
Ivan yang belum bisa tidur memutuskan untuk menghubungi Alvaro, ia yakin Riga belum memberitahu Alvaro tentang kehamilan kakak ipar nya. Ia ingin tau bagaimana ekspresi Alvaro saat tau kabar ini.
"Apa," tanya Alvaro.
"Biasa saja lah jangan ngegas," ucap Ivan.
"Hahaha siapa yang ngegas, untuk kau menghubungi ku tepat waktu."
"Mamah mu hamil lagi," ucap Ivan.
"Apa!!!"
"Hahaha kau terkejut. Yah begitulah nama nya juga keluarga aneh, nanti anak mu dan anak daddy mu seumuran, ya jadi nya seperti kita."
"Tapi bagaimana bisa? Istriku saja belum hamil, mamahku sudah itu terasa sangat aneh. Padahal seperti nya aku dulu yang cetak."
"Kok bagaimana si, kau seperti tidak mengenal daddy mu saja. Apa yang tidak bisa dia lakukan."
Alvaro baru ingat jika ia pernah memberikan Riga saran aneh, mungkin saran itu Riga lakukan yang membuat mamah nya kembali hamil.
"Sepertinya ini semua karena ide dariku. Aku meminta daddy mengganti pil kb dengan vitamin. Nah mungkin daddy melakukannya, dan terjadilah kehamilan mamah."
"Kau sendiri saja yang bodoh," ucap Ivan.
"Tidak papa yang penting mereka berdua bahagia," kata Alvaro.
"Ini sudah sangat malam kok belum tidur," tanya Ivan.
__ADS_1
"Belum aku habis berolahraga."
"Oh iya bagaimana dengan patrick demo betah salah denganmu?"
"Hmmm sedikit membuat masalah, tapi aku dan Melanie dapat mengatasinya, kau tau Melanie cemburu dengan Bella, ya ini menjadi kesempatan ku."
"Kesempatan bagaimana," tanya Ivan.
"Dengan dia cemburu dia lebih dekat denganku, aku tidak perlu mau mancing mancing Melanie untuk dekat dekat dengan ku, Melanie lengket dan manja sendiri pada ku. Patrick yang melihat hal itu pasti terasa panas."
"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, ceritakan semuanya Alvaro. Jangan kau tutup tutupi lagi," ucap Ivan.
"Oke aku akan menceritakan semuanya, Sebelum dengan ku Pactrik dan Melanie pernah berpacaran. Pacar yang Pactrik maksud itu Melanie istri ku. Kau tau kan Pactrik memutuskan pacar nya karena ingin ke Jerman setelah S2 nya selesai."
"Oh iya aku sangat ingat," ucap Pactrik,
"Nah kau ingat kan. Awal nya Melanie memilih Pactrik tetapi Pactrik malah memilih pekerjaan nya. Jadi Melanie pasrah menikah deng ku. Saat Pactrik tau jika Melanie mantan nya itu menjadi istri ku, dia malah ingin merebutnya dari ku, dia sangat gila," kata Alvaro
"Aku hanya mengawasi nya saja, kau tau orang tua kami sangat dekat. Daddy ku dekat dengan ayahnya, mamaku sepupuan dengan mamahnya. Aku tidak ingin merusak semuanya, lebih baik aku mengawasi nya saja dulu jika dia sudah berlebihan barulah aku akan bertindak. Tidak peduli siapa dia dan ikatan kami berdua, asap tidak akan anda jika tidak ada apinya."
"Apa mereka berdua sudah tahu jika kau sudah tahu semuanya," tanya Ivan.
"Belum, belum ada yang tahu. Aku tidak memberitahu patrick jika aku tahu semuanya karena dia pasti akan lebih berhati-hati jika dia tahu kalau aku sudah tahu semuanya. Dan untuk Melanie jujur aku cukup kesal dengannya, dia tidak mau berkata dengan jujur padaku. Bahkan dia rela mendapat hukuman dariku hanya untuk menutupi semua ini."
Alvaro mengatakan hal itu dengan cukup emosi, jika tidak karena istri nya ntah sudah jadi apa Melanie Alvaro buat.
"Apa jangan-jangan....." Pactrik menghentikan ucapan nya, ia takut salah berkata yang membuat Alvaro tersinggung.
__ADS_1
"Iya dugaan mu benar, karena melanie masih memiliki perasaan pada patrick. Aku tidak bisa menyangkal itu, mereka berpacaran sudah lama dan mana mungkin perasaan itu bisa hilang begitu saja. Semuanya butuh proses dan aku dapat mengerti itu semua. Apalagi jika Melanie mau jujur pada ku, aku pasti lebih senang," kata Alvaro.
"Ternyata kau juga bisa bersabar, mungkin jika aku jadi kau aku akan meminta mereka untuk mengakui semuanya dan meminta mereka untuk tidak saling bertemu untuk selamanya."
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu, tapi itu tidak akan bisa. Kau lihat sekarang kami saja pergi bersama untuk menjalankan sebuah proyek, nah pasti kedepannya kami kalau bisa dan bertemu untuk proyek-proyek berikutnya. Jika aku melakukan itu hubunganku dengan patrick akan hancur."
Alvaro membuang nafasnya secara perlahan
"Sudahlah aku malas membahasnya. Biarkan semuanya seperti air mengalir."
"Ya sudah jangan kau bawa pikiran, santai saja. Sekarang ya terpenting Melanie itu milik mu. Kau membicarakan mereka berdua, tidak sedang dekat dengan Melanie kan?"
"Tidak lah, aku tidak bodoh, dia sedang tidur karena kelelahan, aku sedang di balkon," ucap Alvaro.
"Ya sudah, mendengar cerita mu membuat kamu mengantuk, sudah ya."
"Hmmm." Alvaro mematikan sambungan telepon itu.
Jujur setelah bercerita dengan Ivan, perasaan Alvaro lebih baik. Ia jadi tidak memendam semuanya sendiri. Memang seharusnya Alvaro menceritakan hal ini pada orang lain yang dapat ia percaya seperti Ivan.
Alvaro berjalan kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Melanie masih tertidur dengan nyenyak dengan tubuh yang penuh tanda kepemilikannya. Dari atas sampai bawa semua nya sudah di setempel.
"Aku liar juga ya, ya mana tau kalau semuanya seperti itu, hahaha enak dan mengasikkan pulak nya," ucap Alvaro.
Alvaro kembali mencium leher Melanie, tidak lengkap bagi nya untuk tidak menganggu istri nya sebelum tidur.
"Sayang." Tanpa membuka mata nya Melanie memukul pelan wajah Alvaro, ia kesal karena Alvaro tidak kunjung melepaskan nya.
__ADS_1
"Aku ingin lagi," ucap Alvaro.
"Sayang satu hari ini sudah dua kali loh, sudah ah jangan ganggu aku." Melanie menarik selimut tebal dan menutupi tubuh nya dengan selimut agar Alvaro tidak menganggu nya lagi.