
Malam hari nya. Riga terbangun dari tidur nya, ini sudah menjadi kebiasaan nya. Ketika malam hari pasti Riga akan terbangun, ada saja mimpi buruk atau hal yang membangunkan nya. Saat ini ia masih memeluk Alfi yang masih terlelap. Sebelum Alfi sadar Riga langsung melepaskan pelukan itu dari Alfi.
"Ah Riga kau lepas kendali." Riga bangkit dari atas kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama Alfi juga terbangun dari tidurnya. Ia beberapa kali mengedipkan mata nya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam Retina mata nya. Setelah nyawa nya terkumpul semua baru lah Alfi sadar jika ia sedang berada dimana.
"Aku, aku ketiduran. Aku ketiduran di ranjangnya. Ini sangat gila, dimana dia apa dia marah," ucap Alfi.
Alfi melirik ke arah jam di samping nya, jam menunjukkan pukul 1 dini hari, artinya ia sudah tertidur sangat lama. Hal itu membuat Alfi kebingungan karena ia tidak melihat Riga di kamar ini.
"Dia dimana, kalau dia marah pasti langsung membangunkan ku," ucap Alfi.
Alfi memutuskan untuk membersihkan diri nya. Ia mengambil pakaian dan handuk lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci. Ia tidak tau jika Riga sedang berada di dalam sana. Mata Alfi terbelalak saat melihat Riga baru selesai buang air besar.
"Ahkkk...." Teriak Alfi sambil membalik tubuh nya.
Teriakkan Alfi membuat Riga terkejut, ia merasa bodoh tidak mengunci pintu kamar mandi.
"Kau sebelum masuk ketuk dulu." Riga pergi meninggalkan tempat itu.
"Ya mana aku tau, salah siapa tidak di kunci," kata Alfi.
Riga keluar kamar mandi dengan perasaan yang kesal dan malu. Ia harap Alfi tidak melihat hal yang sangat penting bagi nya, kalau Alfi sampai melihat benda itu ia tidak bisa membayangkan akan betapa malu nya diri nya.
"Hey kenapa kau bangun, jangan sampai dia tau diri mu, cukup aku yang tau kehadiran mu," batin Riga.
Riga merasakan perut nya sangat lapar, sejak makan siang tadi Riga memang belum ada makan lagi. Ia yakin kalau ke ruang makan pun, sudah pasti tidak ada makanan lagi yang bisa dia makan. Apalagi diri nya sangat memilih makanan.
"Wanita desa itu bisa masak tidak ya, nanti aku tanya," batin Riga.
Alfi sudah selesai membersihkan diri nya, ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Riga yang melihat Alfi langsung bangkit dari atas sofa dan mendekati Alfi.
"Maaf saya tadi tidur di ranjang mu, maaf juga soal di kamar mandi tadi. Saya tidak melihat apa apa kok," kata Alfi sambil menundukkan kepala nya.
__ADS_1
"Aku tidak mau hal yang tadi terjadi lagi."
"Iya saya lain kali akan lebih berhati-hati, sekali lagi maafkan saya," kata Alfi.
Riga menarik nafas nya secara perlahan, ia cukup malu jika ingin meminta tolong pada Alfi. Tetapi ia tidak ada pilihan lain karena perut nya sudah sangat lapar.
Untuk mengurangi rasa gugup nya Riga menggaruk rambut nya. "Anu, apa kau bisa masak?"
"Iya saya bisa memasak," kata Alfi.
"Aku sangat lapar, bisakah kau masakan sesuatu untuk ku," tanya Riga.
"Oh iya bisa, tapi saya tidak tau dimana dapur di rumah ini," jawab Alfi.
"Aku antar," ucap Riga.
Riga dan Alfi jalan bersama ke lantai dasar tempat dapur berada. Ruang makan dan dapur memang memiliki jarak yang cukup jauh, semenjak di rumah ini Alfi hanya memiliki aktifitas ruang makan dan kamar saja, ia tidak berani kemana-mana takut menambah masalah dalam hidup nya.
"Iya, kamu bisa menunggu," kata Alfi.
Alfi merasa suasana di antara mereka berdua berubah menjadi canggung, ia tidak tau kenapa semua nya jadi seperti ini, mungkin karena ini pertama kali nya Riga meminta tolong pada nya. Apalagi Riga berkata dengan nada yang santai, tidak seperti biasanya.
Alfi membuka kulkas untuk mencari apa saja yang bisa ia masak untuk Riga. Alfi memilih memasak makanan yang simpel saja, ia tidak enak jika membuat Riga lama menunggu. Makanan yang paling simpel dan cepat untuk di masak adalah nasi goreng. Alfi membuat nasi goreng spesial untuk Riga, ia menampakkan nasi goreng spesial karena nasi goreng ini nasi yang biasa nya ia buat di rumah.
"Semua nya sangat lengkap, pasti rasa nya akan sangat enak," kata Alfi.
Dari kejauhan Riga memperhatikan Alfi memasak. Bagi Riga memasak adalah hal yang wajib bagi perempuan, kalau tidak bisa memasak berarti wanita itu tidak layak di dekatnya. Alfi berasal dari desa jadi ia sudah tidak heran jika Alfi bisa memasak.
Dalam waktu singkat nasi goreng yang Alfi masak sudah Matang. Ia juga sangat lapar jadi ia menghidangkan nasi goreng itu di dua piring yang berbeda. Alfi berjalan mendekati Riga sambil membawa nasi goreng masakan nya.
"Sudah Matang, silahkan di nikmati," kata Alfi.
"Terimakasih." Riga mengambil sepiring nasi goreng itu.
__ADS_1
Nasi goreng masakan Alfi mengingat nya pada sesuatu hal, nasi goreng bukan lah makanan kesukaan Riga tetapi nasi goreng memiliki sejarah tersendiri di dalam hati nya.
"Hmmm apa aku sudah semakin hebat memasak, rasa nya sangat enak," batin Alfi.
Riga tersenyum saat merasakan betapa enaknya nasi goreng itu, seketika nafsu makan nya bertambah dan dengan cepat Riga menghabiskan satu piring nasi goreng itu. Alfi hanya bisa diam melihat Riga yang begitu semangat memakan masakan nya, ia cukup senang masakan nya di makan dengan lahap oleh Riga.
"Sudah habis, aku masih ingin," batin Riga.
"Apa masih ada," tanya Riga.
"Tidak, kamu masih lapar, ini aku tidak habis," jawab Alfi.
Tanpa menjawab Riga mengambil piring Alfi dan langsung melahapnya dengan cepat. Untuk saat ini rasa malu dan gengsi nya ia singkirkan dulu
Suapan terakhir masuk ke dalam perut nya. Saat ini ia merasa sangat kenyang. Ia yakin jika terus begini gaya hidup sehat nya pasti akan gagal total.
Alfi mengambil piring nya dan piring milik Riga, ia ingin membersihkan piring itu serta barang barang yang ia pakai tadi.
"Mau apa," tanya Riga.
"Ingin membersihkan semua nya," jawab Alfi.
"Tidak perlu, kau bukan pembantu, duduk kembali ke tempat mu aku ingin menanyakan suatu hal."
Alfi meletakan semua nya dan kembali ke tempat nya, ia cukup penasaran apa yang ingin Riga katakan pada nya.
"Ada apa," tanya Alfi.
"Kau benar-benar berasal dari kampung," tanya Riga sambil menatap mata Alfi.
"Iya." Alfi membalas tatapan mata Riga yang membuat Riga salah tingkah. Ia tidak pernah saling menatap sedekat ini dengan seorang wanita.
"Aku yang menatap aku yang salah tingkah," batin Riga.
__ADS_1