Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 87 S2


__ADS_3

"Tuan saya tidak mungkin merawat nya," ucap Melanie.


"Kenapa tidak mungkin, dia sudah tidak bisa apa apa sekarang. Kau tadi lihat kekacauan di depan tadi kan, itu semua karena diri nya. Datang datang malah membuat kacau," kata Ryan.


"Pos satpam hancur seperti itu. Bagaimana dengan kondisi nya? dia tidak sampai mengalami patak kaki atau apa," tanya Melanie.


"Tidak hanya terkilir dan cedera kecil lainnya. Dia hanya memerlukan istirahat penuh beberapa mungkin. Dan itu tugas mu merawat nya, mungkin seminggu atau dua minggu lah," ucap Ryan.


"Tuan, apakah mulut nya tidak cedera juga. Jujur aku tidak tahan dengan mulut nya. Jika di izinkan saya sumpel mulut nya dengan kain," kata Melanie.


"Hahaha tidak tidak, itu menjadi tantangan untuk mu. Semoga berjaya, sebelum masuk ketuk dulu, dia sedang naked," ucap Ryan dan berjalan pergi meninggalkan Melanie.


Sebenarnya Melanie tidak ingin mengambil pekerjaan ini, tetapi gaji yang din tawar kan sangat besar. Ia bisa memperbaiki rumah dan membeli sawa dengan gaji yang di tawarkan. Tapi pekerjaan yang di lakukan juga sangat berat. Merawat seseorang seperti Alvaro, selain diri nya mungkin tidak akan ada yang sanggup.


"Halo yah, bagaimana dengan anak ku? dia sudah bangun," tanya Riga.


Seperti setiap hari Riga akan menelpon Ryan untuk menanyakan kabar Alvaro. Jika belum mendengar kabar Alvaro, Riga tidak akan mungkin bisa tenang.


"Anak mu benar benar luar biasa. Baru satu hari di rumah ini, dia sudah mengacaukan semuanya. Mobil belasan M hancur, pagar rumah ku dan pos satpam juga sudah hancur. Aku tidak tau, sebulan di rumah ku dia mungkin sudah membuat aku bangkrut dan menghancurkan rumah ku."


Riga dan Alfi hanya tertawa mendengar hal itu. Selama ini itu lah yang mereka rasakan merawat Alvaro. Mereka berdua belum tau apa yang terjadi pada Alvaro.


"Ayah apakah ada merasa bersalah di wajah polos nya," tanya Alfi.


"Jangan kan wajah bersalah, dia malah marah marah pada ku. Memang anak kalian luar biasa. Oh iya karena kecelakaan itu dia mengalami luka dan harus beristirahat selama satu minggu atau dua minggu," ucap Ryan.


"Apa!! dia kecelakaan." Alfi dan Riga sama sama terkejut.


"Lah jadi yang menabrak pagar dan pos satpam mobil nya saja. Ya anak mu ada di dalam nya. Tapi kalian tenang saja, dia tak papa. Kalian berdua jangan ada yang datang," ucap Ryan.


"Ayah serius, dia benar-benar tidak papa kan, tak ada yang terluka sampai serius kan. Aku takut masa depan nya cacat," tanya Riga.


"Masa depan nya sudah cacat dengan Akhlak nya. Seperti nya memang yang di katakan Alfi ada benar nya juga. Kalian tenang saja Alvaro akan kembali ke rumah kalian menjadi Alvaro yang lebih baik."

__ADS_1


Sebelum mendapatkan banyak pertanyaan lagi Ryan memutuskan panggilan telepon itu.


"Sayang anak kita," ucap Riga.


"Kamu tenang saja lah, percaya dengan ayah ku," kata Alfi.


"Tapi siapa yang merawat nya, nanti dia jika ingin makan atau apa apa bagaimana?"


"Sayang dia di sana bersama kakek nya, tidak dengan orang lain. Sudah pasti ayahku mengurus nya dengan baik. Jangan memiliki hal yang tidak tidak ya," ucap Alfi.


Riga memang seperti ini, jika sudah menyangkut tentang Alvaro pasti pikiran nya kemana-mana. Padahal ia juga harus fokus bekerja di kantor.


Alvaro merasa sangat lapar tetapi belum ada makanan yang datang ke kamar nya. Ruang gerak nya juga sangat terbatas, ia sulit menggerakkan satu kakinya. Ke dua tangan nya masih bisa bergerak tetapi rasa nya sangat sakit sekali. Saat ini Alvaro hanya bisa diam meratapi nasib nya.


"Jika aku mati bagaimana ya, untung saja mobil itu memiliki tingkat keamanan tinggi. Sudah aku naik mobil nya cukup kencang lagi," ucap Alvaro.


Alvaro mendengar suara pintu terbuka. Ia cepat cepat melihat ke arah tubuh nya yang harus benar-benar tertutup oleh selimut. Alvaro masih dalam keadaan naked.


"Kau," ucap Alvaro saat melihat Melanie datang dengan membawa berbagai macam makanan.


"Kau!! kenapa kau datang ke sini, dimana kakek ku? aku tidak melihat wajah jelek ku," ucap Alvaro.


"Maaf mas Alvaro. Saya yang akan merawat anda saat anda sakit. Jadi jangan banyak berbicara agar anda cepat sembuh dan saya terbebas dari tugas mengesalkan ini," kata Melanie.


"Aku tidak mau di rawat oleh mu. Pergi sana," ucap Alvaro.


"Oh jadi tidak mau makan, ya sudah selamat siang." Melanie ingin pergi dari dalam sana.


"Tunggu aku lapar, bawa sini," ucap Alvaro. Dari pada ia mati kelaparan Alvaro memilih menurunkan sedikit harga diri nya.


"Bisa makan sendiri," tanya Melanie.


"Kau pikir aku lumpuh. Sana bereskan kamar ku," ucap Alvaro dengan nada yang sangat judes.

__ADS_1


"Sabar Melanie, manusia tidak berakhlak ini memang seperti ini, jangan sampai terpancing emosi oleh nya. Jangan sampai membuat mu melemparkan nya dari lantai tiga," batin nya.


Alvaro berusaha untuk makan sendiri, tetapi ia sangat kesulitan. Tangan nya tidak bisa menemukan sampai ke mulut nya. Tetapi karena Tia ingin menurunkan harga diri nya kembali, Alvaro tidak mau meminta bantuan Melanie.


Melanie sadar jika Alvaro kesulitan, tetapi ia tidak mau membantu Alvaro sampai Alvaro meminta bantuannya. Ia sadar jika ia yang menawarkan bantuan pasti mulut pedas Alvaro akan kembali menusuk ke hati nya.


Tetapi jika di lihat lihat Melanie merasa tidak tega juga. Karena memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dengan senyuman manis nya Melanie menawarkan bantuan.


"Mau aku bantu," tanya Melanie.


"Punya mata kan, sudah tau aku kesulitan masih saja bertanya," ucap Alvaro.


"Untung aku memiliki rasa pri-kehewanan yang tinggi," kata Melanie.


"Jadi kau menganggap ku hewan," tanya Alvaro.


"Jangan memikirkan nya, aku hanya asal berkata," ucap Melanie.


Melanie menyuapi Alvaro dengan penuh kelembutan. Jika boleh memilih ia ingin langsung menuangkan satu piring ini ke dalam mulut Alvaro.


"Buka mulut nya, jangan sampai aku pakai skop," ucap Melanie.


Dengan terpaksa Alvaro membuka mulut nya. Ia seperti sudi tidak sudi di suapi oleh Melanie.


"Enak kan, lebih baik berkata dari tadi jika ingin meminta bantuan. Turunkan ego mu," ucap Melanie.


"Kau bisa diam tidak, kau di bayar oleh kakek ku, bekerja dengan benar," kata Alvaro.


"Siap laksanakan tuan," ucap Melanie.


"Bauk apek apa si ini," kata Melanie.


"Kau mengejek ku karena aku belum mandi!!!"

__ADS_1


"Mas Alvaro apakah anda PMS setiap hari, kenapa selalu marah," ucap Melanie.


__ADS_2