
Alfi dan Riga sedang duduk bersama menunggu pancingan mereka di makan oleh ikan. Riga sama sekali tidak pandai memancing, tetapi demi membuat Alfi senang Riga rela melakukan nya. Dulu saat ayah nya masih berada di samping nya, Riga pernah memancing dengan ayah nya, sekarang hal itu hanya tinggal kenangan indah.
"Buka mulut kamu," ucap Alfi.
"Buah apa itu," tanya Riga.
"Apel, alpukat dan pear, kamu bisa makan kan?"
"Bisa." Riga langsung membuka mulut nya. Ini yang selama ini Riga inginkan. Alfi perhatian dan bersikap manis pada nya.
"Sayang, kenapa kamu tidak memanggil ku sayang, memanggil ku dengan nama bukan nya itu tidak sopan."
"Aku belum biasa, aku memanggil mu seperti biasa saja mas," kata Alfi.
"Ya itu lebih baik," kata Riga.
Tak lama pancing mereka berdua bergoyang, menunjukkan ikan yang sedang memakan umpan mereka. Dengan cepat Riga langsung menarik pancing itu, mereka berdua sangat senang mendapatkan seekor ikan yang lumayan besar.
"Sudah cukup, sudah mau gelap juga, kamu bisa membuat api kan, kita barbeque an, aku akan mempersiapkan yang lainnya," kata Alfi.
"Iya aku akan mempersiapkan semua nya di sini."
__ADS_1
Alfi berjalan masuk ke dalam sambil membawa ikan itu, terlihat dengan jelas jika Alfi menahan sakit saat berjalan. Hal itu benar-benar membuat Riga merasa bersalah, kenapa junior nya sangat kasar pada datang baru nya.
Malam hari nya mereka berdua duduk berdua sambil membakar ikan hasil tangkap Riga tadi. Bukan hanya ikan makanan lainnya juga mereka bakat. Riga tidak terlalu suka dengan ikan, ia lebih memilih memakan daging dagingan.
"Sudah matang ikan nya," kata Riga.
"Sudah di angkat dulu, yang lainnya juga sebentar lagi matang," ucap Alfi.
Saat sedang asik-asiknya tiba-tiba handphone Alfi berbunyi, tertulis dengan jelas jika Daniel yang menghubungi nya.
"Siapa," tanya Riga.
"Jangan di angkat," ucap Riga.
"Tapi aku...
"Ingin membantah ku," tanya Riga sambil menaikan satu alis nya.
"Tidak," Alfi mematikan handphone nya.
Wajah bahagia Alfi berubah kesal karena Riga benar-benar sangat posesif pada nya, ia tidak tau bagaimana cara nya agar Riga tidak mengekang nya seperti ini, jujur ini sangat membuat nya tidak nyaman.
__ADS_1
Semua makanan yang mereka berdua masak sudah matang. Alfi juga sudah siap menghidangkan semua nya di depan Riga dan diri nya. Riga menarik Alfi ke pangkuan nya, ia sangat tau jika Alfi sedang marah pada nya. Alfi sudah mulai terbiasa dengan Riga yang suka memeluk nya secara tiba-tiba, ia hanya diam tanpa melirik ke belakang.
"Jangan marah," ucap Alfi.
"Kenapa kamu sangat posesif pada ku, aku juga ingin bebas."
"Waktu bebas mu sudah berakhir, ini bukan waktu nya untuk mu bebas, ingat Alfi kau sudah menikah dan memiliki suami. Kau tau kan kalau perintah suami adalah hal yang mutlak apalagi itu demi kebaikan hubungan kita. Aku sangat cemburuan, aku takut kelepasan jika aku sudah benar-benar marah pada mu, sebelum hal itu terjadi tolong jangan membuat aku marah."
"Iya aku paham, sudah ayo makan, nanti dingin tidak enak."
"Tidak enak lagi melihat wajah mu seperti itu, tersenyum cantik," kata Riga.
Perlahan Alfi mulai tersenyum, semua yang di katakan Riga langsung tertanam di otak nya, ia sangat tau jika Riga sudah mengamuk pasti akan sangat mengerikan, lebih baik tidak membuat singa mengamuk.
"Sayang, enak sekali," kata Riga.
"Kata kamu tidak suka ikan," ucap Alfi
"Tidak kali ini berbeda, ini benar-benar sangat enak," kata Riga.
"Hahaha memang seperti itu, ikan nya sangat segar. Apalagi makan nya bersama dengan ku," ucap Alfi.
__ADS_1