
"Ya begitu lah tan, sebenarnya bukan manja si. Dia hanya bergantung pada seseorang, malas mengerjakan semua sendiri padahal dia bisa melakukan nya sendiri."
"Hahaha dia memang seperti itu, jangan heran dengan nya ya," ucap Alfi.
Alfi dan Melanie masuk ke dalam kamar Alvaro. Sudah seperti yang Alfi duga pasti Alvaro sedang bermanja pada daddy nya. Apalagi mereka berdua sudah beberapa hari tidak bertemu.
"Ih seperti anak kecil," batin Melanie.
"Apa mata mu seperti itu, tidak suka?"
"Al." Dengan cepat tangan Riga menutup mulut Alvaro, anak ini jika sudah berbicara terkadang susah untuk kontrol."
"Biasa saja, ya sudah kan sudah ada paman dan tante. Aku pulang dulu, aku sudah satu hari full tidak pulang," ucap Melanie.
"Iya sayang, jaga energi mu dengan baik, jangan ambil hati dengan apa yang Alvaro katakan."
"Tidak papa tante, sudah biasa. Iblis seperti nya sudah tidak heran," ucap Melanie.
"Setan," saut Alvaro.
"Alvaro." Walaupun sudah ia tutup mulut Alvaro masih japlak saja.
"Dia duluan," ucap Alvaro.
"Sampai jumpa lagi paman tante." Melanie pergi meninggalkan kamar itu.
"Sayang jangan begitu, mulut kamu terlalu pedas untuk nya. Kamu tidak takut dia sakit hati, nah kalau sudah sakit hati susah bahaya, bisa jadi kamu di racuni oleh nya dan kau meninggalkan, kamu mau mati cepat." Alfi ikut duduk di samping Alvaro.
"Dia dulu mah, mamah liat sendiri kan, aku dan wanita itu tidak cocok. Untuk apa kami menikah jika tidak menemukan kecocokan," ucap Alvaro.
"Kalian sangat cocok kok. Sudah minum ini ya, nanti perut mu akan terasa lebih enak."
"Iya mah," ucap Alvaro.
Malam hari nya. Alvaro dan Riga masih bersama. Jika sudah bertemu seperti ini, pasti mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua menonton televisi di kamar Riga. Sedangkan Alfi pergi bersama dengan Ryan untuk mempersiapkan pernikahan Alvaro Lusa.
"Daddy kalau kasur bergerak itu daddy sedang apa dengan mamah," tanya Alvaro.
"Sedang membuat adik untuk mu, tapi tidak jadi jadi," jawab Riga.
__ADS_1
"Oh yang seperti di mimpi ku kan. Itu kita masuk ke dalam sana," tanya Alvaro.
"Nah itu tau, aku menyesal tidak memasukan mu ke sekolah umum, masalah seperti ini saja kau tidak tau," jawab Riga.
"Apa enak nya, tapi di mimpi ku aku enak si," kata Alvaro.
"Rasanya akan jauh lebih enak sayang," ucap Riga.
"Apa yang perlu aku lakukan. Abis itu apa efek nya," tanya Alvaro.
"Efek nya kau bisa mempunyai seorang anak, dan pernikahan kalian akan selama nya," jawab Riga.
"Oh iya kenapa aku bodoh sekali. Ivan pernah menjelaskan nya pada ku, memang kita tidak boleh melakukan hal itu sampai menikah nanti pacar ku bisa hamil," ucap Alvaro.
Alvaro jadi ingat ketika ia membahas pernikahan dengan Melanie dan mereka berdua sepakat untuk tidak melakukan nya.
"Apa perlu daddy ajarkan," ucap Riga.
"Untuk apa, aku tidak ingin," kata Alvaro.
"Hahaha kau yakin tidak ingin, nanti kau tidak tau apa apa," ucap Riga.
"Yang paling utama apa burung mu sudah siap? dia normal kan," tanya Alvaro.
"Hahaha sejak kapan ulat kecil berubah menjadi anaconda," tanya Riga.
"Maksudnya daddy," tanya Alvaro.
"Ya dulu punya mu itu kecil seperti ulat, sekarang sudah tumbuh besar," jawab Riga.
"Dia bisa lebih besar dad, tunggu ya. Aku cukup memikirkan hal kotor saja," ucap Alvaro.
"Tu kan, sangat besar," ucap Alvaro.
Riga menarik selimut dan menutup nya, anak nya ini memang sangat terbuka apapun pada diri nya.
"Itu sudah cukup membuat istri mu terpuaskan," ucap Riga.
"Apa benar, hahaha aku sangat bangga," kata Alvaro.
__ADS_1
"Begini ya Alvaro. Lakukan dengan lembut, insting mu sebagai pria pasti tau bagaimana kau akan melakukan nya. Intinya jangan memaksakan sampai semuanya sama sama nyaman. Oke...."
"Apa si yang daddy katakan, sudah ah aku sedang tidak ingin membahas apa apa, aku sangat pusing."
"Karena menikah dengan Melanie," tanya Riga.
"Iya yah, dua wanita yang sangat luar biasa, aku tidak tahan dengan nya. Dia itu seperti harimau," ucap Alvaro.
"Sama seperti mamah mu dulu. Daddy juga seperti mu, sangat membenci mamah mu, daddy sampai berpikir kenapa mamah mu ada di dunia ini. Tetapi pada akhirnya daddy lah yang menyerah, daddy yang mengejar mamah mu sampai mamah mu mau menikah dengan daddy. Dan hasil dari pernikahan itu kau, pria tampan kebanggaan ku," kata Riga.
"Seperti dongeng saja," ucap Alvaro.
"Percaya tidak percaya memang itu yang terjadi, apa yang di dongeng kan," kata Riga.
Alvaro tidak tau bagaimana ia sangat mencintai Alfi. Sampai saat ini ia lah yang terus mengatakan cinta pada Alfi. Berbeda dengan Alvaro yang hampir tidak pernah mengatakan nya. Tetapi ia tau pasti Alfi juga sangat mencintai. Riga juga sangat berharap apa yang terjadi pada nya, juga akan terjadi pada anak nya.
"Kau mau taruhan dengan ku? aku yakin pasti kau nanti akan sangat mencintai Melanie.
"Daddy seperti nya sangat yakin sekali. Sedangkan aku saja yang menjalani semua nya tidak sama sekali."
"Kau belum melalui nya itu saja permasalahan nya jika kau sudah melalui semuanya pasti kau akan tau bagaimana indah nya pernikahan. Sudah cukup membahas pernikahan ya. Sekarang kita tidur saja, sudah malam."
"Dimana mamah," tanya Alvaro.
"Mamah mu sedang bersama ayah nya. Mereka pasti sedang membahas pernikahan mu dengan Melanie, nanti juga masuk atau dia tidur di kamar nya dulu" jawab Riga.
Alvaro mendekati Riga dan memeluk Riga dengan erat. Mungkin setelah menikah nanti ia tidak akan seperti ini lagi. Ia tidak bisa bermanja manja seperti ini lagi pada daddy nya.
Riga yakin pasti ia akan sangat merindukan sosok Alvaro, ketika Alvaro sudah menikah Alvaro sudah bukan miliknya lagi. Alvaro sudah milik istri nya, ia pasti akan sulit menghabiskan waktu bersama dengan Alvaro.
"Daddy punya anak lagi saja," ucap Alvaro.
"Itu sudah menjadi rencana daddy. Tapi mamah mu apa mau mempunyai anak lagi," tanya Riga.
"Pasti mau," jawab Alvaro.
"Kau sangat yakin al," ucap Riga.
"Sebenarnya tidak si, tapi kalau daddy sudah membuat nya, apa bisa menolak nya tidak kan? Selama ini mamah tidak hamil lagi kenapa?"
__ADS_1
"Pakai pil kb al," jawab Riga.
"Hahaha muda dad, ganti saja pil nya dengan Vitamin C. Pasti mamah tidak tau, nah kalau sudah hamil apa mamah bisa menolak nya."