Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 128 S2


__ADS_3

"Ah ah ah." Alvaro mengangkat kepala Melanie.


"Kenapa," tanya Melanie.


"Bagaimana rasa nya," tanya Alvaro.


"Manis," jawab Melanie.


"Apa iya, dia mau meledak, nanti kamu tidak suka lagi," kata Alvaro.


"Hmmmm?"


"Sudah tidak papa, Terima kasih sayang." Alvaro mencium bibir Melanie dan memeluk nya dengan erat. Ia sangat senang karena Melanie benar-benar sangat menurut pada nya.


"Jangan marah lagi kau benar benar sangat menakutkan."


"Jangan membuat ku marah, perlu aku katakan lagi kau milik ku, kau hanya boleh aku sentuh tanpa terkecuali, jangan tanya kenapa aku semarah ini," ucap Alvaro.


Jika sudah seperti ini, segalak apapun Melanie tetap akan kikuk jika Alvaro sudah meledak seperti ini. Melanie benar-benar tidak ingin melihat Alvaro marah besar lagi, ia seperti orang yang di rasuki setan.


Pagi hari nya, Melanie bangun dari tidur nya dengan tubuh yang sangat sakit semua, pegal dan perih mendominasi tubuh nya saat ini. Meskipun begitu Melanie harus tetap bangun untuk mempersiapkan sarapan pagi, hari ini Alvaro akan bekerja untuk yang pertama kali nya, ia ingin dengan sarapan buatan nya Alvaro semakin semangat bekerja.


"Gila ini sangat sakit dan perih, bagaimana tidak sakit, benda sebesar itu masuk ke sana, aku pun tidak menduga jika benda itu bisa masuk ke dalam sana."


Alvaro membuka matanya saat mendengar suara omelan Melanie, ia melihat Melanie berjalan ke arah kamar mandi dengan langka kaki yang aneh.


"Melanie kenapa cara berjalan mu seperti itu," tanya Alvaro.


"Sakit," jawab Melanie.


"Hmmm ada yang sakit, mana aku lihat," kata Alvaro.


"Tidak tidak, nanti semakin sakit. Gara gara kemarin," ucap Melanie.


"Kemarin?"


"Iya karena itu mu, kau bawa masuk ke dalam," kata Melanie.


"Oh begitu, itu baru sekali karena setiap malam kita akan melakukan nya," ucap Alvaro sambil mendekati Melanie.

__ADS_1


"Ha setiap malam?"


"Biar apa?"


"Biar enak lah, kau saja keenakan kok, jangan berbohong mata mu merem melek," kata Alvaro.


"Alvaro..."


Alvaro tersenyum sambil menggendong Melanie ke dalam kamar, ia merasa bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada Melanie.


Di tempat lain. Pactrik turun dari kamar nya untuk meminta penjelasan orang tua nya. Orang tua nya hadir di pernikahan itu, pasti mereka tau kalau Melanie lah yang menjadi istri Alvaro. Kenapa mereka tidak memberitahu nya, pasti ada yang sedang orang tua nya sembunyikan dari diri nya.


"Pagi mah yah," ucap Pactrik.


"Pagi.. tumben sudah turun, kau ada kelas pagi," tanya Tiffany.


"Tidak ada, ada yang ingin aku bicarakan."


"Ada apa Pactrik, tidak biasa nya," tanya Roger.


"Aku sudah tau semua nya, Melanie menikah dengan mantan pacar ku Melanie, mamah dan yah ada di pesta pernikahan itu bukan? kenapa? Apa semua ini sudah menjadi rencana kalian," tanya Pactrik.


"Tidak aku ingin mendengar penjelasan kalian," ucap Alvaro.


"Duduk Pactrik jangan membuat ku emosi," kata Roger.


"Tidak yah, tolong jelaskan pada ku, pasti ada yang kalian sembunyikan dari ku."


Roger mengambil remot televisi dan melemparkan nya ke arah Pactrik, untung saja Pactrik sempat menghindar.


"Kau ingin kurang ngajar pada ku," ucap Roger.


"Sayang duduk dulu." Tiffany mendekati Pactrik dan membawa ko sofa duduk di samping nya.


Saat ini Pactrik hanya diam, jika sudah seperti ini tidak ada yang berani berbicara lagi. Roger sudah marah besar, jika sampai berbuat satu kesalahan kecil saja ntah apa yang terjadi.


"Berbicara lah, kenapa sekarang kau diam."


"Ayah aku hanya ingin mendengar penjelasan kalian. Bagaimana semuanya bisa kebetulan seperti ini."

__ADS_1


"Ingin mendengar penjelasan kami, sampai seperti itu, kau sudah berani membantah perkataan ku. Apa sulitnya ubah duduk dulu, aku pasti akan menjelaskan nya pada mu, apa perlu sampai tangan ku bertemu dengan wajah mu."


"Maaf yah," ucap Pactrik.


"Memang semuanya bukan kebetulan. Alvaro memang di jodohkan dengan Melanie karena kakek Ryan yang meminta nya, ia merasa Alvaro dan Melanie sangat cocok. Jadi dia meminta agar kami bisa membuat mu dan Melanie putus. Kami memang terdengar sangat kejam tetapi ini semua demi kebaikan mu dan Alvaro, kau harus fokus ke tugas mu dan Alvaro perlu wanita yang bisa membimbing nya menjadi pria yang lebih baik lagi."


"Ini gila ya, ini bukan yang terbaik untuk ku tapi yang terburuk untuk ku, semua nya hanya tentang Alvaro Alvaro siapa Alvaro!!!"


"Maaf memang ini bukan sesuatu yang mudah untuk mu, tapi semuanya sudah terjadi Pactrik, fokus saja pada diri mu. Jangan ganggu mereka berdua, untuk masalah jodoh pasti kau akan mendapatkan wanita yang terbaik."


"Ayah bisa berkata seperti itu karena ayah tidak pernah merasakan yang nama nya pacaran, ayah langsung menikah dengan mamah. Berbeda dengan ku, aku sudah sangat yakin dengan nya, aku benar-benar sangat mencintai nya. Tetapi apa yang terjadi semuanya hancur hanya karena Alvaro."


Bruakkk.... Pukulan kuat mendarat di atas meja.


"Sayang jangan melukai diri mu sendiri," ucap Tiffany.


"Kau tidak mendengar perkataan yang muncul dari mulut nya. Dia sudah lancang, siapa kau berani membandingkan orang tua mu dengan diri mu sendiri. Sudah merasa hebat? sudah merasa paling benar? sudah merasa bisa hidup sendiri?"


Roger berjalan mendekati Pactrik dan menarik kerah baju Pactrik dengan keras nya.


"Katakan sekali lagi," ucap Roger.


"A... aku tidak bermaksud begitu yah."


"Kau pria bukan, cepat keluarkan semua kekesalan mu pada ku," ucap Roger.


"Maa.. maaf yah."


"Aku tidak ingin mendengar kata maaf Pactrik, katakan apa yang kau katakan tadi!!! kau pikir kau siapa? Kau berani membahas perjodohan ku dengan istri ku."


Melihat wajah Pactrik yang benar-benar sangat ketakutan membuat Tiffany tidak tega. Ini bukan yang pertama kali nya Roger mengamuk seperti ini, dulu Pactrik benar-benar sampai di hukum berat oleh Roger. Mungkin saat ni Pactrik sangat takut jika hukuman itu kembali ia rasakan.


"Sudah sudah." Tiffany menarik Pactrik.


"Masuk ke dalam kamar mu, renungkan apa kesalahan mu. Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, masalah Melanie mamah yang akan menjelaskan nya nanti."


Pactrik langsung berlari ke kamarnya. Ia merasa beruntung telah di selamatkan oleh mamah nya.


"Jaga emosi mu, jangan sampai anak mu takut pada mu untuk yang ke dua kali nya. Ingat dia pernah trauma pada ayah sendiri."

__ADS_1


"Dia kurang ngajar pada kita, jika kita tidak tegas pada nya, dia tidak akan memiliki rasa takut pada kita. Ini baru hanya karena percintaan, dia sudah berani seperti ini. Bagaimana jika masalah besar nanti, kita di injak injak oleh nya. Aku tidak mau anak ku seperti Alvaro," ucap Roger.


__ADS_2