku, mana janji itu? hanya sebatas perkataan saja."
"Maafkan aku Melanie maaf, aku tidak bisa menepati nya. Aku memang bukan pria yang baik untuk mu," ucap Pactrik.
Melanie menarik nafas nya dengan perlahan, jika Pactrik tidak memutuskan nya dan mengajak nya pergi ke Jerman bersama pasti ia akan memilih Pactrik dari pada perjodohan ini. Ternyata sesuatu yang ingin di perjuangkan menolak untuk di perjuangkan.
"Ternyata jatuh cinta sesakit ini ya, aku tidak berharap mencintai seseorang lagi jika rasa nya seperti ini," ucap Melanie.
"Maafkan aku, kamu pasti bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari ku."
"Kamu tau apa yang ingin aku katakan. Tapi seperti nya sudah tidak ada artinya lagi." Melanie tidak bisa menahan air mata nya, hubungan yang ia anggap serius ternyata hanya seperti ini saja.
"Oke kita putus, kita selesai kan semuanya sekarang. Terimakasih Pactrik untuk semuanya, terimakasih atas kebahagiaan dan rasa sakit ini," ucap Melanie.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan tadi." Sebelum Melanie pergi Pactrik menahan tangan Melanie.
"Untuk apa? bukan nya semua nya sudah selesai."
"Aku ingin mendengar nya."
"Oke, aku akan mengatakan nya. Aku di jodohkan dengan pria lain, pria yang paling aku benci. Aku datang ke sini karena aku lebih memilih kamu dari pada perjodohan gila itu. Aku rela kehilangan segala nya demi kamu, aku ingin melihat perjuangkan kamu. Tetapi ternyata aku salah mengambil keputusan, aku berharap dengan sesuatu yang tidak jelas."
"Melanie...
"Hahaha tidak papa, keputusan yang kamu ambil benar. Keluarga yang nomor satu, aku yang salah karena ingin mengorbankan keluarga ku hanya karena pria seperti mu. Terimakasih telah memberikan ku petunjuk jika keputusan ku yang sebelumnya ada kesalahan besar," ucap Melanie.
"Aku...
"Tidak papa Pactrik, jangan merasa terbebani oleh wanita seperti ku. Semoga karir mu sukses di luar sana." Melanie melepaskan kalung pemberian Pactrik, ia meletakkan kalung itu di tangan Pactrik Pactrik dan langsung berlari meninggalkan Pactrik.
Pactrik ingin mengejar Melanie tetapi Roger yang memantau pactrik dari kejauhan menahan nya. Roger tidak tau apa yang terjadi tetapi sebaiknya memang Pactrik tidak mengejar Melanie.
"Sudah jangan, dia butuh waktu, jangan membuat nya semakin tersakiti," ucap Roger.
Pactrik tidak pernah membantah sedikitpun perkataan orang tua nya. Ia hanya diam melihat kepergian Melanie yang perlahan menghilang di gelap nya malam.
Ntah kenapa Melanie malah ke rumah Alvaro kembali. Memang jam kerja nya belum selesai tapi ia tidak memiliki perasaan yang enak untuk bertemu dengan Alvaro yang sangat menjengkelkan.
"Melanie masuk," teriak Alvaro dari balkon kamar nya.
"Tumben," ucap Melanie.
__ADS_1
Melanie bergerak ke balkon kamar Alvaro. Di saja ia duduk di kursi yang tidak jauh dari Alvaro.
"Bagaimana? kau memilih nya?"
"Bagaimana aku bisa memilih nya, dia saja melepaskan ku, dia memutuskan ku sebelum aku mengatakan semua nya," ucap Melanie.
"Hahaha dia pria yang tidak bertanggung jawab, sudah ada wanita yang ingin keseriusan malah si sia sia kan."
Melanie tidak bisa menahan air mata nya lagi, sekuat apapun dia rasa nya sangat sakit. Ia menangis sambil menutup wajahnya.
Alvaro terdiam melihat tangisan Melanie, seperti nya tangisan Melanie benar-benar terasa sangat sakit. Seseorang seperti Melanie akan menangis jika sudah merasa semua nya terlalu sakit.
"Hey sudah jangan menangis, kita bisa merencanakan hal lain untuk hilangkan menggagalkan perjodohan ini," ucap Alvaro yang tidak tega juga melihat Melanie menangis seperti itu. Hati nya juga terasa tersayat melihat wanita menangis karena seorang pria.
"Maaf." Melanie mengambil tisu di tas nya dan menghapus semua air mata nya.
"Tidak papa," ucap Alvaro.
"Tapi ia Alvaro seperti nya aku tidak bisa menghindar dari perjodohan ini, tidak ada alasan lagi untuk ku menolak perjodohan ini."
"Mau bagaimana lagi, nanti setelah kita menikah kita tidak bisa merencanakan hal untuk berpisah."
"Bagaimana kita menikah hanya untuk formalitas biasanya saja, setelah tiga bulan menikah kita tidak berkata tidak menemukan kebahagiaan dan kita minta minta untuk berpisah," ucap Melanie.
"Bekerja sama untuk menciptakan pernikahan yang buruk," ucap Melanie.
Saat sedang berbicara tiba tiba petir dengan suara yang besar menyambar.
"Duar....."
"Alvaro," teriak Melanie.
"Seperti nya mau hujan, kau menginap di sini saja," ucap Alvaro.
"Tidak ah, nanti kau aneh aneh," tolak Melanie.
"Aneh aneh bagaimana, ya tidak tidur dengan ju juga. Kan banyak kamar kosong," ucap Alvaro Alvaro.
"Duar..."
"Ayo masuk nanti hujan," ucap Alvaro.
"Al apa tuhan marah kita sudah mempermainkan pernikahan," tanya Melanie.
"Otak mu sudah terlalu jauh," jawab Alvaro.
__ADS_1
Mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar Alvaro. Di sana Melanie duduk untuk sementara waktu untuk memutuskan pulang atau tidak.
"Kau tidur di sini saja lah," ucap Alvaro.
"Terus enak kau, otak mu kotor sekali," kata Melanie.
"Apa yang kotor si," ucap Alvaro.
"Ya kotor, pasti otak mu sudah kemana mana."
"Setelah menikah kita ngapain ya, pasti hidup ku membosankan. Aku tidak bisa bermain dengan bebas di luar sana. Pasti hidup ku akan terjebak di dalam rumah," ucap Alvaro.
"Kau tidak berencana mempunyai anak dari ku kan," tanya Melanie.
"Anak, hmmm bagaimana cara nya?"
"Kau benar-benar tidak tau," tanya Melanie.
"Ya tau, tapi bagaimana bisa begitu, aku pernah mimpi begitu. Tapi ah sudahlah aku tidak tertarik," jawab Alvaro.
"Meskipun aneh, tapi syukuran kau tidak tertarik aku aman," ucap Melanie.
"Kau sudah minum obat," tanya Melanie.
"Belum," jawab Alvaro.
"Kenapa tidak minum? kau sudah bosan hidup, minum sekarang!!!"
"Melanie aku tidak suka, rasanya tidak enak," ucap Alvaro.
"Jangan di rasakan," kata Melanie.
"Enak kau berkata, aku yang merasakan nya. Ada cara agar itu tidak berasa," tanya Alvaro.
Melanie melihat ke arah pisang di atas meja. Ia berjalan ke arah pisang itu dan membawa nya ke dekat Alvaro.
"Untuk apa, aku memang suka pisang."
"Bentar." Melanie menyelipkan beberapa obat ke dalam pisang itu.
"Jangan di kunyah, langsung telan," ucap Melanie.
"Kau gila sebesar itu langsung aku telan."
"Yang atas nya saja bodoh," ucap Melanie.
__ADS_1