
"Otak mu, bertemu dengan nya saja sudah membuat ku bersyukur, apalagi dapat melakukan hal itu dengan nya, hahaha aku sudah tidak sabar bertemu dengan nya."
"Jangan terlalu berharap, kau tau berharap itu sangat tidak enak, apalagi yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita," kata Riga.
"Hey jangan berkata seperti itu, berkata lah yang baik baik untuk ku, perkataan adalah doa."
Riga menggelengkan kepalanya, ia cukup kasihan pada Roger. Ia merasa beruntung saat berpisah dengan Alfi dulu masih bisa bertemu dan sampai berhasil membuat Alfi hamil anak nya.
"Sudah sudah aku doakan, agar kau bisa bertemu dengan nya. Dan segera mempunyai anak, jadi apakah adik mu juga akan ikut?"
"Boleh?"
"Ya mana mungkin aku membawa abang nya, adik nya tidak aku tawarkan untuk ikut. Jika dia sendiri dan terjadi apa apa disini, aku pasti yang kau salahkan," kata Riga.
"Hahaha iya dia pasti ikut, kau harus menyewakan ku apartemen, aku tidak mau tau," ucap Roger
Setelah berbicara dengan Roger, Riga kembali ke kamarnya. Ia mengambil handphone nya untuk memesan tiket pesawat. Tetapi tiba-tiba handphone nya berdering panggilan dari ayah nya. Riga yakin jika ayah nya sudah curiga karena ia dan Alfi sudah 3 hari tidak ada di rumah.
"Hallo yah," ucap Riga.
"Kau masih menganggap ku ayah, kau saja pergi tidak memberitahu ku kemana. Kau kemana?"
"Hahaha maaf ya, aku sedang bulan madu yang kesekian kali nya dengan istri ku."
"Bulan madu konon, kau bertengkar dengan nya kan?"
"Hehehe iya yah, tapi sudah baikan kok. Aku sudah mendapatkan jatah lagi," kata Riga.
"Cepat pulang Riga, perusahaan kau tinggal lagi. Kau baru masuk loh."
"Iya yah, besok aku akan pulang, ayah menggantikan ku sebentar ya," ucap Riga.
"Hmmmmm."
"Ayah tau aku bertemu dengan siapa?"
"Dengan siapa?"
"Dengan mamah dan Aldi, hahaha memang jika anak dan mamah mau bagaimana pun tetap akan bertemu."
__ADS_1
"Kau sudah tidak marah lagi kan dengan nya, sudah lupakan semua nya, mau bagaimana pun dia itu mamah mu loh."
"Iya yah, aku sudah memaafkan nya kok, aku tau dia mamah ku, jadi aku memaafkan nya. Aku juga sudah berbaikan dengan Aldy. Mau bagaimana pun dua ayah tiri ku, aku harus menghormati nya. Dia memperlakukan mamah dengan sangat baik, mereka berdua bahagia di sini."
Varo lega mendengar hal itu, ia memang sedikit memikirkan matan istri nya. Mau bagaimana pun Sarah yang melahirkan Riga, ia tidak ingin Sarah hidup menderita sedangkan mereka hidup dengan bahagia.
"Bagus lah, ayah sangat bangga pada mu," ucap Varo.
"Siapa dulu, Riga, aku Riga yah, hahaha." Riga tertawa dengan bangga.
"Siapa dulu yang membuat mu, ingat kau berasal dari mana, jangan bersombong diri anak muda," kata Varo.
"Dari burung ayah yang besar, hahaha ya sudah aku ingin memesan tiket pesawat dulu, sampai jumpa besok. Aku sudah lama tidak mengintip mu." Sambil tertawa Riga mematikan sambungan telepon itu.
Keesokan harinya, seperti yang sudah di rencanakan mereka akan pulang ke kota. Roger dan Jangan Jolie juga ikut ke sana bersama Riga dan Alfi.
Sebelum pergi Roger bertemu terlebih dahulu dengan Selana, ia ingin memutuskan hubungan nya dengan Selena, ia sangat yakin jika diri nya bisa bertemu dengan istri tercinta nya.
"Kita putus," ucap Roger.
"Ha kenapa?"
"Tapi aku....
"Maaf aku harus pergi." Tanpa banyak bicara Roger langsung pergi dari tempat itu, ia tidak mau mendengar apapun dari mulut Selena, memutuskan Selena adalah yang terbaik untuk saat ini.
"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang tidak tidak, fokus dengan diri mu sendiri, fokus dengan masa depan mu Roger."
Roger kembali ke Vila, ia takut jika terlalu lama Riga lama menunggu nya.
"Kau dari mana saja," tanya Riga.
"Maaf, aku tadi bertemu dengan seseorang terlebih dahulu," jawab Roger.
"Sudah ayo berangkat, aku takut terlambat."
Jolie benar-benar kagum dengan Riga. Ia merasa Riga sangat tegas, wajah tampan dan tubuh atletis membuat nya ingin memiliki suami seperti Riga.
"Aku ingin mempunyai suami seperti nya, lebih tua juga tidak papa, atau hot daddy," batin Jolie sambil memperhatikan Riga dari kejauhan.
__ADS_1
Mereka langsung pergi ke bandara. Tak butuh waktu lama saat mereka sampai di bandara, pesawat yang akan mereka naikin sudah siap untuk terbang. Perjalanan kali ini tidak terlalu memakan banyak waktu.
Siang hari nya mereka berempat telah sampai di Kota. Riga membawa Roger serta Jolie ke rumah nya untuk sementara waktu. Terserah Roger ingin tinggal di hotel atau di rumah nya.
"Kau mau tinggal dimana, hotel atau rumah ku ini?"
"Di sini saja lah, aku malas merepotkan mu lebih jauh, rumah mu sangat besar dan mewah," kata Roger.
"Ya sudah ayo masuk ke dalam rumah, apalagi yang kau tunggu," ucap Riga.
Riga mengantarkan Roger dan Jolie ke dalam kamar mereka. Meskipun kakak adik mereka berdua tidur di kamar tamu yang terpisah.
"Istirahat lah, aku juga ingin istirahat sejenak. Nanti kita berbicara lagi." Riga berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Abang kita akan tinggal di sini," tanya Jolie.
"Hanya untuk sementara waktu sampai aku menemukan istri ku."
"Apa Riga mempunyai adik, aku ingin tinggal selama nya di sini, rumah nya sangat mewah dan besar, jika dia punya seorang adik, aku mempunyai kesempatan besar."
"Hahaha sebaiknya kau kubur mimpi itu dalam dalam ya, kau tau dia anak tunggal. Dan dia tidak mempunyai saudara laki-laki untuk kau nikahin," kata Roger.
"Ya elah," ucap Jolie.
Riga masuk ke dalam ruang kerja ayah nya. Di dalam sana Riga tidak melihat ayah nya seperti biasa nya yang selalu duduk di kursi kebesaran nya.
"Dimana ayah," ucap Riga.
Varo masuk ke dalam ruangan itu. Ia cukup terkejut melihat Riga sudah ada di dalam sana. Secara perlahan Varo berjalan mendekati Riga dan memeluk Riga dari belakang.
"Dulu kau masih aku peluk dan gendong sana sini, tapi sekarang kau sudah lebih besar dari ku," ucap Varo.
"Ayah kau cukup mengejutkan ku," kata Riga.
"Hahaha, maafkan aku, kau sudah kembali Riga, kata mu kau membawa kawan dimana kawan mu?"
"Sedang istirahat, ayah sedang mencari istri lagi tidak. Nah dia punya adik, daun muda mungkin usia nya 19 tahun. Goyangan nya pasti sangat hot, ayah bisa membuat anak dengan nya."
"Berhenti beromong kosong," ucap Varo.
__ADS_1