
Keesokan harinya, Pactrik dan Roger sudah siap siap untuk pulang ke rumah. Kali ini Alvaro kembali sendiri, sebenarnya tidak sendiri juga karena nanti ada Melanie yang akan merawatnya sampai beberapa minggu ke depan. Dari pada di rawat oleh Melanie Alvaro lebih memilih di rawat oleh Pactrik. Meksipun dengan batang Pactrik tidak selatam dan seberani Melanie. Riga harus mengakui jika Melanie benar-benar sangat berani padanya.
"Sudah lah kau di sini saja selama beberapa minggu," ucap Alvaro.
"Maaf Alvaro bukan nya aku tidak mau merawat mu tapi aku memang tidak bisa, aku benar-benar sedang sibuk dengan kuliah ku. Kau tenang saja wanita itu pasti akan merawat mu dengan baik kok, mana tau dia bisa menjadi jodoh mu," kata Pactrik.
"Jangan sampai amit amit."
"Kenapa Al? dia kan sangat cocok dengan mu, apa kau takut salah saing dengan nya," tanya Ryan.
"Dia seperti monster kek, aku tidak mau dengan nya, dia benar-benar sangat menyeramkan," jawab Alvaro.
"Hahaha seperti nya memang jodoh mu seperti itu" ujar Roger.
"Tak akan," ucap Alvaro.
Setelah kepergian Pactrik dan Roger. Alvaro kembali di bawa masuk kamar oleh Ryan. Ryan tidak bisa terus menerus menemani Alvaro karena pekerjaan nya yang sabar menumpuk. Ia hanya bisa menemani Alvaro sampai dengan Melanie datang..
"Al kau benar-benar tidak ingin menikah," tanya Ryan.
"Tidak ingin sampai dengan aku ingin bebas," jawab Alvaro.
"Bebas bebas apa yang ingin kau cari dari kebebasan," ucap Ryan.
"Alvaro aku mungkin akan merencanakan perjodohan untuk mu."
"Kakek...."
"Apa!! kau sudah di serahkan orang tua mu pada ku, jadi jangan macam macam ya."
"Aku tidak ingin menikah, apalagi dengan gadis yang tidak aku cintai."
"Alvaro dengarkan aku, cinta akan datang dengan seiring berjalan nya waktu. Dulu mamah dan daddy mu juga tidak saling mencintai," ucap Ryan.
"Tapi...
"Sudah jangan membantah dan jangan dipikirkan, itu hanya rencana kakek, belum pasti kakek melakukan nya. Kakek ingin bersiap siap untuk pergi. Sebentar lagi Melanie akan datang membawa kan mu makanan," ucap Ryan.
__ADS_1
Ryan pergi meninggalkan Alvaro. Alvaro hanya diam memikirkan apa yang kakek nya katakan. Ia takut jika kakek nya benar-benar ingin menjodohkan nya pada seseorang wanita. Bila wanita itu seksi dan tipe nya tidak terlalu masalah, tetapi jika wanita itu seperti Melanie bisa mati di siksa oleh Melanie.
"Alvaro," ucap Melanie.
"Masuk," teriak Alvaro.
Melanie masuk ke dalam kamar Alvaro dengan membawa makanan. Makanan yang ia masak sendiri, semua makanan yang Alvaro konsumsi selama sakit memang masakannya. Intinya ia bertanggung jawab penuh dengan diri Alvaro selama ia rawat.
"Kau kenapa," tanya Melanie sambil menyuapi Alvaro makan.
"Ada yang salah dengan ku," tanya Alvaro.
"Tidak ada si, kau hanya lebih diam saja, tapi bagus si, aku lebih suka dengan diri mu yang seperti ini," jawab Melanie.
"Seperti nya aku akan di jodohkan dengan seseorang, ini sangat gila," ucap Alvaro.
"Jadi hanya karena itu, lah lah ternyata kau bisa galau juga ya."
"Jangan mengejek ku, lebih baik kau memberikan ku saran bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari perjodohan itu."
"Bodoh, bawa pacar mu dan ajak dia nikah. Lebih baik menikah dengan pacar sendiri dari pada orang lain," ucap Melanie.
"Hahaha jadi kau jomblo, aku saja punya pacar dan kau jomblo. Tapi dipikir pikir tidak heran si jika kau jomblo, siapa yang mau dengan pria seperti mu, sudah cerewet, banyak mau nya. Galak lagi," ucap Melanie.
"Aku sumpahi jodoh mu itu seperti ku, kau rasakan sendiri."
"Jangan lah, pacar ku tidak seperti mu, dia sangat baik, pengertian, tampan. Sangat paket lengkap tidak seperti mu lah," ucap Melanie.
"Kau lihat saja nanti. Bukan nya memberikan ku saran malah memperburuk suasana hati ku."
"Lebih bauk kau seperti ini, tidak banyak bicara dan tidak membuat ku pusing dengan suara mu," ucap Melanie.
Alvaro menunjukkan wajah galak nya, meskipun begitu mulut nya tetap mangap saat Melanie menyuapi nya makan. Seperti biasanya setelah selesai makan Alvaro harus meminum obat. Mata Melanie memicing karena obat itu tidak berkurang dari kemarin. Itu berarti Alvaro tidak ada meminum obat lagi.
"Kenapa kau tidak meminum vitamin ini," tanya Melanie.
"Itu bukan Vitamin itu obat, kau pikir aku bodoh," ucap Alvaro.
__ADS_1
"Terus kenapa tidak kau minum, kau ingin terus seperti itu, bagaimana kau bisa sembuh jika seperti ini," kata Melanie.
"Terserah ku," ucap Alvaro.
"Minum!!!"
"Tidak mau," ucap Alvaro.
"Minum!!" Melanie bergerak mendekati Alvaro.
"Tidak mau aku," ucap Alvaro.
"Minum tidak, kau ingin membuat mu marah."
"Tidak mau, kenapa kau memaksa ku, kenapa malah lebih galak dari ku."
"Minum Alvaro!!!." Melanie benar-benar kesal dengan Alvaro yang seperti anak kecil. Tidak mau diatur seperti anak kecil.
"Minum tidak!!!"
Alvaro langsung kikuk seketika, segalak galaknya diri nya ternyata Melanie jauh lebih galak dari nya. Tatapan tajam Melanie benar-benar mengintimidasi diri nya. Mau tidak mau Alvaro pun meminum obat itu dengan paksaan Melanie.
Dari handphone yang tersambung di CCTV kamar Alvaro. Ryan tertawa terbahak-bahak melihat apa yang terjadi. Bisa bisa nya Melanie jauh lebih galak dari pada Alvaro. Wajah Alvaro yang biasanya garang ntah kenapa seperti tidak ada apa apa nya di bandingkan dengan Melanie.
"Mereka harus tau ini," ucap Ryan.
Ryan mengirimkan rekaman itu pada Riga dan Alfi, mereka harus lihat bagaimana anak mereka di tindas oleh seorang wanita.
"Sayang ayah mengirimkan video tentang Alvaro," ucap Alfi.
"Ha mana." Riga langsung mendekati Alfi.
Mereka berdua melihat isi Video itu. Mereka sama sama tertawa dengan sangat keras melihat apa yang terjadi. Alvaro tidak pernah seperti itu sebelum nya. Riga saja sampai kapok membujuk Alvaro meminum obat tetapi dengan hebat nya Melanie bisa membuat Alvaro meminum obat itu.
"Seperti nya dia calon menantu kita," ucap Alfi.
"Aku rasa si memang dia. Dia memiliki jiwa seperti mu dulu. Memang sangat cocok dengan Alvaro yang dominan, tapi itu hanya di video saja si. Tidak semudah itu Alvaro takluk, pasti dia juga banyak melawan," kata Riga.
__ADS_1
"Dia memang sudah menjadi takdir Alvaro. Pr nya bagaimana mungkin bisa mereka berdua bersatu, mereka pasti akan saling menolak perjodohan itu," ucap Alfi.
"Ya juga si, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah takdir pasti bisa bersatu."