
Dengan cepat Riga menginjak rem mobil nya. Hal itu membuat mereka berdua sedikit terbentur ke depan.
"Bang, kau ingin membunuh ku," ucap Ivan.
"Kau menakuti ku," kata Riga.
"Aku tidak menakuti mu, aku mengatakan yang sesungguhnya," ucap Ivan.
"Sudah kita putar balik," kata Riga.
"Hey bang, kau ingin kakak ipar marah pada mu," ucap Ivan.
Riga mengurungkan niat nya. Jika ia kembali bisa di gorok hidup hidup oleh istri nya. Meskipun takut, Riga tetap melanjutkan perjalanan.
"Nah begitu dong," ucap Ivan.
"Jika ada apa apa kau tanggung jawab," kata Riga.
"Lah kok aku, kau saja penakut. Heran saja anak ayah Varo tapi penakut," ucap Ivan.
"Kau memang pemberani," tanya Riga.
"Tidak, kalau dengan orang mah bisa hajar saja, kalau dengan setan mau di hajar bagaimana? bisa mati berdiri aku," jawab Ivan.
"Ya sudah sama saja," kata Riga.
"Apa nya yang sama," tanya Ivan.
"Kita berasal dari burung yang sama bodoh," ucap Riga.
"Oh iya aku lupa."
Dalam perjalanan mereka berdua hanya membicarakan hal yang tidak penting. Ntah kenapa malam ini mereka berdua terlihat akur dan dekat, tidak seperti biasa nya.
"Bang sudah masuk ke bambu bambu, kata nya di sini ada orang gantung diri," kata Ivan.
"Diam, ini hanya sebentar, jika sudah tau ada seperti itu, jangan berkata bodoh. Kau mau aku turunkan di sini," ucap Riga.
"Hehehe aku hanya memberikan mu informasi, tapi ini benar-benar sangat menyeramkan," kata Ivan.
"Informasi yang tidak penting bodoh."
Setelah melewati hutan bambu yang hanya beberapa meter saja. Mereka berdua masuk ke dalam perkampungan yang cukup menyeramkan. Riga membawa mobil nya secara perlahan, agar mereka bisa melihat pohon kedondong.
"Ini hal yang gila, malam malam begini mencari pohon, bagaimana bisa aku membedakan mana pohon kedondong, pohon jambu, pohon rambutan. Ini sangat gila," kata Ivan.
"Jangan ngomel bodoh, kita berhenti di sini saja ya, kita berjalan kaki," ucap Riga.
Riga menghentikan mobil nya di pinggir jalan. Mereka berdua pun turun dari dalam mobil dengan membawa handphone.
"Abang takut." Ivan berjalan di belakang Riga..
"Hey kau aneh begitu, kau tidak pernah manja pada ku," kata Riga.
__ADS_1
"Diam saja lah, sesekali," ucap Ivan.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ivan membantu Riga mencari pohon kedondong yang sudah berbuah.
"Itu bang," ucap Ivan.
"Ivan buka mata mu, itu pohon kelapa," kata Riga.
"Oh iya, aku hanya ingin menghibur mu," ucap Ivan..
"Buka mata mu lebar lebar, jangan sampai kau tidak aku restuin untuk menikah," kata Riga.
"Carikan aku jodoh," ucap Ivan.
"Itu Van," kata Riga sambil menunjuk pohon kedondong yang cukup tinggi dan rimbun.
"Ah aku sangat takut," ucap Ivan.
"Diam, kau pikir aku berani, tapi demi anak ku, ya aku harus berani."
Riga dan Ivan mendekati pohon itu. Sebelum mengambil buah kedondong yang tampak bergelantungan, mereka berdua harus meminta dengan yang punya terlebih dahulu. Jika tidak bisa bisa mereka berdua di arak keliling kampung hanya karena mencuri buah kedondong saja.
"Izin sana," ucap Riga.
"Kau lah, aku pulak, kau yang ingin mengambil nya aku pulak yang sibuk," kata Ivan.
"Ya sudah ayo, dari pada kau sendiri di sini dan dimakan setan," ucap Riga.
Riga dan Ivan berjalan ke arah rumah yang mereka berdua yakini pemilik pohon itu. Riga takut jika ia menganggu pemilik rumah karena datang terlalu malam. Tetapi mau bagaimana lagi, demi sang anak Riga rela mengambil resiko yang terjadi.
"Bang bang dengar, suara apa itu," kata Ivan.
"Apa van," tanya Riga.
"Suara ranjang berdecit, mungkin pemilik nya sedang mendapatkan jatah," jawab Ivan.
"Kita ganggu saja van, enak saja dia enak enak, sedangkan kita kesulitan di sini," ucap Riga.
"Permisi," teriak Ivan.
"Ivan!! jangan begitu juga," kata Riga.
"Hehehe aku hanya melakukan apa yang kau katakan."
"Jika seperti itu, kau bisa membangunkan tetangga lainnya," kata Riga.
Pemilik rumah keluar dengan hanya memakai sarung saja. Seperti nya memang benar dugaan mereka berdua.
"Ada apa malam malam begini berisik di rumah orang menganggu orang enak enak saja."
"Sayang dia tampan," ucap seorang wanita.
"Dia hamil bang," kata Ivan.
__ADS_1
"Diam Ivan."
"Terus kalau tampan kenapa," tanya sang suami.
"Aku ngidam orang tampan sayang, perut ku ingin di usap oleh nya," jawab sang istri.
"Ada apa kalian datang," tanya sang suami.
"Maaf menganggu waktu nya pak, saya datang dengan niat ingin membeli pohon buah kedondong itu," jawab Riga.
"Membeli? itu sudah besar, bagaimana mungkin bisa di beli."
"Itu urusan saya pak, boleh saya membeli nya. Boleh saya tau berapa harga pohon itu," tanya Riga.
"Berapa ingin kau tawar, jika murah tidak bisa."
"20 juta," ucap Ivan.
"Hmmmm."
"50 juta bagaimana pak," kata Riga.
"Hmmmm...
"150 juta pak," ujar Ivan yang ingin membuat abang nya bangkrut.
"Oke deal 150 juta." Sebenarnya ia bisa saja melepaskan pohon itu dengan harga 20 juta, tetapi belum ia menjawab Riga dan Ivan terus menambah nominal uang yang mereka tawarkan.
"Kau ya." Riga menyikut perut Ivan.
"Mana uang nya?"
"Saya transfer sekarang pak, bisa saya minta nomor rekening nya," ucap Riga.
Pria itu memberikan nomor rekening nya pada Riga dan Riga pun langsung mengirimkan uang 150 juta hanya untuk sebuah pohon kedondong.
"Sudah masuk pak."
"Oka sebelum nya usap dulu perut istri saya."
"Saya pak," tanya Riga.
"Iya kamu, cepat."
Riga mendekati istri bapak itu, memang perlu perjuangan untuk menuruti kemauan istri nya. Istri bapak itu juga sedang hamil seperti istri nya.
"Enak."
"Apa nya enak?"
"Usapan nya sayang, tangan nya lembut tidak seperti tangan mu."
Dengan cepat Riga menarik tangan nya, ia tidak mau anak ibu itu malah mirip dengan nya.
__ADS_1
"Sebelum mengambil buah pohon itu, saya ingin memberitahu jika pohon itu sudah memakan 2 korban."