
Hujan turun dengan sangat deras, beberapa tempat di rumah melani terlihat bocor. Alvaro dan Melanie sudah mengungsi di dalam kamar melanie yang memang cukup aman dari kebocoran. Alvaro mendengar suara rintikan air yang masuk ke dalam rumah.
"Itu bocor melanie," tanya alvaro.
"Iya itu bocor, sebelum kenal dengan kakakmu, uang dari pekerjaanku hanya untuk membiayai pengobatan adikku, tidak sempat untuk membetulkan rumah."
Ini pertama kali nya Melanie membuka kehidupan nya pada Alvaro, ia merasa ingin menceritakan semua nya saja pada Alvaro.
"Jadi kau baru kenal dengan kakek ku," tanya Alvaro.
"Iya tidak baru kenal juga sih, sudah hampir setengah tahun, tetapi kan aku hanya sebagai pengantar makan siang saja, walaupun gaji yang lebih tinggi dari pekerjaan ku di counter, tetap saja uangnya hanya pas-pasan untuk membiayai pengobatan adikku dan juga makan kami."
"Berarti suatu keberuntungan kau mengenalku, jika kau tidak mengenalku mungkin adikmu tidak bisa berobat sampai ke luar negeri. Dan rumahmu juga tidak akan diperbaiki, ayahmu juga tetap akan penjara. Sebenarnya perjodohan ini menguntungkan mu sekali Melanie," kata Alvaro.
Melanie tidak bisa mengelak apa yang di katakan Alvaro benar, karena Alvaro semua yang di katakan Alvaro terwujud.
"Meskipun kau sangat menjengkelkan, tapi apa yang kau katakan itu ada benarnya juga. Aku sangat beruntung mengenalmu, sangat beruntung terlibat dalam kejadian ini, meskipun hatiku terasa hancur, aku tidak memperdulikan. Yang terpenting saat ini keluargaku bahagia dan aku pun merasa bahagia melihat mereka bahagia."
"Hatimu hancur karena kau diputuskan oleh kekasihmu," tanya Alvaro. Sebenarnya ia sangat sensi jika membalas mantan Melanie, karena diri nya sendiri yang tidak mempunyai mantan.
"Hmmm sebenarnya sih bisa dikatakan iya bisa tidak."
Alvaro membuang nafas nya dengan perlahan, ia merasa seperti nya Melanie masih mengharapkan mantan nya, walaupun sudah tersakiti Melanie tetap tidak menyalahkan mantan nya.
"Dia bukan pria yang baik untukmu, walaupun kau selalu memuji nya. Jika dia pria yang baik untukmu, dia pasti akan tetap ada di sampingmu apapun yang terjadi dan apapun alasannya. Jika alasan nya dia ingin pergi jauh harus nya tetap menguatkan mu meskipun dia tidak rada di sampingmu mu," ucap Alvaro.
"Alvaro kau bijak juga ya, hahaha terimakasih untuk semuanya, kata kata mu sangat bermanfaat untuk ku," kata Melanie.
"Jangan hanya bermanfaat saja, pikirkan dengan baik," ucap Alvaro.
"Iya Alvaro terimakasih untuk kata kata motivasi nya," kata Melanie.
Mereka berdua sesaat saling menatap, Alvaro ingin kembali mencium bibir Melanie tetapi tiba-tiba petir menyambar dengan sangat kuat..
Ddjuuuaaarrrr...
__ADS_1
Alvaro dan melanie sangat terkejut, karena takut sekali dengan petir Alvaro langsung memeluk melani dengan sangat erat. Ada pengalaman buruk alvaro tentang petir. Jika mengingatnya iya bisa ketakutan sendiri.
"Hey kau kenapa? kau takut dengan petir," tanya Melanie sambil mengusap punggung Alvaro karena Alvaro terlihat sekali ketakutan.
"Aa.. Aku.. Sangat takut, jangan lepaskan itu." Wajah Alvaro masuk ke dalam sela sela dada Melanie.
Di rumah Riga cukup khawatir karena ia sangat tahu jika alvaro takut dengan petir. Ia takut trauma yang alvaro alami tiba-tiba datang kembali. Melanie pasti sangat kebingungan jika itu terjadi.
"Sayang bagaimana dengan alvaro," tanya Riga, wajahnya terlihat sekali jika ia khawatir.
"Jangan mengkhawatirkan nya dia bersama orang yang tepat, aku yakin melanie pasti bisa menenangkan jika trauma nya itu datang.
"Semoga saja. Sayang dingin dingin begini enak nya pengantin baru lagi."
"Sayang aku belum minum pil loh, lagi pula kamu sudah melepaskan benih kamu di sini kemarin, aku takut hamil lagi."
"Tidak akan, ayo sayang." Riga membawa Alfi ke dalam kamar.
Dan seperti nya memang Riga sudah benar-benar ingin mempunyai seorang anak lagi. Sama seperti ayah nya Riga mempunyai anak ke dua di usia yang tidak muda lagi. Tetapi benih nya masih sangat tokcer sekali.
"Aku takut," kata Alvaro sambil menaikan kepalanya.
"Sudah berhenti, hanya tinggal hujam saja," ucap Melanie.
"Kalau boleh tau kau kenapa sampai takut sekali dengan petir," tanya Melanie.
"Dulu saat usia ku masih 13 tahun, aku berada di suatu ruangan dengan beberapa orang. Saat itu hujan sangat deras dengan petir yang menyambar ke sana sini. Aku dulu tidak takut dengan petir, jadi aku biasa saja. Tetapi saat aku sedang berjalan di ruangan itu tiba-tiba kilat terang datang dengan cepat di sertai suara dentuman yang sangat keras. Kaki ku terasa seperti ke setrum dan terbakar, aku tidak bergerak sama sekali. Aku langsung terjatuh ke lantai, saat aku melihat di sekitar ku mereka semua sudah mati karena tersambar petir. Di ruangan itu hanya aku yang selamat, itu karena ada suatu barang di dekat ku yang menetralisir aliran petir itu." Alvaro menceritakan semuanya dengan tubuh yang gemetar, karena memang ia sangat trauma dengan semua itu.
"Sudah jangan takut, jangan kamu pikirkan lagi, semuanya akan baik-baik saja.
Melanie mengusap ngusap bahu alvaro agar alvaro lebih tenang, alvaro menceritakan semuanya dengan tubuh yang gemetaran, sepertinya memang iya sangat trauma dengan semua itu. Beberapa kecupan manis mendarat di kepala Alvaro. Hal itu melanie lakukan agar alvaro lebih tenang lagi.
"Lagi," ucap alvaro.
"Lagi apa nya," tanya melani.
__ADS_1
"Cium aku lagi tadi tidak berasa," jawab Alvaro.
"Lah itu mah mau kamu."
"Hahaha terima kasih sudah menenangkan ku, biasanya hanya daddy ku lah yang bisa menenangkan aku.
"Dasar anak Daddy," ucap melanie sambil sedikit menepuk tubuh Alvaro. '
"Biar saja, jika aku tidak anak daddy anak siapa lagi," kata Alvaro.
"Jadi kita nginep di sini."
"Jadi mau bagaimana lagi, aku tidak mau pulang hujan hujan seperti ini," ucap Alvaro.
"Ya sudah, aku juga harus mengemas sih barang-barang ku yang masih tertinggal."
"Sudah ditinggal saja nanti kita beli lagi di sana." Melanie ingin bangkit dari atas kasur tetapi Alvaro kembali menarik nya.
"Kau yang membelikan nya," ucap Melanie.
"Tenang saja kau seperti tidak tahu aku saya saja," kata Alvaro.
"Aku memang tidak tahu dirimu, aku sebelum mengenalmu 100%, kita baru beberapa hari berkenalan, dan langsung menikah."
''Yang aku tau kau itu menjengkelkan," ucap Melanie. Melanie.
"Itu saja yang kau ingat tentang diriku," kata Alvaro.
"Memang itu yang terjadi, kau sangat menjengkelkan dari awal kita bertemu, gaya mu sangat sombong."
"Tetapi tetap pada sisi baiknya juga kan?"
"Ya pasti ada tidak mungkin manusia memiliki sisi buruk saja," ucap Melanie.
"Apa sisi baik ku," tanya Alvaro.
__ADS_1
"Mana ku tau," jawab Melanie.